Yang Tua yang Jangan Dilupakan
HARI masih pagi ketika Asril (65) dan istrinya duduk berselonjor di trotoar di luar Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Keduanya beristirahat setelah beberapa kali berjalan mengelilingi stadion.
Sebenarnya rumah Asril lebih dekat ke Stadion Lebak Bulus. Namun, di sana tak tersedia fasilitas jogging track yang aman dan nyaman bagi pasangan seusia mereka. Mereka ke Senayan meski harus berdesakan-termasuk dengan yang bersepeda.
Asril paham betul, udara pagi sekaligus berolahraga sangatlah dibutuhkan orang seusianya. Apalagi di Senayan juga ada senam. Gratis pula.
Bagi orang-orang seusianya yang hanya mengandalkan uang pensiun, merogoh kantong untuk membayar iuran di pusat-pusat kebugaran yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah tentulah memberatkan.
LAIN lagi kisah Hartono (76) dan Kusmadi Harjono (67), purnawirawan TNI Angkatan Udara (AU). Keduanya merasa sangat beruntung menjadi bagian dari komunitas lanjut usia Persatuan 3 Sehat (P3S). Tiga kali sepekan, bersama seratus lima puluhan purnawirawan lainnya, mereka rutin senam pagi dan joging.
Setiap pertemuan, ada tes tekanan darah sebelum dan setelah berolahraga serta konsultasi dokter gratis. Bila ditemukan gejala sakit tertentu, dokter akan meresepkan obat. Setiap anggota hanya dikenai iuran Rp 10.000/bulan.
P3S beraktivitas di Klub Eksekutif Persada dekat Lapangan Udara Halim Perdanakusuma. Mereka memanfaatkan jogging track sepanjang 700 meter lengkap dengan rerimbunan pohon dan lahan persawahan. Jalur selebar hampir tiga meter itu terpisah dari jalan sepeda motor atau mobil.
Selain olahraga yang teratur dan terukur, kebutuhan sosialisasi pun terpenuhi. Para anggota saling bertukar cerita, bernostalgia sambil bercanda.
Senin (30/5) pagi itu sebagian anggota tengah bercengkerama. Ada pula yang sedang jogging, tes tekanan darah, atau mengisi log book hasil tes tekanan darah dan kondisi tubuh saat itu, yang menjadi "catatan medis" mereka.
Tiga bulan sekali para anggota komunitas pergi berekreasi. Sejak bergabung dengan komunitas itu, Kusmadi tidak pernah masuk angin atau merasa pegal-pegal. "Stres pun menjauh," papar mantan pilot Hercules dan atase militer RI di Spanyol itu.
Kebutuhan lanjut usia untuk bersosialisasi dan beraktivitas olahraga secukupnya juga diakui Marsono (69), penghuni perumahan polisi Pondok Karya, Jakarta Selatan. Sebulan sekali ia berkumpul dengan sesama purnawirawan polisi dalam wadah Senam Olahraga Minggu Pagi. "Kami bisa saling bertukar kabar dan berolahraga bersama," kata kakek enam cucu tersebut.
Silaturahmi dengan rekan sebaya diakuinya dapat meredam kesepian setelah beberapa lama hanya beraktivitas di rumah bersama istri atau berkumpul dengan anak, menantu, dan cucu-cucu.
KISAH-kisah di atas merupakan sisi manis nasib sebagian kecil kaum lanjut usia di Indonesia. Mereka memiliki akses untuk mencukupi kebutuhan fisik dan psikisnya: olahraga dan sosialisasi.
Keduanya merupakan faktor utama menjadi tua tetapi tetap sehat. Sayangnya, hingga kini kebutuhan itu belum diakomodasi pemerintah. Perkumpulan lanjut usia yang ada lebih dipicu keinginan yang bersangkutan untuk menjalin kontak.
Untuk mewadahi aktivitas, mereka memanfaatkan fasilitas publik yang terbatas. Padahal hampir tidak ada fasilitas ruang publik yang memenuhi syarat keamanan dan kenyamanan bagi yang sudah berusia lanjut untuk beraktivitas.
Yang terjadi justru makin banyaknya ruang terbuka hijau sebagai ruang publik yang digusur untuk dijadikan pusat bisnis, apartemen, atau ruang terbatas lainnya. Kalaupun masih ada ruang publik layak yang tersisa, jaraknya bisa puluhan kilometer. Kondisinya pun tak terawat.
Akibatnya, para lanjut usia harus pasrah dengan keadaan. Sutini (81), misalnya. Karena terkena serangan jantung, oleh dokter ia disarankan rajin melakukan jalan pagi di tempat terbuka dengan udara segar.
Akan tetapi, ketiadaan fasilitas ruang publik di sekitar tempat tinggalnya di Rawamangun, Jakarta Timur, membuat dia tak bisa beraktivitas. Hari-harinya dihabiskan untuk bercengkerama dengan keluarga atau tetangga sekitarnya; di mana sinar matahari pagi tak mampu menembus atap-atap rumah yang berdempetan.
Itu pun ia masih merasa beruntung, karena sesekali anak atau saudaranya menjemput untuk dibawa ke Bekasi atau Tangerang, tempat yang dirasanya lebih manusiawi.
TAK terbantahkan, perhatian negara terhadap golongan lanjut usia di Indonesia masih jauh dibandingkan dengan mereka di negara maju. Jangan dulu membandingkan jaminan kesehatan dan tunjangan hidup yang hanya membuat iri seumur-umur. Fasilitas publik yang lebih sederhana dibandingkan dengan taman kota pun belum memenuhi syarat. Pedestrian misalnya.
Contoh "sepele" lainnya adalah para usia lanjut sering harus beradegan berbahaya ketika naik/turun kereta karena tidak tersedianya tangga bantuan. Di beberapa stasiun memang ada, tetapi penerapannya kurang konsisten.
Belum lagi akses menuju ruang publik. Sistem transportasi kurang mendukung untuk itu, selain perilaku pengemudi yang ugal-ugalan. Padahal usia membuat tubuh mereka rentan terhadap benturan.
Salah satu kemudahan yang patut diapresiasi adalah sistem pengambilan uang pensiun, yang bisa ditransfer atau diambil di kantor pos terdekat. Atau kebijakan pemberlakuan KTP seumur hidup.
Kalau di negara maju, kebijakan semacam itu sudah berlanjut dengan berbagai kemudahan lain. Di Amerika Serikat, misalnya, ada program Golden Age Passport dan Golden Access Passport.
Program tersebut memungkinkan warga atau pendatang usia di atas 62 tahun yang menetap di AS mengunjungi lokasi rekreasi tertentu secara gratis seumur hidup. Di antaranya, taman nasional dan beberapa fasilitas wisata alam. Kartu khusus itu cukup dibeli seharga 10 dollar AS.
Bagi lanjut usia pemilik kartu yang menyandang cacat, izin masuk gratis juga berlaku bagi perawatannya. Kemudahan lain, mereka dapat potongan harga hingga 50 persen untuk berenang, berkemah, dan parkir.
Maka bersama peringatan Hari Lanjut Usia setiap 31 Mei, harapan pada pemerintah adalah semoga tidak lagi melupakan kebutuhan mereka yang jumlahnya makin besar di negeri ini. (GESIT ARIYANTO)
Do You Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new Resources site!
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
