Buat sdr.Wijaya:
Tulisan saya sebelumnya: 
......Ibarat seorang suci yang kita kultuskan, sekali terdengar
ada nada miring dalam dirinya, segala ungkapan bijaknya tidak kita
pandang lagi.

Tanggapan sdr.Wijaya : tidak demikian

saya menjawab: Saya mengerti sekali maksud bro.Wijaya. Benar apa 
yang bro katakan bahwa kita jangan asal glek hanya karena itu 
tertulis dalam tipitaka. Cuma bro Wijaya mungkin salah menangkap 
point saya, seolah olah saya 'terikat kontrak mati' dengan Tipitaka 
ya :). Point saya pada paragraf ini adalah untuk menekankan bahwa 
interpretasi yang spekulatif tidak seharusnya dijadikan kesimpulan 
akhir. Karena anda tahu sendiri, bahwa tulisan bhante Mettanando 
secara tidak langsung mendiskreditkan komunitas Sangha masa awal  
atas penulisan kitab suci.  Jika ada bukti konkrit, ya itu kita 
terima secara wajar. Tetapi jika itu bersifat spekulatif, maka kita 
tanggapi tulisan itu agar orang orang tertentu bisa memahaminya. 
Saya sendiri sudah katakan bagi mereka yang bisa menerima tulisan 
bhante, itu saya syukuri. Itu cukup mengindikasikan bahwa 
sesungguhnya saya bukan mau mempertahankan kitab suci secara 
fanatis. Saya sudah berikan contoh kitab suci bagaikan rakit.
Saya akui juga mungkin ini adalah kesalahan saya yang telah gagal 
menuangkan pandangan saya secara jelas.  Terima kasih juga buat 
bro.Wijaya yang memperingati saya untuk jangan mengagungkan logika 
atau rasionalitas. 
Kemudian nasihatnya: Dhamma Sang Buddha
bukan ada di buku, tapi amati saja pikiranmu, maka Anda akan melihat 
Dhamma
sejati." 
Benar. sejujurnya hingga hari ini, saya memahami ungkapan ini, 
tetapi saya menghadapi masalah untuk merealisasinya. Ini karena 
kemelekatan saya yang masih kuat pada ego.  Thanks atas 
perhatiannya.  

Buat bro.Kongming:
Ya, saya sudah baca berbagai tulisan mengenai para sesepuh 
yang 'wang-sheng'  bahkan para umat awam sekalipun dari cara mereka 
berlatih metode Nianfo. Banyak sekali jumlah catatan mengenai hal 
itu.  Bahkan hingga di jaman modern ini masih juga ada catatan baru 
tentang mukjizat seperti itu. (saya bukan terobsesi dengan mukjizat 
itu lho). Setidaknya itu mengindikasikan bahwa peristiwa metafisik 
yang tercatat dalam kitab suci bukan catatan isapan jempol. 
Peristiwa metafisik dalam unsur agama selalu dipandang secara 
skeptis. Mungkin bhante Mettanando adalah sosok yang bertugas 
menetralisir mereka yang sangat terobsesi dengan peristiwa seperti 
itu agar tidak ekstrim ke satu sisi. Jika beliau tidak percaya sama 
sekali dengan peristiwa aneh pada kehidupan Buddha maka tentu beliau 
tidak mau mengikuti jejak sang guru. Atau mungkin juga beliau hanya 
mau menerima wejangan dhamma yang logis saja, dan mengabaikan 
peristiwa yang bersifat teknis, maka beliau sesungguhnya adalah 
bhikkhu yang masih konsisten dengan nasihat sang Buddha "sucikan 
hati dan pikiran, itulah ajaran semua Buddha". Cuma cara 
penyampaiannya yang sedikit mengundang reaksi pada orang orang yang 
masih kotor batinnya seperti saya ini. Maklumlah. 
Bagi mereka yang kekotoran batinnya tidak banyak, mungkin melihat 
tulisan bhante Mettanando secara wajar. Mungkin ini adalah Upaya 
Kosalla Nyana (cara bijak) dari sang Bhikkhu.       
 Btw, foto2 apa yang bro perlihatkan pada bhante Mettanando? Kalo 
bisa, di share dong buat kita kita ini di folder foto Dharmajala. 
Jadi penasaran hehe..:)  

buat sist.Wulandari: 
thanks atas info nya ttg ceramah bhante Mettanando. 

Berdiskusi boleh, jangan lupa juga untuk berlatih. ok? Semoga 
mencapai pencerahan. 
salam







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/hjtSRD/3MnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke