Terima kasih.
 
Saya yang melempar topik ini, saya juga akan memberikan sedikit komentar.
 
"Kesaksian" dalam Kristen dan Islam adalah esensial, hal pokok. "Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dst..."
 
Dalam Buddhis, "Aku pergi berlindung kepada Buddha, dst..." Sudah terasa sekali perbedaan pendekatannya.
 
Ehipassiko (dan Kalama Sutta) sering digunakan untuk menjadi landasan untuk mengatakan umat Buddha itu perlu menyelidiki dan membuktikan, jangan percaya begitu saja. Saya setuju prinsip demikian.
 
Umumnya penyelidikan dan pembuktian itu diarahkan ke sains dan debat publik - di titik ini saya perlu mengatakan untuk BERHENTI - karena ini bukanlah tujuan Buddha mengajar Dharma.
 
Buddha TIDAK PERNAH melayani pertanyaan para pertapa lain yang menginginkan debat atau pemuasan intelek. Buddha selalu merespon dengan DIAM. 
 
Penyelidikan dan pembuktian harus diarahkan pada PRAKTEK. Di masa Buddha, bukan hanya Buddha saja yang berkhotbah. Banyak para siswa, sravaka dan bodhisattva, yang menjadi pusat sutta/sutra. Mereka "bersaksi" tentang Dharma dan pengalaman mereka. Buddha sendiri, "bersaksi" tentang Amitabha dan Sukhavati kepada Vaidehi, ibunda Ajatasattu demi menghibur beliau karena menganiayaan Ajatasattu terhadap ayahnya Bimbisara (ref Mahasukhavati vyuha sutra).
 
Untuk kita, kata "bersaksi" mungkin kurang tepat, lebih tepat "berbagi". Apakah Dharma itu benar? Orang2 yang sudah melaksanakannya, apakah mereka betul merasakan manfaatnya?
 
sarva mangalam, Harryson

Yeherdian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Semoga anda semua berbahagia.

 

Aku setuju sekali kalo adanya kesaksian yang dapat menguatkan keyakinan terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha.

Tetapi seperti pada umumnya, umat Buddha sedikit antipati kayanya ama yang namanya kesaksian, entah ada yang bilang kesaksian jadi ajang boong2an yang penting iman/keyakinan meningkat, kesaksian di Buddhis tuh ga perlu, tar jadi latah ngikut yang laen, de el el.

Aku lebih setuju kalo kita mau melihat dengan perspektif lain yaitu umat Buddhis harus diajak untuk membiasakan sharing. Menurut aku kesaksian itu bisa dikatakan sama dengan sharing. Saat kita punya masalah dan masalah tersebut dapat teratasi dengan pemahaman Dharma, maka kita bagikan dan ceritakan hal tsb kepada yang lain sehingga dapat membantu meningkatkan keyakinan thd Dharma. Jika dapat mengatasi masalah dengan merenungkan/meneladani sikap seorang Buddha, bagikan hal itu sehingga dapat membantu meningkatkan keyakinan thd Buddha. Begitu juga jika terbantu oleh Bhikkhu Sangha, bagi dan ceritakan untuk mendukung keyakinan thd Sangha.

Satu2nya masalah, pada umumnya kita merasa malu atau enggan berbagi. Sesungguhnya coba kita pandang dari perspektif berbeda yaitu kita berbagi agar orang2 lain yang mungkin mengalami masalah sama spt kita dapat memiliki contoh dan cara mengatasinya, walau Belem tentu cocok untuk semua orang. Kita berbagi agar orang yang belum menghadapi masalah tsb dapat menjadi siap sewaktu2 ia menghadapi masalah itu. Kita berbagi agar orang lain menjadi semakin yakin terhadap triratna. Kita berbagi agar orang lain merasa bahagia karena kita memperhatikan mereka dan tidak ingin mereka mengalami permasalahan yang sama spt kita. Kita berbagi agar orang lain tidak jatuh dalam masalah yang lebih dalam lg.

Coba ingat bahwa kunci keberhasilan adalah kegagalan. Tetapi tidak akan cukup waktu bagi kita untuk harus mengalami semua kegagalan agar berhasil. Kita dapat belajar dari kegagalan orang lain agar tidak perlu bagi kita mengalami kegagalan itu, dan ini semua akan dapat terjadi jika kita semua mau saling berbagi.

 

Yeherdian

 

 



Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke