PIKIRAN RAKYAT

Minggu, 10 April 2005

440_garis_atas.gif (100 bytes)
Kemiskinan Budaya Dengar
Oleh IDI SUBANDY IBRAHIM

MENDENGARKAN adalah proses internalisasi yang mudah dilakukan tapi masih sering diabaikan dalam komunikasi insani. Dalam dunia psikologi, misalnya, perkembangan kemampuan mendengarkan dipandang sebagai bagian penting dari proses pendewasaan diri, pamatangan kapasitas kognisi, dan pemekaran ruang batin kita. Kemampuan mendengarkan di sini lebih dari sekadar memfungsikan indra pendengaran (telinga) dalam membedakan suara atau bunyi, tapi mendengarkan adalah upaya mengoptimalkan rasa dan kepekaan akan rangsangan yang diserap oleh telinga kita.

Sayangnya kini kemampuan kita dalam "mendengarkan" belum menjadi bagian dari modal yang dianggap penting dalam hubungan insani, perilaku politik, atau keprihatinan masyarakat kita. Bukankah masih sering kita mendengar dalam kehidupan sehari-hari, para orang tua mulai sulit menyediakan waktu untuk mendengarkan keluh kesah anaknya, sementara anak-anak tak mau peduli dengan nasihat orang tuanya. Para pendidik hanya mau didengar oleh muridnya, tapi para murid malah acuh tak acuh terhadap nasihat gurunya. Di berbagai forum memang digelar latihan praktis yang menjanjikan kemampuan untuk menjadi pembicara yang andal, tapi nyaris tak ada pendidikan agar kita menjadi pendengar yang baik.

Karena itu, tak berlebihan kalau kemudian bangsa kita menjadi bangsa yang miskin budaya dengar. Padahal, hampir semua kegagalan dalam berkomunikasi secara efektif dianggap berawal dari ketidakmampuan untuk membangun budaya dengar. Kegagalan dalam kebijakan pemerintah, misalnya, disebabkan ketidakmampuan pemerintah mendengarkan suara rakyatnya. Maka, tak heran niat baik pemerintah untuk memperbaiki kehidupan rakyat pun akhirnya tak mampu didengar rakyat secara meyakinkan. Padahal, kita punya ungkapan yang bagus, Seorang pembicara yang baik adalah pendengar yang baik. Sebaliknya, seorang pendengar yang baik adalah seorang pembicara yang baik. Karena, pendengar yang baik adalah seorang yang sanggup berempati terhadap kawan-bicaranya.

Dominasi "budaya lisan" dan "budaya visual" yang muncul lewat media elektronik semakin membuat kemampuan "budaya dengar" kita, selain "budaya baca" bangsa ini, menjadi semakin tumpul. Padahal, di tengah ingar-bingar kehidupan politik, kedigjayaan budaya citra dan sugesti bunyi dalam masyarakat konsumsi, yang kita butuhkan adalah kesanggupan untuk memekarkan kekayaan imajinasi. Langkah awal bisa dilakukan dengan menumbuhkan kebiasaan untuk mengurangi bicara dan lebih banyak mendengarkan. Bukankah yang dibutuhkan saat ini adalah kesanggupan untuk mendengarkan setiap persoalan secara tersirat lebih dari apa yang dinyatakan secara verbal atau visual.

Sayangnya, menurut Stephen Covey, penulis buku cukup laris, The 7 Habits of Highly Effective People (1990), selama ini kebanyakan orang mendengarkan tidak dengan maksud untuk memahami, mereka hanya mendengarkan dengan tujuan memberikan jawaban. Bahkan, tak jarang orang mendengarkan sekadar untuk memberi sanggahan terhadap apa yang didengarnya. Dalam dunia politik misalnya, masih banyak elite politik kita yang hanya suka berbicara dan maunya suaranya didengar oleh masyarakat. Tapi muncul kesan kuat mereka sendiri masih jarang mau mendengarkan suara hati nurani yang menjadi keprihatinan rakyat. Padahal dalam partisipasi politik juga terkandung makna kesiapan dan kesanggupan untuk mendengarkan aspirasi dan suara rakyat.

Seorang penyair sufistik seperti Jalaluddin Rumi jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita, "Karena, untuk berbicara orang harus lebih dulu mendengarkan. Belajarlah bicara dengan mendengarkan." Dalam psikologi komunikasi, kemampuan mendengarkan semacam inilah yang dikenal sebagai kemampuan "mendengar dengan empati". Mendengarkan dengan empati ("merasa terlibat") adalah peristiwa batin yang memungkinkan suara (voice) yang kita dengar menjadi bagian dari psikologi pembebasan. Mendengarkan dengan empati adalah mendengarkan yang tersirat, yang membuat kita sanggup menyelami setiap wacana yang tak berarti apa-apa di tingkat verbal atau visual, tapi di baliknya justru tersimpan gejolak batin manusia untuk bergerak ke arah perubahan. Dengan memperkaya budaya dengar berarti kita menyisakan secelah ruang imajinasi yang penting bagi daya hidup kebudayaan yang dari hari ke hari justru tengah mengalami polusi.*** 

Penulis peneliti sosial dan kebudayaan pop; penulis buku "Sirnanya Komunikasi Empatik: Krisis Budaya Komunikasi dalam Masyarakat Kontemporer" (2004).



Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
Children International
Would you give Hope to a Child in need?
 
� Click Here to meet a Girl
And Give Her Hope
� Click Here to meet a Boy
And Change His Life
Learn More


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke