Belajar Agama Buddha Belajar Diri Sendiri (1/4)

 

Oleh : Lama Thubten Yeshe

Diterjemahkan oleh : Hendy Hanusin

 

            Ketika kita belajar agama Buddha, kita belajar tentang diri kita sendiri – belajar tentang sifat mendasar pikiran kita sendiri. Fokusnya bukan pada sesuatu yang tertinggi; namun pada hal-hal praktis seperti bagaimana menjalankan kehidupan sehari-hari dan mengintegrasikannya dengan pikiran sehingga batin dan pikiran tetap damai dan sehat. Dengan kata lain, fokusnya pada pengalaman pengetahuan-kebijaksanaan, bukan pandangan dogmatis semata. Sebenarnya, dalam istilah Barat kita tidak bilang Buddhisme itu agama, tetapi lebih merupakan cara hidup (way of living), filsafat kehidupan (living philosophy), sains dan psikologi.

            Suatu kecenderungan alami dari pikiran manusia adalah mencari kebahagiaan; baik orang Barat maupun orang Timur. Tapi bila cara hidupmu terlalu terfokus pada dunia luar lewat penginderaan dan terikat secara emosional, hal ini sangat berbahaya – kalian tidak punya kendali. Pengendalian diri bukan hanya kebiasaan Timur atau sebuah perjalanan Buddhis; kita semua butuh pengendalian diri. Terutama bagi mereka yang materialistis dan secara psikologi terlalu terikat pada bentuk luar. Dari sudut pandang Buddhis, pikiran seperti itu tidak sehat, sakit mental. Kalian sudah tahu bahwa perkembangan ilmu pengetahuan eksternal saja tidak dapat memuaskan nafsu keinginan atau menghentikan masalah emosional.

            Maka metode-metode ajaran Guru Buddha menunjukkan sifat mendasar batin pikiran manusia, potensi manusia dan bagaimana kalian dapat mengembangkan diri. Lebih-lebih, metode ini tidak terfokus pada “percaya membabi buta” atau sekedar pemahaman metafisik. Namun, baik kalian religius atau tidak, atau seorang yang “percaya pada” atau “tidak percaya pada”, yang paling penting adalah mengetahui sifat dasar pikiran kalian sendiri. Bila tidak, kalian gampang beranggapan bahwa kalian sehat dan berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari padahal kenyataannya akar dari emosi-emosi yang mengganggu tumbuh semakin kuat dan dalam dalam pikiran kalian. Dengan penyebab fundamental dari penyakit mental dalam diri sendiri, suatu perubahan kondisi yang terkecil bisa menimbulkan penyakit mental dan saraf. Selama kalian tenggelam dalam keterikatan membuta pada dunia sensasi, tidak tahu sifat dasar pikiran, ini dapat terjadi. Kalian tidak dapat menolaknya dengan berkata, “Saya tidak percaya.” Kamu tidak dapat menolak hidung sendiri dengan berkata, “Saya tidak percaya saya mempunyai sebuah hidung. “ Percaya atau tidak, hidung kamu tetap berada di tempatnya bukan !

            Banyak orang Barat berkata,”Saya tidak percaya apapun”; mereka sangat bangga akan pernyataan mereka itu. Tapi coba periksa – sangat penting untuk diketahui. Di dunia Barat yang notabene tradisi kekristenan punya banyak kontradiksi : ilmuwan beranggapan mereka sendiri adalah kaum tidak percaya; kaum religius beranggapan mereka sendiri kamu yang “percaya”. Namun, baik yang percaya atau tidak, kalian terpaksa harus mengetahui pola dasar pikiran sendiri.

 

(bersambung)


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke