Kompas, Rabu, 27 Juli 2005

Komunitas Jetis Merebut Masa Depan

Hanya kehijauan di sekitar. Jalanan dari bebatuan kasar dan runcing membentang menghubungkan rumah yang satu dengan yang lain dari 67 KK di Dusun Jetis, Desa Pampang, Kecamatan Paluyan, Gunung Kidul. Anak-anak mencari serangga di antara semilir angin petang dan lenguhan sapi kadang-kadang. Suasananya mengingatkan pada lagu anak-anak ciptaan Daljono yang sudah jarang dinyanyikan, Desaku yang kucinta, pujaan hatiku.

Tak pernah dibayangkan, desa yang sekarang tampak subur makmur itu pernah mengalami gagal panen sekitar tujuh-delapan tahun lalu. Itu pelajaran yang sangat berharga bagi kami, kata Ketua Kelompok Tani Cipto Makaryo, Wito Satiyo.

Padahal tak pernah tercatat dalam perjalanan sejarah komunitas itu, di dusunnya mengalami kegagalan panen. Mulainya waktu kami disuruh menanam jenis-jenis padi baru pertengahan tahun 1980-an. Lalu kami pakai pupuk kimia sehingga air irigasinya juga tambah banyak. Kami juga mulai pakai pestisida kimia, jelas Mukarto, Bendahara Credit Union di dusun itu.

Hasil panen, menurut Mardadi, ketua II Kelompok Tani Cipto Makaryo, mula-mula berlimpah, tetapi lama-lama menyusut. Padahal sebelum tahun 1980-an itu kami hanya menggunakan pupuk kandang. Hasilnya sangat cukup, meski tidak berlimpah, kata Mardadi lagi.

Sekitar tahun 2001, Cindelaras, Lembaga Pemberdayaan Pedesaan dan Kajian Global, mulai bekerja bersama warga untuk mengelola Small Grant Program (SGP) dari Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL).

Seperti dikatakan Y Dwi Subagyo, dari Cindelaras, pendampingan diartikan sebagai menjadi teman bicara warga, bukan menentukan gerak komunitas. Warga berdiskusi dan membuat analisis sosial tentang situasinya untuk menemukan solusi.

Kembali ke asal

Komunitas petani yang bermukim di sekitar lima kilometer barat daya Wonosari, atau sekitar 45 kilometer di bagian tenggara kota Yogyakarta itu, kembali menggunakan pupuk kandang sedikit demi sedikit pada tahun 2001.

Tidak bisa langsung, karena tanahnya sudah telanjur rusak, kata Sarmadi, Sekretaris Kelompok Tani Cipto Makaryo. Kerusakan bertahap dalam kurun 13 tahun hanya bisa diperbaiki bertahap pula.

Semakin lama semakin banyak pupuk kandang yang kami pakai, sebelum nanti kembali ke pupuk kandang seluruhnya, lanjutnya. Bersamaan dengan itu, seluruh kearifan lokal kembali digunakan.

Kami meramu beberapa jenis tanaman untuk mengusir hama, memilih dan memilah jenis-jenisnya karena kadar racunnya berbeda-beda, sambung Kismorejo, dari seksi pengendalian hama terpadu.

Warga juga mulai menanam berbagai jenis tanaman palawija untuk memenuhi kebutuhan komunitas. Sisanya dijual ke pasar. Cindelaras memfasilitasi pembuatan 20 sumur di ladang-ladang mereka, membuat petani tak sulit lagi mendapatkan air.

Sistem lumbung padi dibangun per kelompok RT untuk berjaga-jaga kalau terjadi kemungkinan terburuk. Lumbung padi terkecil berdiameter dua meter dengan tinggi sekitar dua meter itu disimpan di rumah ketua-ketua RT. Lumbung desa berukuran dua kali lebih besar dari itu. Kalau ada warga yang panennya terlambat, bisa pinjam dulu dari lumbung, papar Wito.

Gotong royong di antara penduduk sudah menjadi cara hidup yang dihidupi sejak komunitas itu terbangun, entah sudah berapa lama. Sesepuh dusun ini bernama Pak Bolotis. Beliau meninggal dan dimakamkan di desa ini, sambungnya.

Pengertian lumbung pangan didekonstruksi menjadi seluruh halaman rumah dan lahan kosong, membuat rumah-rumah penduduk dikelilingi oleh tanaman palawija, pangan, dan buah-buahan. Bahan untuk masak seperti sayur, cabai, kami ambil dari kebun. Lauknya paling tahu tempe, kadang telur, dan ikan, ujar Mukarto.

Di forum pertemuan di Lo-Rejo kami tidak bisa memperlihatkan umbung pangan kami karena tidak bisa diangkat ke sana. Kalau mau lihat, silakan datang ke desa kami, kata Wito melanjutkan.

Jenis-jenis makanan instan tampaknya tidak terlalu populer di desa itu. Alasannya, Tidak ada uang, kata Tukiyem dari Kelompok Tani Wanita, sambil tertawa. Wong sudah punya lauk sendiri kok beli mi, sambung yang lain.

Desa yang sudah berlistrik dan beberapa sudah memiliki televisi itu beranggapan tontonan televisi sekadar sebagai tontonan, sehingga tawaran gaya hidup dari layar kaca itu tampaknya tak mempan di situ. Setidaknya sampai saat ini.

Mulai tahun 2001 itu komunitas ini berbenah dengan melakukan diversifikasi usaha pertanian. Kelompok tani membeli 12 lembu untuk dipelihara warga secara bergiliran dengan undian. Kalau lembu itu beranak, induknya dikembalikan ke kelompok tani, anak lembunya dimiliki oleh yang memelihara, dengan kompensasi 15 persen dari harga yang disepakati.

Harga dan jumlah 15 persen juga ditetapkan secara bersama oleh warga. Kalau harga anak lembu ditetapkan Rp 1 juta, warga membayar Rp 150.000, papar Mardaya, dari seksi peternakan lembu kelompok tani itu. Saat ini sudah 35 keluarga memiliki lembu. Belakangan, komunitas itu juga membuat pola yang sama dengan ternak kambing, setelah usaha ternak ikan gagal.

Komunitas ini tak mengenal pembagian kerja secara seksual. Perempuan dan laki-laki bersama-sama bekerja di sawah dan di ladang. Kerja rumah tangga, termasuk merawat anak, seperti dikemukakan Wartiyem dari Kelompok Tani Wanita, juga dilakukan bersama-sama.

Ketika Wito mencoba mengoreksi bahwa kerja perempuan lebih banyak di rumah, beberapa laki-laki langsung membantah, Woooo itu kuno. Maklumlah Pak Wito kan dari generasi lama, kata Mukarto. Yang menarik, lima tahun terakhir ini jumlah kepala keluarga tidak bertambah.

Jumlah anak dalam setiap keluarga dua, hanya beberapa keluarga yang memiliki tiga anak. Namun, pendidikan formal anak masih terbatas karena keterbatasan biaya. Yang kami butuhkan bukan pendidikan yang seperti apa, tetapi yang bisa membantu orang membangun dusun kami, sambung Mukarto.

Credit Union

Sejak tahun lalu, warga dusun itu mulai mengikuti pelatihan-pelatihan untuk mengelola semacam koperasi untuk memenuhi kebutuhan warga. Sebelumnya sudah ada 10-an kelompok arisan kecil, dan kami mulai dari situ, kata Marsudi, Ketua Credit Union dusun itu.

Modal awalnya Rp 20 juta, dipinjam dari Cindelaras. Pelatihan berlangsung selama delapan bulan mulai awal tahun 2004. Kami mulai mengelola Credit Union sejak bulan Agustus tahun lalu, sambungnya. Sistemnya dibuat kelompok-kelompok kecil mirip koperasi tanggung renteng. Sampai bulan April 2005, dana yang tersimpan di situ sudah sekitar Rp 46 juta.

Kebudayaan tradisi dilestarikan dalam selamatan dua kali setahun. Selamatan rasulan dilakukan setiap panen. Selamatan untuk ternak gubrekan dilakukan oleh anak-anak untuk memohon keselamatan bagi ternak-ternak mereka.

Ketika meninggalkan dusun itu malam hari, kami merasakan geliat warga yang berusaha merebut masa depannya. Mereka tak butuh definisi dari luar tentang gerakan sosial. Mereka sendiri yang mendefinisikannya dan terus berkarya, dengan kesadaran penuh merebut kedaulatannya sebagai warga negara. (Mh)

 


Start your day with Yahoo! - make it your home page

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke