Saya ingin berkomentar sedikit. Saya kira pemahaman bahwa setelah Nibbana itu Buddha lenyap sama sekali adalah suatu pandangan keliru yang ditolak oleh Buddha sendiri. Sebaliknya pemahaman bahwa setelah Nibbana itu Buddha masih ada juga keliru. Pandangan bahwa Buddha bukan masih ada atau tiada juga suatu yang keliru. Pandangan bahwa Buddha bukan tidak ada atau tidak tidak ada juga suatu yang keliru.
Nibbana bukanlah sesuatu yang bisa dipahami dengan pikiran diskriminatif.
Orang2 Theravada cenderung ke arah Buddha tidak ada setelah Nibbana. Orang2 Mahayana cenderung ke arah Buddha masih ada setelah Nibbana.
Orang2 yang mengerti Nibbana (atau telah suci / mencapai pencerahan), baik Theravada dan Mahayana, akan setuju satu sama lain, akan setuja sama Buddha.
Saya ingin mengajak teman2 belajar Saddharmapundarika Sutra. Klimaks dari Sutra yang panjang ini ada di Bab 16. Bagi anda yang bisa Inggris bisa baca di: http://lotus.nichirenshu.org/lotus/sutra/english/hokke-idx.htm
Konsep Trikaya, Triyana, Buddhayana semua bersumber dari Sutra ini. Di Bab 16, Buddha membabarkan hakikat sesungguhnya dari Buddha - bahwa beliau sudah mencapai samma-sambuddha sejak berkalpa-kalpa yang lalu, dan tidak pernah masuk maha-parinirvana alias selalu ada di dunia. Lalu Buddha memberikan suatu perumpamaan untuk menjelaskannya, silakan baca sendiri.
Buddha selalu ada di dunia - kalau anda tidak bisa melihat-Nya itu bukan salah Buddha namun salah mata anda. Buddha ada di setangkai bunga, di air hujan, di kantor, di mobil, di tempat kumuh, di toilet, di hati anda. Anda hanya perlu melihat dengan seksama, dengan perhatian penuh!
Demikian kata Hakuin, sesepuh dari silsilah Zen Rinzai (Lin-chi) tentang Sutra ini:
I happened to hear that The Lotus Sutra was the king of all the scriptures the Buddha had preached. It was supposed to contain the essential meaning of all the buddhas. I got hold of a copy and read it through. But when I finished, I closed it with a heavy sigh. "This," I told myself, "is nothing but a collection of simple tales about cause and effect. True, mention is made of there being 'only one absolute vehicle,' and of 'the changeless unconditioned tranquility of all dharmas,' but on the whole it is what Lin-chi dismissed as 'mere verbal prescriptions for relieving the world's ills.' I'm not going to find
what I'm looking for here."
Itu sebelum ia melakukan meditasi Zen intensif bertahun2. Suatu ketika ia membuka lagi Sutra itu dan membaca:
I read as far as the third chapter, the one on parables. Then, just like that, all the lingering doubts and uncertainties vanished from my mind. They suddenly ceased to exist. The reason for the Lotus's reputation as the "king of sutras" was now revealed to me with blinding clarity. Teardrops began cascading down my face like two strings of beads - they came like beans pouring from a ruptured sack. A loud involuntary cry burst from the depths of my being and I began sobbing uncontrollably. And as I did, I knew without any doubt that what I had realized in all those satoris I had experienced, what I had grasped in my understanding of those koans I had passed - had all been totally mistaken. I was
finally able to penetrate the source of the free, enlightened activity that permeated Shoju's daily life. I also knew beyond any doubt that the tongue in the World-honored One's mouth moved with complete and unrestricted freedom.
Ajaran Buddha bukanlah untuk dipahami dengan pikiran diskriminatif, namun dengan pikiran meditatif dan semangat praktek.
Demikian kata sesepuh keenam Hui Neng kepada Fa Ta tentang Sutra ini:
The Patriarch replied, "Fa Ta, the Law is quite clear; it is only your mind that is not clear. The Sutra is free from doubtful passages; it is only your mind that makes them doubtful. In reciting the Sutra, do you know its principal object?"
Mudah-mudah bermanfaat.
sarva mangalam. Harryson
Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hai rekan Surya dan semua,
(Semoga bahasan ini tidak dilihat sebagai HANYA soal Thera_Maha_Vajra. Tapi
soal cara berpikir, yang bisa diterapkan pada hal2 lain juga.)
Saya satukan email Anda.
di [Dharmajala] Greetings from Karawaci ;-)
>sorry banget, dalam waktu dekat ini gak bisa ikut diskusi lagi
> kayaknya
> soalnya kalo diskusi kan perlu mikir, otak gue perlu istirahat, jadi
> males diskusi di sini dulu
> kalo sekedar tulis2 iseng sih, itu hobi lama yg sulit dihilangkan :-p
----------
Wijaya:
Padahal pertanyaan saya sangat simpel, pengetahuan umum. Sekedar informasi,
yang tidak butuh analisa apa-apa. Lihat penjelasan rekan Harryson.
Menurut saya, Isi kitab suci sekte atau agama lain, adalah haknya. Kalau
isinya demikian--apapun--, umat lain ngga boleh protes. Kalau ada yang
meminta penjelasan, ini kesempatan buat menjelaskannya, dan sekaligus
menghilangkan, meluruskan disinformation.
>saya sependapat dgn rekan harryson mengenai hal ini
> kata2 dalam Sutta maupun Sutra tidak semuanya dapat dipahami secara
> literal.
> ada makna2 tertentu yg terkandung di dalamnya
--------
Wijaya:
Kalo ikrar itu bukan bermakna literal, menurut saya, ikrar itu bisa disebut
sebagai--maaf-- 'bohong putih'. Itu buat ditujukan pada DIRI SENDIRI, bukan
untuk ditujukan, dibandingkan pada AJARAN, SEKTE LAIN. So, mestinya ikrar,
konsep bodhisatva itu sangat tidak tepat KALO dipakai menilai ajaran lain.
(Umum, bukan saya tujukan pada rekan siapapun)
> Kwan Im, Tara, Manjushri dsb dsb dapat dipahami sebagai Bodhisattva
> ataupun Buddha yg bermanifestasi kembali jadi bodhisattva
--------
Wijaya:
Maaf, Menurut saya pernyataan Anda sangat rumit sekali, berbelit-belit.
Kontradiksi. Bodhisattva adalah CALON BUDDHA, gimana Buddha bisa dikatakan
bermanifestasi kembali menjadi Bodhisattva?
Nirvana adalah akhir tumimbal lahir, gimana memahami Buddha MASIH
bermanisfestasi, hidup lagi.
> bagaimana dgn klaim dalam salah satu sutta Pali kalo praktik
> meditasi (apa ya gue lupa) dalam 3 hari bisa pencerahan.
> apakah udah banyak yg membuktikan klaim itu? apa buktinya?
------------
Wijaya:
Pertanyaan meragukan dari Anda ini membingungkan. Kesannya Anda tidak
mempercayai Ajaran Fondasi sendiri. Rumit dan Kontradiksi lagi.
Anda dua kali kirim pertanyaan tersebut. Semula saya abaikan, karena yang
tanya adalah Anda. Kalibernya bukan main2. Yang mengaku dulunya dari
Theravada, menyatakan Ajaran Theravada = FONDASI, dan sekarang posisi Anda
di "S2", Vajrayana ("S1"-nya mungkin Mahayana ^_^ Just kidding ). Saya
maknai, Anda sudah MENGUASAI, LULUS dari ajaran Fondasi. Saya sadari,
informasi Anda lebih luas dp saya. Jadi saya pikir itu pertanyaan buat
menguji saya doang.
Tapi dengan pertanyaan ulang YANG MERAGUKAN soal itu, 3 hari bukan 7 hari,
menjadi bukti bahwa sesungguhnya Anda BELUM MENGUASAI AJARAN FONDASI. Teori,
apalagi praktek. Anda menyatakan Theravada (kemudian Anda ralat menjadi
SEBAGIAN) adalah fondasi buat belajar mahayana, Vajrayana.
Gimana kalau ada rekan Vajrayana(teori dan praktek ala kadarnya), pindah ke
agama lain, dan nulis pernyataan,"Berkat belajar Vajrayana, saya jadi
mengerti dan mengimani kebenaran agama X."
Apakah cukup fair ia menyatakan bahwa,"Vajrayana adalah Fondasi dari agama
X"?
Kalau seseorang belajar teori dan praktek sampai tuntas, kemudian beralih ke
sekte atau agama lain, lalu bilang demikian, menurut saya itu baru fair.
Saya kutipkan sutta yang Anda maksud, ya:
Para bhikkhu, siapa saja yang melaksanakan Empat Landasan Kesadaran untuk
tujuh tahun, salah satu dari dua pahala yang dapat diharapkan dalam
penghidupan sekarang, yaitu tercapainya Pengetahuan Tertinggi 2) atau jika
masih terlahir akan mencapai anagami.
Atau, jangankan tujuh tahun, para bhikkhu, siapa saja yang melaksanakan
Empat Landasan Kesadaran ini hanya untuk enam tahun ..., untuk lima tahun
..., untuk empat tahun ...., untuk tiga tahun ..., untuk hanya dua tahun,
dalam dirinya dapat diharapkan salah satu dari dua pahala ini, yaitu dalam
kehidupan ini tercapainya Pengetahuan Tertinggi atau jika masih terlahir
lagi akan mencapai anagami.
Atau, jangankan satu tahun, para bhikkhu, Empat Landasan Kesadaran ini untuk
enam bulan, atau untuk lima bulan, atau untuk empat bulan, atau untuk tiga
bulan, atau untuk dua bulan atau untuk satu bulan, atau hanya setengah bulan
saja dalam dirinya dapat diharapkan salah satu dari pada dua pahala ini,
yaitu tercapainya Pengetahuan Tertinggi atau jika masih terlahir lagi akan
mencapai anagami.
Atau, jangankan setengah bulan, para bhikkhu, siapa saja yang melaksanakan
Empat Landasan Kesadaran ini untuk tujuh hari, dalam dirinya dapat
diharapkan salah satu dari pada dua pahala ini, yaitu dalam kehidupan ini
tercapai Pengetahuan Tertinggi atau jika terlahir lagi akan mencapai
anagami.
Atas dasar ini dikatakan :
Satu-satunya jalan, para bhikkhu, untuk mensucikan makhluk-makhluk, untuk
mengatasi kesedihan dan ratap tangis, untuk mengakhiri derita dan duka cita,
untuk mencapai jalan benar, untuk mencapai Nibbana, yaitu Empat Landasan
Kesadaran.
Untuk lengkapnya, silahkan kunjungi:
http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=732
Menurut kesimpulan saya, Sutta itu menyatakan, Satipatthana kalau dilatih,
ADA YANG BISA sukses ANTARA 1 detik sampai dengan 7 tahun. Dalam artian,
dilatih secara kontinyu, tanpa terputus.
Nah, rekan Surya, tidak ada klaim yang Anda tanyakan itu.
Salam metta,
Wijaya
----- Original Message -----
From: "bodhimanggala" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, May 24, 2005 9:48 PM
Subject: [Dharmajala] Re: Thera_Maha_Vajra
> saya sependapat dgn rekan harryson mengenai hal ini
> kata2 dalam Sutta maupun Sutra tidak semuanya dapat dipahami secara
> literal.
> ada makna2 tertentu yg terkandung di dalamnya
> sekarang saya tanya kepada rekan Wijaya
> bagaimana dgn klaim dalam salah satu sutta Pali kalo praktik
> meditasi (apa ya gue lupa) dalam 3 hari bisa pencerahan.
> apakah udah banyak yg membuktikan klaim itu? apa buktinya?
>
> Kwan Im, Tara, Manjushri dsb dsb dapat dipahami sebagai Bodhisattva
> ataupun Buddha yg bermanifestasi kembali jadi bodhisattva
>
> cheers
> surya
> =========================================
>
> --- In [email protected], harryson huang
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Saya ingin berkomentar sedikit tentang: ikrar Bodhisattva untuk
> menunggu semua makhluk mencapai Nirvana dulu, baru mencapai
> pencerahan agung.
> >om
>
>
Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.
Yahoo! Mail
Stay connected, organized, and protected. Take the tour
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
