--- Sungguh prihatin sekali atas munculnya perdebatan yang mengarah ke saling mencela mengenai seputar kelahiran sang Buddha yang dianggap sbg mitos. Awalnya saya kira topik yang diposting bro.Jimmy ini akan memberi manfaat, namun ternyata malah mendatangkan efek yang malah membuat kita menggeleng2kan kepala. Perlu diketahui agama Buddha adalah agama yang telah mengenyam masa masa emas maupun masa suram. Timbul tenggelam, menghadapi berbagai tantangan jaman, berhadapan dengan berbagai ideologi, dan hingga masa kini, agama Buddha masih menjadi salah satu agama besar dunia. 2500 tahun bukan masa yang singkat. Sang pendiri- Siddhartha Gautama �V disanjung sekaligus dicela, selama 2500 tahun. Hingga kini pun masih begitu, dan akan datang tetap saja begitu. Dulu, Sejumlah orang yang dilahirkan, tumbuh, dewasa, dan kemudian melihat ajaran Buddha lalu mencelanya, lalu orang itu tua dan mati. Besok besok ada lagi yang lahir tumbuh dewasa dan melihat ajaran Buddha dan mencelanya, menghinanya juga, lalu orang itu juga tua dan mati. Demikian juga mereka yang menyanjungnya, lahir tua sakit dan mati juga. Intinya kita kita ini tidak berbeda dengan orang orang masa lalu, masa kini, masa mendatang. Kita dilibatkan di dalam nya namun kita tetap saja menjadi diri kita yang bodoh, sombong, fanatik , dogmatis, yang tak terhindar dari lahir tua sakit dan mati. Kita yang yakin dengan Buddha, merasa bangga, fanatik, sok eksklusif, merasa lebih superior dari para penganut ajaran lain. Padahal sang Buddha memberi pesan jangan merasa seperti itu, karena akan menghalangi kita mengembangkan kesucian batin. Kita yang benci dengan semua ikon2 ttg Buddha dan umatnya, merasa syukur tidak menjadi seorang Buddhis, merasa lebih pintar, merasa lebih hebat, merasa bangga berhasil merendahkan orang lain, merendahkan guru Buddha, ini itu, dll. Padahal ajaran baik dari guru bijak manapun juga tidak menyetujui orang dengan sikap seperti itu.
Ajaran Buddha adalah bertujuan mentransformasikan pikiran yang buruk menjadi baik, sehingga efek dari itu akan memberi manfaat kehidupan yang baik di masa sekarang maupun mendatang, dan pada tingkatan paling hakiki adalah membimbing kita menuju kedamaian dan kebahagiaan tertinggi. Jika ternyata topik dari sebuah diskusi menyangkut ajaran Buddha bukannya membawa ke arah kedamaian dan kebahagiaan, malah memancing perdebatan dan dll yang bersifat negatif, membawa ke arah kemerosotan, maka sebaiknya topik itu tidak layak ditampilkan lagi. Apa manfaatnya? toh jika mau terus dibahas, apakah ada titik akhirnya? Seharusnya juga orang yang mem-posting topik ini harus secara aktif dalam diskusi itu, jangan hanya memposting dan membiarkan orang lain berargument begitu saja seperti angin berlalu. Berikut pendapat saya tentang postingan beberapa orang: Sdri. Wulandari yang mendambakan sosok Buddha yang manusiawi, humanis, maka dia bisa temukan manfaatnya disitu. Memang Buddha adalah manusia. Beliau juga makan dan minum seperti kita, Sutta telah mencatatnya demikian. Lalu apa pesan dari sosok Buddha yang seperti itu? Sang Buddha memperlihatkan sosok yang realistis. Pertama, sebagai manusia, beliau memberi contoh diri beliau bahwa kesempatan untuk mencapai pencerahan itu ada. Mengapa beliau yang selalu disanjung sebagai guru para dewa dan manusia tampil sakit seperti manusia biasa? Hal ini untuk memperlihatkan tentang hukum ketidak kekalan berlaku secara universal. Jika beliau tampil sehat terus, maka para siswa akan terperosot dalam pandangan sesat dan hanya terpesona utk mengejar tubuh Vajra seperti yang Beliau miliki. Setiap pola tingkah laku Buddha selalu ada pesan dharma di dalamnya. Sosok Buddha yang begitu bersahaja seperti manusia biasa sebenarnya adalah perwujudan dari seorang ��pendekar sejati��. Biasanya pendekar kelas kampung yang mentang2 sudah tahu 5 jurus sudah belaga aksi sana pamer sini, tapi seorang pendekar sejati yang ilmunya telah sempurna justru tampil begitu sederhana dan bersahaja. Maka adalah wajar jika dalam kitab suci ada catatan tentang Buddha yang bisa jatuh sakit, dll. Jika anda membaca Vimalakirti Nirdesa Sutra maka anda akan tahu bahwa seorang Buddha bukanlah seperti apa yang anda bayangkan. Sdr. Kongming yang tidak begitu setuju dengan ulasan bhante Mettanando, memiliki gambaran Buddha secara lebih istimewa. Ada benarnya juga. Walaupun Buddha terlahir sebagai manusia, tidak berarti Buddha disamakan dengan semua "manusia biasa". Jika cara lahir sang Buddha harus disamakan dengan hukum normal seperti umumnya manusia biasa, maka tentu saja dia tidak akan menjadi Buddha. Sudah merupakan hukum alam juga bahwa seorang calon Buddha harus terlahir secara istimewa. Walaupun tampak tidak ilmiah, namun bukan berarti mustahil. Hal yang tampak tidak ilmiah namun nyata masih banyak hingga kini, tidak perlu saya sebut satu persatu. Jika bersikeras untuk mengatakan bahwa hal yang bersifat ilmiah sajalah yang akan diterima, maka bukankah lebih tepat menjadikan kasus tentang kejadian ��luar biasa�� pada diri Buddha merupakan kasus gantung yang perlu diselidiki lebih lanjut, tidak seharusnya membuat kesimpulan bahwa Buddha sebenarnya tidaklah bisa begini dan begitu. Mengenai perdebatan sdr. Huangdi dan kawan2, saya rasa mereka terlalu banyak melibatkan perasaan/emosi dari pada akal budi. Marilah kita berdiskusi secara sehat, jika ada yang tidak berkenan, mari ungkapkan dimana letak kesalahannya, berikan alasannya, berikan solusinya, berbicaralah secara jujur dan tulus, bukan saling memamerkan kecendikiaan, bukan saling menutupi kesalahan. Seperti ungkapan master Cingkhhong, ��pandanglah orang lain yang benar, kita yang salah.�� Dengan demikian maka dunia ini akan damai karena tidak ada lagi yang saling menyalahkan. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/UwRTUD/UOnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
