==Doa bisa berbahaya==
 
 
Inilah cerita yang sangat disukai oleh Guru Sufi Sa'di dari Shiraz:
 
Salah seorang sahabatku senang sekali karena istrinya mengandung. Ia ingin sekali mendapatkan anak laki-laki. Tak henti-hentinya ia berdoa kepada Tuhan dan menjanjikan berbagai kaul dengan ujud itu.
 
Maka terjadilah, bahwa istrinya melahirkan seorang anak laki-laki. Sahabatku bergembira sekali dan mengundang seluruh penduduk kampung untuk merayakan pesta syukur.
 
Bertahun-tahun kemudian, sekembaliku dari Mekah, aku melewati kampung sahabatku itu. Aku diberitahu bahwa ia dipenjara.
 
"Mengapa? Apa kesalahannya?" tanyaku.
 
Tetangganya berkata,"Anaknya mabuk, membunuh orang, kemudian melarikan diri. Maka ayahnya lalu ditangkap dan dipenjara."
 
Moral of the story:
Meminta kepada Tuhan dengan tekun apa yang kita inginkan merupakan perbuatan yang patut dipuji.
 
Tetapi doa seperti itu juga amat berbahaya.
 
 
==BERDOA MOHON HUJAN==
 
Seorang yang sudah tua tidak pernah melewatkan pipanya sehabis makan. Pada suatu malam istrinya ,emcium bau hangus. Maka iapun berteriak,"Demi Tuhan, Pak, engkau membakar jambangmu!"
 
'Aku tahu," jawab orang tua itu dengan marah. "Tidakkah kau lihat bahwa aku sedang berdoa mohon hujan?"
 
(Sumber: Burung berkicau, Anthony de Mello SJ)
 
Wijaya:
Yang menyelesaikan masalah adalah PERBUATAN, Karma.
oooOooo
 
==LULU==
 
 
Seorang pengunjung Rumah Sakit Jiwa melihat seorang penghuni sedang berayun-ayun maju mundur di atas kursi sambil terus-menerus dengan suara lemah penuh kelegaan mengguman,"Lulu, Lulu....."
 
"Masalah apa yang dihadapi orang ini?" tanyanya kepada dokter.
 
"Lulu. Ia adalah wanita yang menolak cintanya," jawab dokter.
 
Ketika mereka meneruskan berkeliling, mereka sampai pada salah satu sel, yang penghuninya terus-menerus memukul-mukulkan kepalanya pada tembok dan mengguman,"Lulu, Lulu".
 
"Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?" tanya penginjung itu.
 
"Ya," kata dokter, "Dialah yang akhirnya nikah dengan Lulu."
 
Moral of the story:
Hanya ada dua penderitaan dalam hidup:
=Tidak memperoleh hal yang mengikatmu
=Dan memperoleh hal yang mengikatmu.
 
(Sumber: Doa Sang Katak 2, Anthony de Mello SJ)
 
Wijaya:
Bingung, kan? Mana BERKAH, mana PETAKA.
Yang satu--anggap doanya tak terkabul--, tidak terpenuhi keinginannya menikahi Lulu.
Yang satu--anggap doanya terkabul--, terpenuhi keinginannya menikahi Lulu.
Keduanya sama-sama mendapat dukkha.
 
Kalau yang ada HANYA DUKKHA, maka doa keinginan kita mestinya disesuaikan dengan ajaran Sang Buddha.
 
 
oooOooo
 
Wijaya:
Ingat juga kisah petani pemilik kuda--yang hilang, kemudian malah kudanya pulang membawa banyak kuda-- yang tidak tahu antara BERKAH dan PETAKA.
 
Sebagai orang yang belum mampu membedakan mana BERKAH, mana PETAKA, doa permohonan bisa beresiko. Apa yang kita semula minta dengan sangat karena kita ANGGAP sebagai BERKAH, ternyata justru bisa mendatangkan bencana. Bila memang ada dewa, atau Tuhan Pencipta yang mampu mengabulkan permintaan kita, biarlah Beliau sendiri yang memilihkan apa yang terbaik buat kita.  Dengan sudut pandang ini, doa kita menjadi DIAM. Pasrah, Yakin Dewa, Tuhan pencipta akan memberikan yang terbaik buat kita. TERSERAH PEMBERIAN TUHAN SENDIRI. Tidak meminta. Ya, doa begini jadinya ya MEDITASI. Nggak minta atau mohon sesuatu.
 
 
Sebagai Buddhis yang Non Teistik dan meyakini Hukum Karma:
Sesuai yang diajarkan Sang Buddha, Dukkha disebabkan oleh nafsu keinginan. Kebahagiaan adalah bila penyebabnya, nafsu keinginan bisa dipadamkan. Bahwa kebahagiaan kita tergantung besar kecilnya nafsu keinginan atau ego kita. Makin kecil ego kita, makin bahagialah kita. Akhirnya, MUNGKIN, Nibbana adalah kebahagiaan karena terkikis habisnya ego kita.
 
Bila kita merasa perlu, punya keyakinan doa permohonan bisa dikabulkan, maka isi permohonan itu mestinya diselaraskan dengan Ajaran Sang Buddha.  Mampukah kita menilai isi doa permintaan kita bukanlah memperbesar nafsu keinginan atau ego sendiri? Bahwa yang kita minta betul2 adalah BERKAH, bukannya malah menjadi PETAKA, pada akhirnya nanti?
 
Kalau kita belum mampu membedakan, kita bisa mengisi doa kita dengan:
"Semoga semua makhluk berbahagia. Semoga saya bisa mengurangi keserakahan, kebencian, kebodohan bathin saya."
 
Dengan demikian, kita TIDAK AKAN PERNAH KECEWA dan SAKIT HATI bila keinginan (yg entah berkah atau petaka) tak terkabulkan.
 
 
Baca paritta, melakukan atthasila, meditasi adalah termasuk karma baik. Sesuai Hukum Karma, ini PASTI membuahkan kebahagiaan. Kalau kita melakukan itu disertai mohon ini dan itu. Apakah ada yang tahu dengan PASTI, bahwa keinginan, permintaan kita itu terwujud karena DIKABULKAN oleh satu dewa, tuhan, ataukah karena ADA KARMA BAIK kita sendiri yang sedang matang? Siapa yang bisa memverifikasi?
 
Petapa Gotama, ingin mencari obat mengatasi sakit tua dan mati manusia, beliau seorang Boddhisatva yang paramitanya HAMPIIIIIIIIIIR sempurna, bagaimana cara beliau memperoleh obat tersebut? Apakah selaku Boddhisatva yang begitu sempurna mampu mengabulkan keinginan muliaNya sendiri? Rasanya tidak mampu, bila kita baca kisahnya. Kalau keinginan yang jauh dari sikap egois dan nafsu keinginan Nya sendiri saja seorang boddhisatva yang hampir sempurna paramitaNya tidak terkabulkan, apalagi boddhisatva yang kesempurnaannya masih dibawah kesempurnaan paramitta petapa Boddhisatva Gotama? Apalagi keinginan --karena nafsu, ego-- orang lain? Bagaimana kisah Kisa Gotami? Apakah Sang BUddha yang MASIH HIDUP mampu mengabulkan permohonan seorang ibu yg demikian tulus? Lalu APA yang DIBERIKAN Sang Buddha pada Kisa Gotami?
 
Itu HISTORIS nya Sang Buddha. Lalu kita akan lebih yakin pada kisah itu atau kisah yang mana? Ini patut kita renungkan. Buddha hidup aja, nggak mengabulkan permohonan Kisa Gotami, gimana kita punya keyakinan Buddha yang sudah parinibbana malah lebih bisa mengabulkan permohonan kita?
 
Menurut saya, pengabulan doa permohonan TIDAK SELARAS DENGAN HUKUM KARMA.  Kalau kita yakin satu doa permintaan akan bisa dikabulkan oleh dewa, maha dewa tertentu, maka Hukum Karma tidak memiliki arti lagi. Dalam agama Teistik, tidak mengenal Hukum Karma, yang ada TERGANTUNG KEHENDAK TUHAN sendiri. Surga bukan tergantung dari karma, perbuatan manusia, tapi dari KETAATAN manusia pada perintah Tuhan.
 
Jadi, konsep Hukum karma dan Pengabulan Doa adalah dua konsep yang bertolak belakang.  Tidak bisa dicampur adukkan. Kita mesti memilih salah satunya. Kecuali, kita juga meyakini, pengabulan doa ditentukan juga oleh karma sendiri. Bahwa yang pegang peranan utama adalah Karma dan Hukum karma. Sedang doa kepada dewa tertentu hanyalah memperkuat tekad dan semangat semata.  Sekedar bohong putih, demi bantuan psikologis, bahwa ADA YG BISA BANTU kesusahan kita. Agar jangan putus asa. Tapi akhirnya, syarat utamanya MENANAM KARMA BAIK, juga.
 
 
Silahkan dikritisi.
 
Silahkan juga baca:  "Mukjizat Penyembuhan melalui Iman", di bagian  artikel, Buddhis menjawab:
 
 
 
Akhir kata, menjawab doa rekan Widiawati,"Sepertinya diskusinya jadi mengarah ke Theravada("yang merasa lebih murni") dengan Mahayana,jadi "seperti"Kristen dan Katolik,yang menurut kesan saya pribadi walaupun sama2 Nasrani tapi merasa berbeda,walaupun Nabi dan hal mendasar lainnya sama."
 
Beda pendapat yang bagaimana sengitnyapun, tidak berarti musuh. Lagi sekali, positive thinkinglah pada sesama Buddhis. Apakah kita Umat Buddha tidak mampu membicarakan perbedaan pendapat? kalaupun jawabannya "YA", kita tetap butuh--diskusi, tukar pendapat dan informasi--sebagai latihan. Proses.
 
Info saya pas2an. Kemungkinan penilaian LEBIH MURNI itu muncul dari Sejarahwan. Klaim kecapku nomor satu, bukan sesuatu yang wah atau berlebihan. Itu biasa, wajar. Mayoritas sekte, agama yang ada memiliki klaim-klaimnya tersendiri. Kalau mau protes, mestinya ditujukan pada sejarahwan itu.
 
 
Salam metta,
Wijaya
 
 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, May 19, 2005 9:58 AM
Subject: Re: [Dharmajala] ==Berdoa== by S. Gunawan

Setuju,doa memberi manfaat,langsung maupun tidak langsung.
 
Nyempet bingung juga,yang berkomat-kamit salah?waduh,kalau komat kamitnya sabbe satta avero hontu,semoga semua mahluk berbahagia,salah juga,jadi mesti gimana dong?
Tutup mata,anjali,udah...
Bener deh,bisa mikir juga nih,lalu "kepasrahan" kita kemana?
 
Bhante,tolong komentari dong,mana yang layak,mana yang tidak?
Bagaimana,dengan pengalaman pribadi banyak orang yang "terselamatkan" dengan mengucap "Kwan Im Po Sat";Aum Mani Padme Hum";Gate Gate Paragate"dll,apakah hanya karena sugesti pribadi?
 
Sepertinya diskusinya jadi mengarah ke Theravada("yang merasa lebih murni") dengan Mahayana,jadi "seperti"Kristen dan Katolik,yang menurut kesan saya pribadi walaupun sama2 Nasrani tapi merasa berbeda,walaupun Nabi dan hal mendasar lainnya sama.
 
Semoga kita umat Buddha tidak menjadi demikian(Ini termasuk doa,karena ada permohonan,pengharapan)
Sanghanya aja udah bisa jalan bersama kok


Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke