Bagi mereka yang setuju dengan tulisan bhante Mettanando, maka 
syukurlah mereka tetap yakin dengan dhamma dan akan terus maju lagi. 
Bagi mereka yang menjadi ragu dan bingung, maka semoga tulisan ini 
dapat menguatkan mereka lagi. 

Yang terhormat, bhante Mettanando 
Berikut tanggapan saya atas tulisan yang berjudul: bagaimana sang 
Buddha wafat : 

Analisa yang tergolong berani. Tapi bagaimanapun itu tetap saja 
sebuah spekulasi, bukan? Apa yang sesungguhnya terjadi kita tidak 
tahu. Namun bhante telah melangkah terlalu jauh dengan analisisnya 
yang mengatakan bahwa para penulis kitab suci  telah menutupi 
kejadian sebenarnya, dan mengatakan merupakan hasil pergumulan 
politik dalam komunitas dan nada2 yang seperti meragukan kebenaran 
Sutta.   Adanya interpretasi demikian akan sangat tidak adil bagi 
para penulis kitab suci.  Secara tidak langsung, pernyataan tersebut 
telah menuding para penulis kitab suci telah bersikap munafik, 
melanggar sila, memiliki pandangan sesat, mementingkan ordo, berjiwa 
picik. Memang perlu diakui bahwa komunitas Buddhis pada masa itu 
bukan tidak ada orang yang ��rusak��, namun perlu diingat bahwa proses 
terbentuknya kitab suci itu melalui mekanisme pemilihan anggota ordo 
yang dilakukan secara ketat. Mari kita analisa dari peristiwa 
konsili I. Untuk dapat menjadi seorang wakil konsili, syarat 
utamanya adalah orang tersebut harus telah mencapai tingkat kesucian 
arahat. Saat itu Sangha memutuskan untuk memilih 500 orang anggota 
untuk mengikuti konsili.   Salah satu tokoh sentral konsili Buddhis 
selain Mahakassapa adalah Ananda. Ananda adalah tokoh paling penting 
dalam tubuh Sangha. Beliau adalah adik sepupu dari sang Buddha. Juga 
dikenal sebagai pembantu terdekat sang Buddha. Secara sepintas, 
komunitas lain akan memandang Ananda sebagai orang yang paling 
��disayangi�� oleh sang Buddha. Secara sepintas juga mungkin orang 
akan menilai Ananda memiliki ��kuasa/power�� dalam tubuh Sangha. Namun 
kenyataan apa yang kita lihat setelah mangkatnya sang Buddha? 
Ternyata Ananda ��ditegur�� oleh Sangha karena tidak menjalankan 
tugasnya untuk meminta sang Buddha ��menetap di dunia ini��. Kemudian 
saat akan diadakan konsili, ternyata Ananda tidak mendapatkan 
tempatnya. Lihatlah, betapa tidak berdayanya Ananda yang meskipun 
seolah olah sangat penting kedudukannya dalam Sangha, ternyata 
ditolak mentah mentah untuk mengikuti konsili hanya karena beliau 
belum menjadi seorang Arahat. Kasus Ananda adalah kasus yang tidak 
boleh kita pandang sepele. Dalam hal ini ada pesan penting yang 
ingin diperlihatkan dalam proses terbentuknya wejangan suci sang 
Buddha. Bahwa segala hal yang menyangkut kepentingan politik  atau 
semacamnya sangat dilarang. Kasus Ananda adalah contoh paling 
jelas.   
Ananda merasa terkucilkan, dan disinilah juga titik balik pandangan 
dia selama menjadi bhikkhu. Beliau sadar bahwa mengetahui semua 
wejangan sang Buddha tidak akan berguna tanpa merealisasikannya. 
Beliau akhirnya berusaha keras dan mencapai Arahat, dan  kemudian  
baru diperkenankan mengikuti konsili. 

Jika konsili dilakukan secara demikian ketat, maka otoritas kitab 
suci yang terbentuk dari hasil konsili tersebut menjadi signifikan. 
(Kitab suci berbentuk dari lisan hingga masa bentuk  tulisan 
dipandang penulis sebagai proses transisi yang sah)
Di sini tidak ada maksud ingin mengatakan bahwa pernyataan 
pernyataan bhante Mettanando yang mendiskreditkan komunitas Sangha 
masa lalu tidak diperkenankan. Tetapi pernyataan2 itu sepertinya 
dilontarkan tanpa mempertimbangkan latar belakang sejarah konsili 
yang sangat penting. Adalah sangat besar relavansi antara proses 
konsili dan isi kitab suci. Jika sebuah kitab suci yang terbentuk 
dari sebuah hasil penulisan yang tidak memiliki latar belakang yang 
jelas, mungkin kita boleh bersikap skeptis. Mengenai apa isi dari 
kitab suci itu, ini sangat tergantung pada interpretasi masing 
masing orang. Secara prinsipil, sebuah ungkapan yang bijak dan 
bermanfaat, boleh saja kita memperlakukannya sebagai kitab suci. 
Bahkan seorang perampok yang tiba tiba mengucapkan satu bait yang 
bijak dan inspirasional boleh saja kita anggap dia telah melontarkan 
kata2 suci. Di sini, tokoh, peristiwa dan setting backgroundnya 
menjadi tidak penting lagi. Dalam kitab suci Buddha, selain 
menyajikan ungkapan2 bijak yang prinsipil, peristiwa, setting 
background dan kondisi sang tokoh pun menduduki posisi penting. 
Adalah wajar jika kitab suci menyajikan semuanya ini dalam proporsi 
yang sempurna, yang inspiratif. Namun seandainya saat memberi 
interpretasi pada peristiwa dalam kitab suci terdapat cara 
interpretasi yang bernada discredit, skeptis, atau sejenisnya maka 
seluruh rangkaian peristiwa, background bahkan ungkapan2 bijaknya 
menjadi luluh lantak. Orang tidak lagi memandangnya sebagai sebuah 
kitab yang inspiratif. Sekali ada nada miring dalam interpretasi, 
maka semua ungkapan dalam kitab itu tidak lagi dipandang secara 
istimewa. Ibarat seorang suci yang kita kultuskan, sekali terdengar 
ada nada miring dalam dirinya, segala ungkapan bijaknya tidak kita 
pandang lagi. Berbeda dengan tokoh duniawi lain seperti Einstein. 
Orang bisa kagum dengan kejeniusan  Einstein walaupun beliau banyak 
melakukan kesalahan lain misalnya.Tetapi ingat, orang tidak mau 
menjadi sama dengan Einstein.  Tetapi jika orang melihat sedikit 
saja ��kelemahan�� seorang tokoh yang akan menjadi panutan seumur 
hidupnya, maka tingkat keyakinan orang akan berkurang. Orang menjadi 
pengikut Buddha karena mau sama seperti Buddha. Oleh sebab itu 
mengapa kitab suci muncul dalam bentuk yang begitu ��indah, sempurna, 
inspiratif, suci��, ini karena pentingnya agar orang terinspirasi, 
tak tergoyahkan. Tapi jangan dipandang sebagai bentuk bujukan yang 
munafik, karena kitab suci Buddhis dilandaskan oleh Sila, Samadhi 
dan panna. Jika produk komersial yang kita jual, segala nada 
��positif�� dari perusahaan itu tentu saja adalah sebuah bujukan demi 
kepentingan perusahaan. Tapi Buddhisme adalah sebuah jalan hidup. 
Landasan dari Buddhisme selain tersebut di atas juga dilandaskan 
pada sang Buddha pribadi dari ajaran ajarannya dan kerelaannya 
meninggalkan keluarga demi manfaat orang lain. Jadi betapa 
pentingnya landasan itu.  
         

Selanjutnya:
Tentang proses sakit yang dialami sang Buddha, bhante Mettanando  
telah menanalisanya secara wajar dari segi teknis seperti setelah 
makan makanan tersebut timbul rasa sakit, pendarahan, haus dll. 
Tetapi dari segi proses kesadaran yang ada pada diri sang Buddha, 
bhante tampak lebih banyak meletakkan posisi sang Buddha dalam 
konteks ��orang awam yang tidak pernah berlatih��. Sehingga terkesan  
tulisan itu ingin menggambarkan betapa rapuhnya sang ��manusia 
Buddha��, betapa lemahnya dia, betapa tidak berdayanya dia. 
Bagaimanapun hebatnya seseorang tidak akan luput dari sakit tua dan 
mati, seorang Buddha sekalipun. Sesungguhnya memang demikianlah 
ajaran dari sang Buddha sendiri.  Jika sang Buddha adalah orang 
biasa seperti kita, maka wajar saja analisa seperti itu. 
Tetapi perlu juga diingat bahwa proses kematian seorang manusia 
biasa tidak sama dengan proses seorang manusia yang sudah kenyang 
dgn hidup dalam pertapaan dan sikap perhatian penuh. Fenomena yang 
diluar jangkauan pemahaman medis masih sering ditemukan hingga 
sekarang. Tidak mungkin kita secara mentah mentah mensejajarkan 
orang biasa dengan orang yang hidup dalam pertapaan. 
  
Tapi tampaknya analisa  bhante Mettanando  telah banyak terkuras 
dalam perhatiannya pada kondisi perut sang Buddha. Penggambaran yang 
diberikan bhante telah menimbulkan kesan sang Buddha  tidak seperti 
wujud keperkasaan seorang Buddha.  Membacanya seolah olah timbul 
pikiran ��ah�KBuddha begitu rapuhnya�Kbagaimana bisa menjadi seorang 
��penakluk diri sendiri��..�� 
Timbul pertanyaan dalam pikiran saya: Jika benar seperti apa yang 
digambarkan   bhante, maka para pengagum, penyembah Buddha, para 
siswa mungkin akan pergi meninggalkan sang guru saat itu. Mereka 
mungkin akan berpikir ��seorang Buddha kenapa bisa shock?? Sakit tak 
tertahankan??��  Bukan demikian maka beliau tidak sanggup 
berkonsentrasi? tetap dalam kesadaran eling? Memiliki perhatian 
penuh? 

 
Tetapi jika kita lihat di kitab suci tercatat bahwa setelah sang 
Buddha wafat dan dikremasi, terjadi perebutan relik beliau. Ini 
moment yang sangat penting. Yang merebut adalah para penguasa. Di 
sinilah letak betapa Buddha saat itu adalah sosok yang sangat 
disegani. Mengapa? Tentu ada latar belakang yang sangat berpengaruh 
dan ada sesuatu yang memang sangat luar biasa pada diriNya. Menurut 
kitab suci, sang Buddha  telah mengumumkan kemangkatannya 3 bulan 
sebelumnya. Ini pengumuman yang sangat penting, karena jarang ada 
yang sanggup mengatakan tentang  kapan kematian seseorang. Seorang 
dokter bahkan tidak sanggup.  Sayang bhante Mettanando telah 
mengabaikan hal hal ini. Tetapi saya rasa bhante terlalu berfokus 
pada proses normal kematian dari sudut pandang medis dan tidak mau 
melibatkan kejadian metafisik seperti yang sering ada dalam setiap 
wacana agama, padahal dunia medis sendiri masih belum menemukan 
jawaban konkrit  tentang hubungan antara kesadaran dan fisik apalagi 
kejadian metafisik.  Analisa yang hanya dipacu dari sudut pandang 
medis masih memiliki banyak kekurangannya.     

Saya percaya sang Buddha mengetahui kapan beliau akan mangkat, 
karena juga terdapat catatan2 kuno dari para penganut Buddha 
Mahayana tentang para sesepuh yang sanggup mengumumkan kapan mereka 
akan mangkat secara akurat (hingga pada jam sekian).
Tentang persembahan makanan hingga menimbulkan rasa sakit dan wafat, 
hal ini sebenarnya lebih bisa dianggap sebagai proses yang telah 
diperhitungkan oleh sang Buddha dengan diacu dari teori yang sudah 
banyak Beliau paparkan. Dengan terhapusnya kilesa melalui pelatihan 
sila, Samadhi dan panna, berbagai jenis kemampuan batin bisa 
dikembangkan.   Jika seorang praktisi sejati seperti sang Buddha 
tidak sanggup menahan rasa sakit,  tidak tahu ada makanan yang 
beliau makan akan membuatnya kesakitan, dll  maka tentu sia sia saja 
ajaran yang beliau berikan selama 40 tahun lebih dan terkesan 
mubazir. Lebih relevan jika mengatakan beliau terserang sakit namun 
dengan pikiran sadar beliau menerimanya dengan perhatian penuh,  
dimana beliau sanggup menghadapi rasa sakit secara berbeda 
dibandingkan dengan orang awam yang tidak pernah berlatih.   Tetapi 
sepanjang tulisan bhante Mettanando, malah memberi kesan sang Buddha 
bagaikan orang tua yang sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit. 
Dengan deskripsi seperti itu maka timbul gambaran lain bahwa beliau 
sudah tidak mampu memfokuskan pikirannya pada perhatian penuh 
seperti yang dilakukan para meditator. Bukankah sangat bertolak 
belakang dengan ajaran Nya sendiri dimana perhatian penuh adalah 
sarana berlatih yang sangat penting bagi seorang praktisi? Bagaimana 
seseorang dengan pikiran kacau dapat memasuki Nibbana? Bahkan 
pembuat kebajikan yang menjelang kematian saja  sangat dianjurkan 
untuk mengembangkan pikiran positif agar tidak jatuh dalam alam 
rendah.   
Jadi proses kemangkatan sang Buddha sesungguhnya bukan diluar dugaan 
seperti apa yang digambarkan bhante Mettanando. Bhante melangkah 
lebih jauh lagi mengatakan sang Buddha ingin mangkat di kota 
kelahirannya namun tidak sanggup berjalan terlalu jauh, ini sudah 
bertolak belakang dengan sifat sang Buddha yang menerima kondisi apa 
adanya. Bahkan anak istri sanggup Beliau tinggalkan dan hidup 
sendiri di hutan, untuk apa beliau bela belain  mau mangkat di kota 
kelahiran? 




 Perbedaan pendapat ini tidak mengindikasikan bahwa saya bersikap 
dogmatis. 
Bagaimanapun, kitab suci Buddha bagaikan sebuah rakit. Dia hanyalah 
sebuah alat untuk membawa kita ke tujuan. Tetapi terhadap sarananya 
saja kita menaruh curiga dan membuat interpretasi secara salah, maka 
kapan kita bisa mencapai tujuan? Misalnya Kita mendapatkan sebuah 
mobil merek Buddhisme  untuk membawa kita ke kota Nibbana, tapi kita 
tidak yakin dengan mobil itu dan ragu menaikinya nah..kapan kita 
bisa sampai ke kota Nibbana? Memang betul ada mobil lain, tapi 
dengan mobil yang sudah bonafit aja kita ragu, bagaimana dengan 
merek lain? Kita diajar untuk tidak fanatic dan dogmatis itu 
maksudnya agar kita jangan meremehkan merek lain , kita harus akui 
ada merek lain untuk ke Nibbana itu namanya tidak fanatic. Kita 
jangan sampai gak pernah mau turun dari mobil, itu baru namanya 
tidak dogmatis. Fanatik sama dogmatis itu bukan mentang mentang 
tidak mau berpegang pada satu isme, toh jatuhnya juga fanatic pada 
isme sendiri.  

P.S : Dalam vinaya ada ketetapan bahwa kita tidak boleh menjelek 
jelekkan bhikkhu, menghina bhikkhu, meskipun seorang bhikkhu yg 
melanggar Sila. Seorang bhikhu yang melanggar sila tentu ada sangha 
yang memberi hukuman. 
Siapapun yang mengkritik bhikkhu , maka tentu harus introspeksi 
diri. Banyak yang beralasan bahwa sah saja kita mengkritik orang 
yang salah. Tapi sejauh mana kita telah melakukan kebenaran? Kita 
diajar untuk melatih diri mencapai pembebasan. Jiki intisari ini 
kita renungkan, maka kita akan sadar, ada benarnya juga.
Banyak umat awam yang sering melontarkan kritik terhadap bhikkhu ini 
atau itu. Sebenarnya mereka tidak sadar bahwa mereka telah melakukan 
kesalahan. Setidaknya prosedurnya telah salah. Mengkritik dan 
membicarakan masalah di hadapan bhikku tentu berbeda. Untuk itu 
tulisan ini tidak bermaksud mengkritik bhante Mettanando. Tetapi 
sebagai bentuk diskusi yang mohon pencerahannya. Ada kemungkinan 
saya yang telah salah tangkap atas pesan yang ditulis oleh 
bhante.    Dari segi praktek, saya masih pernah melanggar Pancasila 
hingga hari ini. Maksud saya adalah walaupun saya menulis pendapat 
saya di atas , itu tidak mengindikasikan saya telah mengenal lebih 
baik ajaran Budha dari siapapun, Karena menjalankan sila dasar saja 
saya tidak bisa.  Semoga bhante Mettanando memahami maksud saya, dan 
semoga saya diberi wejangan dan semoga bhante terima permohonan maaf 
saya.  
   
 
 
   

   


    







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/WwRTUD/SOnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke