**** Yang begitu itu kebanyakan umat awam yang kulturnya didominasi oleh Tionghoa totok, yang pola pikirnya masih eksklusif (tidak peduli), bahkan dengan sesama Tionghoa sendiri, apalagi dengan umat dari golongan lain. Ini bukan karena ajaran. Saya pernah bawa seorang teman (new member, sayang tidak ada program "member get member" kaya memenangkan jiwanya domba yang hilang gitu) ke suatu seminar Buddhist, saya kenalkan ke teman-2 Buddhist lain. Ya begitulah, teman-2 Buddhist lain biarkan teman saya itu sendiri, maunya hallo-2 sama saya aja. Padahal maksud saya supaya teman saya itu tidak sendiri/kesepian. Bagaimana caranya supaya umat-2 awam ini jadi ramah / peduli ? Saya sendiri bisa "peduli" setelah belajar dari lingkungan gereja, juga baksos.  Kalau saya ke gereja, orang2 itu menyambut, sedemikian hingga psikologi saya mengatakan bahwa saya diterima di lingkungan itu. (Kalau perlu, umat Buddhist bisa ajak sesama teman Buddhist ke gereja untuk RASAKAN bedanya dipedulikan / diterima oleh sesama manusia. Ini sudah saya lontarkan ke teman dekat yang susah menangkap omongan saya, tinggal prakteknya). Jangan kaget kalau mayoritas akan kekeuh atas kecuekan ini, sebab selama 32 tahun cuekisme sudah mendominasi lingkungan dan dirinya.
 
Ini bukan ajaran Buddhist, tapi penyakit tidak peduli masyarakat yang sikap mentalnya dikebiri selama 32 tahun.
 
 
Selain 32 tahun dikebiri, juga akibat penjajahan. Karenanya kita bisa mengerti bukan hanya Buddhis Indonesia yg cuek, tetapi juga Buddhis Srilanka.
Tetapi kalau Thailand yg tidak pernah dijajah, kok juga cuek? Nanti kita tanyakan sama Bhante Mettanando saja ya?
 
Salam,
Wulandari


Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke