Source : Perpita BBS, by Victory
Pada suatu waktu, ada seorang mahaguru yang ingin mengambil break dari
kehidupannya sehari-harisebagai akademisi.
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai dan meminta seorang
nelayan untuk membawanya pergi melaut sampai ke horizon.
Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut bertanya,
" Wahai nelayan, apakah Anda mengenal ilmu geografi ?"
Sang nelayan menjawab,
" Ilmu geografi yang saya ketahui adalah kalau di laut sudah mulai sering
ombak pasang, maka musim hujan segera akan tiba."
" Nelayan bodoh !" kata mahaguru tersebut.
" Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai ilmu geografi kamu sudah
kehilangan seperempat kehidupanmu."
Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru tersebut bertanya pada nelayan
apakah dia mempelajari ilmu biologi dan sains ?
Sang nelayan menjawab bahwa ilmu biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui
jenis ikan apa saja yang dapat dimakan.
Mahaguru iti berkata,
" Nelayan bodoh, dengan tidak menguasai sains kamu sudah kehilangan
seperempat kehidupanmu."
Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah nelayan tersebut mempelajari
matematika ?
Sang nelayan menjawab bahwa matematika yang dia ketahui hanyalah bagaimana
cara menimbang hasil tangkapannya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkannya,
dan menjual hasil tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya.
Lagi-lagi mahaguru tersebut mengatakan betapa bodohnya sang nelayan dan
dia sudah kehilangan lagi seperempat kehidupannya.
Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari pantai dan mendekati horizon,
mahaguru tersebut bertanya,
" Apa artinya awan hitam yang menggantung di langit ?"
Sang nelayan menjawab,
" Topan badai akan segera datang, dan akan membuat lautan menjadi sangat
berbahaya."
" Apakah bapak bisa berenang ?" tanya sang nelayan.
Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa berenang.
Sang nelayan kemudian berkata,
" Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat kehidupan saya dengan tidak
mempelajari tiga subyek yang tadi diutarakan oleh mahaguru, tetapi mahaguru
akan kehilangan seluruh kehidupan yang dimiliki."
Kemudian nelayan tersebut meloncat dari perahu dan berenang ke pantai
sedangkan mahaguru tersebut tenggelam.
Demikian juga dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan ataupun pergaulan
sehari-hari.
Kadang-kadang kita meremehkan teman, anak buah ataupun sesama rekan kerja.
Kalimat " tahu apa kamu " atau " si anu tidak tahu apa-apa " mungkin
secara tidak sadar sering kita ungkapkan ketika sedang membahas sebuah
permasalahan.
Padahal, ada kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan
spesifik yang dapat mengatasi masalah yang timbul.
Seorang operator color mixing di pabrik tekstil atau cat mungkin lebih
mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya.
Intinya, orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami
secara detail apa yang dia kerjakan dibandingkan orang 'luar' yang hanya
tahu 'kulitnya' saja.
Mengenai kondisi dan kompetisi yang terjadi di pasar, pengetahuan seorang
marketing manager mungkin akan kalah dibandingkan dengan seorang sales
person atau orang yang bergerak langsung dilapangan.
Atau sebaliknya, kita sering menganggap remeh orang baru.
Kita menganggap orang baru tersebut tidak mengetahui secara mendalam
mengenai bisnis yang kita geluti.
Padahal, orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat
memberikan terobosan untuk kemajuan perusahaan.
Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat dan jabatan
kita sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman,
posisi atau pendidikannya di bawah kita.
Kita jarang bertanya pada bawahan kita.
Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar basa-basi, pendapat dan masukannya
sering dianggap sebagai angin lalu.
Padahal, dalam aktivitas suatu organisasi, perusahaan maupun keluarga,
kita membutuhkan dukungan kemampuan orang lain untuk mencapai tujuan
organisasi.
Keberhasilan kita secara individual dalam organisasi ditentukan oleh
keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan organisasi, sedangkan
keberhasilan organisasi ditentukan oleh keberhasilan sinergi
antara kemampuan diri kita sendiri dan kemampuan orang lain.
Dalam sebuah organisasi, begitu sebuah masalah muncul ke permukaan,
kita tidak bisa mengatasinya
dengan hanya mengandalkan kemampuan yang kita miliki.
Kita harus mensinergikan kemampuan kita dengan orang lain.
Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih akan ditolong oleh orang
lain yang kita hargai kemampuannya.
Tidak seperti mahaguru yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang sedang
dilanda topan badai dan dibiarkan mati tenggelam karena tidak menghargai
kemampuan nelayan yang membawanya.
Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka bertingkah laku
seperti sang mahaguru ?
Bila ya, seberapa sering ?
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/