Jadilah Tokoh Panutan yang Tidak Merokok
Jakarta, Kompas - Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia setiap 31 Mei-kali ini bertema Health Professionals Against Tobacco (profesional kesehatan memerangi rokok)-Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengimbau setiap anggota profesi kesehatan untuk menjadi tokoh panutan. Salah satunya dengan tidak mengonsumsi rokok.
Setiap anggota juga diharapkan ikut mendorong pola hidup sehat dengan mengajak para pasien berhenti merokok, menolak kerja sama dan sponsor industri rokok, serta mengadvokasi institusi pendidikan untuk memasukkan penanggulangan masalah merokok ke kurikulum.
Dalam jumpa pers yang berlangsung di Jakarta, Senin (30/5), Ketua PB IDI Prof Dr FA Moeloek SpOG mengakui bahwa masih cukup banyak anggota profesi kesehatan yang merokok. "Karena itu, setiap profesi kesehatan diimbau untuk mengajak anggotanya berperan serta dalam perang melawan rokok ini," kata Moeloek yang juga Ketua Komite Nasional Penanggulangan Masalah Merokok (Komnas PMM).
Selain itu, Komnas PMM juga akan terus mendorong Pemerintah Indonesia agar menandatangani Konvensi Internasional Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC).
Sejak Februari 2005, FCTC telah menjadi hukum internasional karena sudah diratifikasi oleh 61 negara. "Indonesia perlu segera menandatanganinya agar tidak diisolasi dari pergaulan internasional dan berbagai bantuan kesehatannya tidak dibekukan," tegas Moeloek.
Prevalensi
Hasil survei Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3) yang dipresentasikan pekan lalu menunjukkan, prevalensi merokok pada petugas kesehatan-dokter puskesmas, dokter balai pengobatan (BP) swasta, dan perawat puskesmas-ternyata masih 13,3 persen, jauh di bawah angka nasional. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2001, total ada 31,5 persen penduduk Indonesia yang merokok atau 62,8 juta orang.
Yang menggembirakan, sebagian besar tenaga kesehatan mempunyai perhatian terhadap masalah merokok dan merasa bertanggung jawab untuk membuat pasien berhenti merokok. "Sayangnya, tingkat pengetahuan dokter dan perawat tentang berhenti merokok masih kurang," papar dr Didy Purwanto MS yang menyampaikan survei itu.
Karena itu, Didy menyarankan perlunya pelatihan tentang cara berhenti merokok pada tenaga kesehatan, selain survei lanjutan dengan sampel lebih luas. Survei berlangsung di lima kotamadya di DKI Jakarta, melibatkan 200 dokter puskesmas, 200 dokter BP swasta, dan 200 perawat puskesmas.
Menurut Suminar Siregar, pengurus Komnas dan anggota Yayasan Kanker Indonesia (YKI) yang hadir dalam jumpa pers, sebenarnya YKI dan Yayasan Jantung Indonesia punya klinik yang khusus mengajarkan cara-cara berhenti merokok. Klinik ada di RS Jantung Harapan Kita, di Pusat Diagnostik Dini YKI, dan juga di Departemen Kesehatan.
"Namun, tidak banyak yang datang. Padahal, di klinik tersebut tidak dipungut biaya," jelasnya. (nes)
Do You Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new Resources site!
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
