Makan dengan Hening

 

Kita makan dalam hening adalah agar dapat melihat betapa berharganya makanan serta memandang para sahabat yang sedang duduk makan bersama kita. Memandang dan melihat tersebut akan bertambah dalam kala kita tahu bagaimana makan dan bermeditasi di saat yang bersamaan. Meditasi jenis ini tidaklah melelahkan, karena tidak menguras habis energi otak ataupun membuat sistem pencernaan kita lelah. Sebaliknya, ia membersihkan diri kita, memberikan kita kesehatan yang lebih baik serta kedamaian dan suka cita yang lebih besar. Keheningan itulah yang membuat meditasi kita berhasil. Makanan yang sedang kita makan memberi kita kesempatan tuk melihat betapa dekatnya hubungan kita dengan alam semesta, dengan planet Bumi,  serta dengan makhluk-makhluk lainnya,  yang sama spesies maupun yang berlainan. Setiap sayuran, setiap tetes kecap, setiap potong tahu mengandung kehidupan dari seluruh planet Bumi dan Matahari. Dari setiap suap kecil makanan, bisa kita lihat makna dan nilai kehidupan kita dan kita juga bisa lihat betapa berharganya masing-masing suap.

 

Kita akan menyadari kita sedang duduk semeja dengan orang-orang lainnya dan kita mempunyai kesempatan untuk melihat mereka dengan jelas, dalam cara yang sangat-sangat nyata. Kita berkesempatan tuk tersenyum kepada mereka�senyum persahabatan sejati yang mengandung hakikat komunikasi yang dalam. Gambaran-gambaran yang terkandung dalam syair-syair berikut semuanya nyata: kita harus dapat melihat gambaran-gambaran tersebut dan menggunakannya untuk melihat segala sesuatu yang ada secara mendalam. Mungkin akan terasa sedikit ganjil atau tidak alami saat pertama kali kita makan dalam keheningan. Namun setelah kita terbiasa makan dalam hening, akan kita lihat bahwa makan dalam hening dapat membawakan kita banyak kebahagiaan, kedamaian, dan insight.

 

1.    Lima Perenungan

       

        Syair-syair ini dibaca dengan keras oleh satu orang menjelang saat makan.

 

        Makanan ini adalah pemberian seluruh alam semesta�bumi, langit, dan banyak kerja keras.

        Semoga kami hidup dalam cara yang membuat kami layak untuk menerimanya.

        Semoga kami dapat merubah keadaan-keadaan pikiran kami yang tidak bajik, terutama keserakahan.

        Semoga kami hanya memakan makanan yang menunjang kesehatan kami serta mencegah penyakit.

        Kami terima makanan ini agar kami dapat merealisasi jalur praktik.

 

2.   Mengangkat Piring Kosong

       

        Kata �piring� dapat diganti dengan �mangkuk�. Syair ini membantu kita merenungkan kondisi kelaparan di dunia ini.

 

       

 

        Piringku, kosong kini,

        akan segera diisi

        makanan yang berharga.

 

3.   Melihat Piring yang Penuh  Makanan

       

        Syair ini membantu kita merenungkan asal mula yang saling bergantungan (Paticca Samuppada), menggunakan gambaran tentang makanan yang kita santap. Ia membantu kita melihat betapa hidup kita tergantung pada kehidupan semua spesies lainnya.

 

        Dalam makanan ini,

        kulihat dengan jelas

        kehadiran seluruh alam semesta

        yang menyokong keberadaanku.

 

4.   Duduk

 

        Syair ini adalah  sebuah janji bahwa kita akan menjaga perhatian penuh kita selama makan.

 

        Duduk di sini

        bagaikan duduk di bawah pohon Bodhi.

        Tubuhku adalah perhatian penuh itu sendiri,

        yang  sepenuhnya bebas dari gangguan.

 

5.   Memperhatikan Piring berisi Makanan sebelum Suap Pertama

 

        Syair ini membantu kita menumbuhkembangkan perasaan cinta kasih dan kasih sayang kita terhadap makhluk-makhluk yang belum  seberuntung kita.

 

        Banyak makhluk yang tengah berjuang untuk mendapatkan makanan hari ini.

        Aku berdoa semoga mereka semua memperoleh cukup untuk makan.

 

6.   Merenungkan Makananmu

       

        Syair ini membantu kita melihat kerja kaum tani serta puluhan ribu anak yang mati setiap hari karena kekurangan makanan.

 

        Piring berisi makanan ini,

        yang begitu wangi dan merangsang selera,

        juga mengandung begitu banyak penderitaan.

 

7.   Empat Suap Pertama

 

        Syair ini dapat dibacakan secara perlahan sambil mengunyah empat suap pertama. Ia membantu kita mengingat empat pikiran tanpa batas: cinta kasih (metta), belas kasih (karuna), suka cita  (mudita), dan keseimbangan batin (upekkha). Empat tempat-kediaman nan indah untuk pikiran kita ini adalah empat perbuatan agung para Buddha dan para Bodhisattva.

 

        Dengan rasa pertama, aku berjanji tuk mempersembahkan suka cita.

        Dengan rasa kedua, aku berjanji tuk meringankan penderitaan makhluk-makhluk lain.

        Dengan rasa ketiga, aku berjanji tuk melihat suka cita pihak-pihak lain sebagai suka citaku.

        Dengan rasa keempat, aku berjanji tuk mempelajari jalur ketidakmelekatan dan keseimbangan batin.

 

8.   Memperhatikan Piring Seusai Makan

       

        Syair ini mengingatkan kita akan Empat Rasa Syukur�kepada orang tua, para guru, para sahabat, dan semua makhluk di dunia binatang, tumbuh-tumbuhan, dan mineral.

 

        Piring ini telah kosong.

        Terpuaskan sudah rasa laparku.

        Aku berjanji untuk hidup

        untuk manfaat semua makhluk.

 

9.   Memegang Secangkir Teh

       

        Syair ini membantu kita kembali pada kekinian dan melihat kehadiran segala sesuatu yang ada di sekitar kita, di dunia sekitar kita, serta segala detil kecil kehidupan yang esensial pada saat ini.

 

        Cangkir teh dalam kedua tanganku ini�

        Perhatian penuh yang dipertahankan sepenuhnya!

        Pikiran dan tubuhku berdiam

        di sini dan saat ini juga.

 

Sumber: Plum Village

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke