Panca Sila yang Menakjubkan
Y.A. Maha Biksu Thich Nhat Hanh
Diterjemahkan oleh: Jimmy Lominto
** bagian 4 **
Sila (Latihan Perhatian Penuh) Kedua: Kedermawanan
Sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh eksploitasi,
ketidakadilan sosial, pencurian, dan penindasan, aku berkomitmen
untuk mengolah cinta kasih dan belajar cara-cara untuk bekerja demi
kesejahteraan manusia, binatang ,tumbuh-tumbuhan, dan mineral. Aku
akan berlatih kedermawanan dengan berbagi waktu, energi, dan sumber
daya materi dengan mereka yang benar-benar sedang dalam kebutuhan.
Aku bertekad untuk tidak mencuri dan tidak memiliki apapun yang
seharusnya menjadi milik pihak lain. Aku akan menghormati harta
benda orang lain, tapi, akan berusaha mencegah pihak lain memperoleh
keuntungan dari penderitaan manusia ataupun penderitaan spesies lain
di Bumi.
Eksploitasi, ketidakadilan sosial, dan pencurian tampil dalam banyak
bentuk. Penindasan adalah sejenis pencurian yang menyebabkan begitu
banyak penderitaan, di sini maupun di Dunia Ketiga. Di saat kita
bersumpah untuk mengolah cinta kasih, cinta kasih lahir dalam diri
kita dan kita akan mengusahakan segala upaya untuk menghentikan
eksploitasi, ketidakadilan sosial, dan penindasan.
Dalam Sila Pertama, kita temukan kata "kasih sayang." Di sini, kita
temukan kata "cinta kasih." Kasih sayang dan cinta kasih adalah dua
aspek cinta yang diajarkan Buddha. Kasih sayang, karuna dalam bahasa
Sansekerta dan Pali, adalah intensi dan kapasitas untuk meringankan
penderitaan orang atau makhluk hidup lain. Sedangkan cinta kasih,
maitri dalam Sansekerta, metta dalam Pali, adalah intensi dan
kapasitas untuk membawakan suka cita serta kebahagiaan kepada orang
atau makhluk hidup lain. Buddha Sakyamuni memprediksikan bahwa
Buddha mendatang akan bernama Maitreya, Buddha Cinta Kasih.
" Sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh eksploitasi,
ketidakadilan sosial, pencurian, dan penindasan, aku berkomitmen
untuk mengolah cinta kasih dan belajar cara-cara untuk bekerja demi
kesejahteraan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan mineral."
Sekalipun dengan maitri sebagai sumber energi dalam diri, kita tetap
perlu belajar untuk melihat secara mendalam agar dapat menemukan
cara-cara untuk mengekspresikannya. Kita melakukannya sebagai
individu, dan belajar melakukannya sebagai bangsa. Untuk
meningkatkan kesejahteraan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan
mineral, kita harus kumpul bersama sebagai komunitas dan mengkaji
situasi kita, menggunakan kecerdasan dan kemampuan kita untuk
melihat secara mendalam sehingga kita dapat menemukan cara-cara yang
sesuai untuk mengekspresikan maitri kita di tengah berbagai
persoalan yang nyata.
Andaikan anda ingin membantu mereka yang sedang menderita di bawah
kediktatoran. Dulu, mungkin anda sudah pernah kirim pasukan untuk
menggulingkan pemerintahan mereka, tapi anda juga sudah tahu bahwa
ketika melakukan hal itu, anda menyebabkan kematian dari begitu
banyak orang yang tidak bersalah, dan meskipun telah melakukannya,
anda belum tentu berhasil menggulingkan diktator itu. Jika anda
praktikkan melihat secara lebih mendalam, dengan cinta kasih, untuk
menemukan cara yang lebih baik untuk membantu orang-orang ini tanpa
menimbulkan penderitaan, mungkin anda akan menyadari bahwa saat
terbaik untuk membantu adalah sebelum negara itu jatuh ke tangan
diktator. Jika anda tawarkan anak-anak muda negara itu kesempatan
untuk mempelajari cara-cara memerintah anda yang demokratis dengan
memberikan mereka bea siswa untuk datang ke negara anda, ini
merupakan investasi yang baik untuk perdamaian di masa mendatang.
Jika anda melakukannya tiga puluh tahun lalu, negara lain mungkin
sudah demokratis sekarang, dan anda tidak perlu membom mereka atau
mengirim pasukan untuk "membebaskan" mereka. Ini hanyalah satu
contoh bagaimana melihat secara mendalam dan pembelajaran dapat
membantu kita menemukan cara-cara untuk melakukan hal-hal yang lebih
sesuai dengan cinta kasih. Jika kita tunggu hingga situasi menjadi
buruk, mungkin terlambat sudah. Jika kita berlatih sila bersama para
politisi, tentara, pebisnis, pengacara, legislator, seniman,
penulis, dan pendidik, akan dapat kita temukan cara-cara yang
terbaik untuk mempraktikkan kasih sayang, cinta kasih, dan
pengertian.
Dibutuhkan waktu untuk melatih kedermawanan. Kita mungkin ingin
membantu mereka yang sedang kelaparan, namun kita terperangkap dalam
persoalan kehidupan sehari-hari kita. Kadang, satu pil atau sedikit
nasi saja sudah bisa menyelamatkan jiwa seorang anak, tapi kita
tidak meluangkan waktu untuk membantu karena kita pikir tidak ada
waktu. Di kota Ho Chi Minh misalnya, ada banyak anak jalanan yang
memanggil diri mereka "debu kehidupan." Mereka adalah tuna wisma
yang berkeliaran di jalan pada siang hari dan tidur di bawah pohon
pada malam hari. Mereka mengais tumpukan sampah untuk memulung
barang seperti kantong plastik yang bisa mereka jual seharga satu
atau dua sen per pon. Para biksuni dan biksu di kota Ho Chi Minh
membuka wihara mereka untuk anak-anak itu dan jika anak-anak itu
setuju untuk tinggal selama empat jam di pagi hari belajar membaca
dan menulis, serta bermain dengan para biksu dan biksuni mereka
diberi makan siang vegetarian. Setelah itu, mereka boleh pergi ke
ruang Buddha untuk tidur sejenak. (Di Vietnam, kami selalu tidur
sejenak setelah makan siang; cuacanya begitu panas. Ketika orang
Amerika datang, mereka membawa serta praktik bekerja 8 jam mereka,
dari pukul 09.00 s/d 17.00. Banyak dari kami mencobanya, namun tidak
bisa melakukannya. Kami benar-benar butuh tidur sejenak setelah
makan siang kami).
Lalu, pada pukul 14.00, ada lebih banyak lagi pengajaran serta main-
main dengan anak-anak, dan mereka yang bertahan hingga sore hari
akan dapat makan malam. Wihara tidak ada tempat untuk mereka
menginap. Komunitas kami di Perancis telah menyokong para biksuni
dan biksu tersebut. Hanya dibutuhkan 20 sen saja untuk memberi
seorang anak makan siang dan malam, dan uang ini akan mencegahnya
keliaran di jalan, di mana ia mungkin akan mencuri rokok,
menghisapnya, memakai bahasa preman, dan belajar perilaku terburuk.
Dengan mendorong anak-anak itu ke wihara, kita membantu mencegah
mereka menjadi preman dan masuk penjara di kemudian hari. Dibutuhkan
waktu untuk menolong anak-anak itu, bukan uang yang banyak. Ada
begitu banyak hal sederhana seperti ini yang bisa kita lakukan untuk
menolong orang lain, tapi, karena kita tidak mampu membebaskan diri
kita dari situasi dan gaya hidup kita, kita sama sekali tidak
melakukan apa-apa. Kita perlu kumpul bersama sebagai komunitas dan
melihat secara mendalam, berusaha menemukan cara-cara untuk
membebaskan diri kita sehingga kita dapat mempraktikkan Sila Kedua
ini.
" Aku akan berlatih kedermawanan dengan berbagi waktu, energi, dan
sumber daya materi dengan mereka yang benar-benar sedang dalam
kebutuhan.." Kalimat ini sangat jelas. Rasa kedermawanan serta
kapasitas untuk menjadi derwawan saja tidak cukup. Kita juga perlu
mengekspresikan kedermawanan kita. Mungkin kita merasa tidak ada
waktu untuk membuat orang lain bahagia kita bilang, "Waktu adalah
uang," tapi sebenarnya waktu adalah lebih dari sekadar uang. Hidup
adalah lebih dari sekadar menggunakan waktu untuk menghasilkan uang.
Waktu adalah untuk menjadi hidup, untuk berbagi suka cita dan
kebahagiaan dengan yang lain. Seringkali orang kaya adalah orang
yang paling tidak mampu membuat yang lain bahagia. Hanya mereka yang
bersedia menyediakan waktu yang bisa melakukannya.
Saya kenal satu orang bernama Bac Sieu yang tinggal di propinsi Thua
Thien di Vietnam. Dia sudah mempraktikkan kedermawanan selama lima
puluh tahun; ia adalah seorang bodhisatwa hidup. Hanya berbekal
sebuah sepeda, dia kunjungi desa-desa di tiga belas propinsi,
membawakan sesuatu untuk keluarga ini dan sesuatu yang lain untuk
keluarga itu. Waktu saya bertemu dengan dia tahun 1965, saya agak
terlalu membanggakan Sekolah Pelayanan Sosial Muda Mudi kami. Kami
mulai melatih tiga ratus orang pekerja sosial, termasuk para biksu
dan biksuni, untuk terjun ke pedesaan membantu warga desa membangun
kembali rumah mereka, serta memodernkan perekonomian, sistim
perawatan kesehatan, dan pedidikan setempat. Secara bertahap
akhirnya kami ada sekitar sepuluh ribu orang pekerja sosial yang
tersebar di seluruh pelosok negeri. Sambil menjelaskan proyek-proyek
kami kepada Bac Sieu, saya pandangi sepedanya dan berpikir, dengan
sepeda itu dia hanya bisa membantu sedikit orang. Tetapi, ketika
komunis mengambil alih dan menutup sekolah kami, Bac Sieu tetap
jalan, karena cara kerja dia adalah tanpa bentuk. Semua panti
asuhan, klinik, sekolah, dan pusat penampungan kami ditutup atau
diambil alih oleh pemerintah. Ribuan dari pekerja sosial kami
terpaksa menghentikan kerja mereka dan bersembunyi. Namun, Bac Sieu
tidak punya apapun yang bisa disita. Dia benar-benar adalah seorang
bodhisatwa, bekerja demi kesejahteraan orang lain. Sekarang saya
sudah merasa lebih rendah hati mengenai cara-cara dalam
mempraktikkan kedermawanan.
Perang telah menciptakan ribuan anak yatim piatu. Alih-alih
menggalang dana untuk membangun panti asuhan, kami cari orang di
Barat untuk mensponsori anak. Kami cari keluarga-keluarga di desa-
desa untuk masing-masing merawat satu anak, lalu, kami kirim $6
setiap bulan kepada keluarga itu untuk memberi makan dan
menyekolahkan anak tersebut. Manakala dimungkinkan, kami coba
menempatkan si anak di keluarga bibi, paman, atau kakek-neneknya.
Hanya dengan $6, anak itu diberi makan dan disekolahkan, dan anak-
anak lain di keluarga itu juga terbantu. Anak-anak mendapat manfaat
dari dibesarkan dalam keluarga. Berada di panti asuhan bisa seperti
berada dalam ketentaraan—anak-anak tidak tumbuh secara alami.
Jika
kita cari dan belajar cara-cara untuk mempraktikkan kedermawanan,
kita akan tumbuh setiap saat....[bersambung]...
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/