Kemiskinan Budaya Dengar
Oleh IDI
SUBANDY IBRAHIM
MENDENGARKAN adalah proses internalisasi yang mudah dilakukan tapi
masih sering diabaikan dalam komunikasi insani. Dalam dunia psikologi,
misalnya, perkembangan kemampuan mendengarkan dipandang sebagai bagian
penting dari proses pendewasaan diri, pamatangan kapasitas kognisi, dan
pemekaran ruang batin kita. Kemampuan mendengarkan di sini lebih dari
sekadar memfungsikan indra pendengaran (telinga) dalam membedakan suara
atau bunyi, tapi mendengarkan adalah upaya mengoptimalkan rasa dan
kepekaan akan rangsangan yang diserap oleh telinga kita.
Sayangnya kini kemampuan kita dalam "mendengarkan" belum menjadi bagian
dari modal yang dianggap penting dalam hubungan insani, perilaku politik,
atau keprihatinan masyarakat kita. Bukankah masih sering kita mendengar
dalam kehidupan sehari-hari, para orang tua mulai sulit menyediakan waktu
untuk mendengarkan keluh kesah anaknya, sementara anak-anak tak mau peduli
dengan nasihat orang tuanya. Para pendidik hanya mau didengar oleh
muridnya, tapi para murid malah acuh tak acuh terhadap nasihat gurunya. Di
berbagai forum memang digelar latihan praktis yang menjanjikan kemampuan
untuk menjadi pembicara yang andal, tapi nyaris tak ada pendidikan agar
kita menjadi pendengar yang baik.
Karena itu, tak berlebihan kalau kemudian bangsa kita menjadi bangsa
yang miskin budaya dengar. Padahal, hampir semua kegagalan dalam
berkomunikasi secara efektif dianggap berawal dari ketidakmampuan untuk
membangun budaya dengar. Kegagalan dalam kebijakan pemerintah, misalnya,
disebabkan ketidakmampuan pemerintah mendengarkan suara rakyatnya. Maka,
tak heran niat baik pemerintah untuk memperbaiki kehidupan rakyat pun
akhirnya tak mampu didengar rakyat secara meyakinkan. Padahal, kita punya
ungkapan yang bagus, Seorang pembicara yang baik adalah pendengar yang
baik. Sebaliknya, seorang pendengar yang baik adalah seorang pembicara
yang baik. Karena, pendengar yang baik adalah seorang yang sanggup
berempati terhadap kawan-bicaranya.
Dominasi "budaya lisan" dan "budaya visual" yang muncul lewat media
elektronik semakin membuat kemampuan "budaya dengar" kita, selain "budaya
baca" bangsa ini, menjadi semakin tumpul. Padahal, di tengah ingar-bingar
kehidupan politik, kedigjayaan budaya citra dan sugesti bunyi dalam
masyarakat konsumsi, yang kita butuhkan adalah kesanggupan untuk
memekarkan kekayaan imajinasi. Langkah awal bisa dilakukan dengan
menumbuhkan kebiasaan untuk mengurangi bicara dan lebih banyak
mendengarkan. Bukankah yang dibutuhkan saat ini adalah kesanggupan untuk
mendengarkan setiap persoalan secara tersirat lebih dari apa yang
dinyatakan secara verbal atau visual.
Sayangnya, menurut Stephen Covey, penulis buku cukup laris, The 7
Habits of Highly Effective People (1990), selama ini kebanyakan orang
mendengarkan tidak dengan maksud untuk memahami, mereka hanya mendengarkan
dengan tujuan memberikan jawaban. Bahkan, tak jarang orang mendengarkan
sekadar untuk memberi sanggahan terhadap apa yang didengarnya. Dalam dunia
politik misalnya, masih banyak elite politik kita yang hanya suka
berbicara dan maunya suaranya didengar oleh masyarakat. Tapi muncul kesan
kuat mereka sendiri masih jarang mau mendengarkan suara hati nurani yang
menjadi keprihatinan rakyat. Padahal dalam partisipasi politik juga
terkandung makna kesiapan dan kesanggupan untuk mendengarkan aspirasi dan
suara rakyat.
Seorang penyair sufistik seperti Jalaluddin Rumi jauh-jauh hari sudah
mengingatkan kita, "Karena, untuk berbicara orang harus lebih dulu
mendengarkan. Belajarlah bicara dengan mendengarkan." Dalam psikologi
komunikasi, kemampuan mendengarkan semacam inilah yang dikenal sebagai
kemampuan "mendengar dengan empati". Mendengarkan dengan empati ("merasa
terlibat") adalah peristiwa batin yang memungkinkan suara (voice)
yang kita dengar menjadi bagian dari psikologi pembebasan. Mendengarkan
dengan empati adalah mendengarkan yang tersirat, yang membuat kita sanggup
menyelami setiap wacana yang tak berarti apa-apa di tingkat verbal atau
visual, tapi di baliknya justru tersimpan gejolak batin manusia untuk
bergerak ke arah perubahan. Dengan memperkaya budaya dengar berarti kita
menyisakan secelah ruang imajinasi yang penting bagi daya hidup kebudayaan
yang dari hari ke hari justru tengah mengalami polusi.***
Penulis peneliti sosial dan kebudayaan pop; penulis buku
"Sirnanya Komunikasi Empatik: Krisis Budaya Komunikasi dalam Masyarakat
Kontemporer"
(2004).