Boleh ya saya ikutan memberi komentar.... Apapun yang kita lakukan, pasti ada yang pro dan kontra, selalu saja ada yang setuju dan tidak setuju. Saya tidak sedang memposisikan diri dipihak manapun, tetapi sepertinya saya melihat adanya kritik yg rada kontradiktif (barangkali keliru). Disatu kesempatan ada yang menghimbau agar kita mandiri dan jangan menggunakan cara "meminta-minta". Tetapi dikesempatan lain ada himbauan untuk tidak "menjual" Dharma.
Agak pelik apabila dipikir. Bagaimana penerbit bisa menerjemahkan, memperbanyak dan mendistribusikan buku Dharma dengan memenuhi kedua himbauan tsb. Barangkali yang diharapkan dari kedua himbauan itu adalah Mandiri dan Sosial. Sehingga diharapkan ada seorang atau sekelompok orang yang mempunyai modal sendiri, ide sendiri, konsep sendiri, bekerja sendiri, membayar karyawan-karyawannya dgn uang sendiri dan termasuk menanggung rugi sendiri karena buku kemudian tidak dijual tetapi dibagikan secara gratis. Bukanlah mustahil ada kelompok yg ideal seperti itu. Tetapi seandainya ada, apakah umat Buddhis yang lain tidak mendukung kegiatan kelompok tersebut ? meskipun dukungan moril ? dan bagi yang mempunyai kelebihan dana, apakah tidak tergerak untuk mendukung secara materi ? tidak ingin meringankan beban rugi materi mereka ? apakah kita tidak melihat sisi positif dari kegiatan mereka ? Kemudian lagi, penyakit akut manusia sebagai konsumen yakni image kwalitas barang dipengaruhi oleh harga. Semakin mahal, terkesan semakin berkwalitas. Sebaliknya semakin murah, terkesan murahan. Apalagi gratis. Ini bukan himbauan agar buku dijual semahal-mahalnya. Tetapi buku gratis terkadang hanya memotivasi keserakahan orang utk memilikinya. Mereka merebutnya pada saat ada buku yg dibagi gratis, tetapi sampai dirumah hanya ditaruh dan dilupakan. Ironis, karena sementara itu ada lapisan orang yang mau membaca tapi tidak sanggup membeli. Kalau boleh saya ikut memberi pendapat. Berangkat dari keyakinan bahwa kita tidak akan sanggup memenuhi harapan semua orang dan bahwa segalanya harus mempunyai prioritas. Sehingga memang harus ada prioritas yg kadarnya lebih rendah yg harus "dikorbankan". Artinya, demi prioritas yang lebih utama, yakni kelangsungan hidup penerbit, maka sebaiknya penerbit tidak boleh rugi terlalu banyak. Mereka boleh rugi waktu, tenaga, pikiran. Tetapi jangan sampai rugi materi yang merupakan modal kerja yang utama. Buku dijual dengan harga pantas dan realistis. Boleh dibuat beberapa versi yakni, buku dgn kertas yg agak rendah dan buku dgn kertas yg bagus sehingga konsumen bisa memilih sesuai kemampuan. Atau dijual dengan harga yang lebih tinggi pada toko buku yang lebih elite. Pada kesempatan lain, buku bisa dijual dengan diskon (bukan rugi) pada bulan promosi. Dan pada kesempatan lain membagi-bagikannya dengan gratis apabila ada yang bersedia mengganti kerugiaannya. Maaf apabila pendapat saya keliru. Saya hanya sekedar memberi pendapat sebagai seorang konsumen buku dharma. Dengan harapan akan semakin banyak buku-buku Dharma yang dapat diterbitkan yang menjadi salah satu sarana utk berkembangnya Buddha Dharma. Wi Tjong ----- Original Message ----- From: "Yamin Prabudy" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Friday, May 20, 2005 12:58 PM Subject: Re: [Dharmajala] Re: Menjual dharma atau menyebarkan dharma? > dulu saya aktif di MBN Ekayana, dan dalam melakukan terjemahan/pekerjaan > di sana ... kita-kita di bayar semuanya mendapatkan bayar > itulah gaji saya yang pertama kali, karena memang ingin semua dilakukan > secara profesional ... apakah itu salah? apakah saya telah > mengkomersilkan dharma ? > terus terang saya masih butuh sandang dan pangan... > > ps. ngak ada urusan dengan aliran ya... > > yamin > > > -- > No virus found in this outgoing message. > Checked by AVG Anti-Virus. > Version: 7.0.322 / Virus Database: 266.11.13 - Release Date: 5/19/2005 > > > > > > > Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya > maupun di luar diri saya. > > Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; > tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; > serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. > Kami mengikuti jalur perhatian penuh, > latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam > agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, > sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. > Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas > asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, > membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan > kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang > tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
