| Sabtu, 30 Juli 2005 |
|
Bersiap untuk Skenario Terburuk
Flu burung dengan korban terakhir ayah beserta kedua putrinya di Indonesia, begitu mengundang perhatian dunia. Ilmuwan memang telah lama meramalkan, influenza tampaknya bakal menjadi ancaman baru pada kesehatan masyarakat dunia. Bukti-bukti sudah mengarah ke pandemi itu: Hanya influenza yang mampu menginfeksi 40 persen dari penduduk dunia saat ini dan membunuh dengan jumlah yang tak terbayangkan. Flu Spanyol yang terjadi tahun 1918-1919 misalnya, membunuh 50 juta orang dalam 18 bulan. Bandingkan dengan Perang Dunia yang âhanyaâ menewaskan 8,3 juta orang dalam tempo empat tahun. Tidaklah mengherankan bila edisi terbaru Foreign Affairs, menurunkan laporan khusus tentang flu burung. Para penulisnya pun ahli di bidangnya. Ada Laurie Garrettâanggota senior Global Health di Council on Foreign Relations, Michael T Osterholm yang Direktur Center for Infectious Disease Research and Policy, William B Karesh (Direktur Field Veterinery Program di Wildlife Conservation Society), dan Robert A Cook (Chief Veterinarian di Wildlife Conservation Society). Namun, flu Spanyol tidaklah semenakutkan flu burung saat ini. Virus flu burung yang amat mematikan pada unggasâhampir seratus persen ayam ternak yang terserang matiâmemang belum begitu virulen pada manusia. Dari 108 kasus yang dilaporkan terserang subtipe H5N1 ini, 57 meninggal (sudah termasuk dari Indonesia). Walau begitu, sifat-sifat H5N1 amatlah menuntut kewaspadaan kalau tak mau ramalan pandemi baru betul terjadi. Misalnya, virus ini merupakan virus RNA sehingga mudah berubah. Virus juga mampu bercampur dengan virus flu lainâdisebut genetic reassortmentâmembentuk virus yang baru sama sekali, sehingga mampu menembus species barrier. Akibatnya, H5N1 bisa menulari tidak hanya unggas, tetapi juga mamalia (kuda, babi, sampai anjing laut), dan akhirnya pada manusia. Dengan sifat virus yang mudah berubah, tentulah amat sulit untuk membuat vaksinnya. Kalaupun berhasil seperti vaksin influenza yang sudah ada saat ini, setiap tahun harus diperbarui karena virusnya sudah berganti identitas. Belum lagi cara hidup masyarakat di Asia, yang menurut Garrett bisa buat frustrasi para ahli epidemiologi. Bayangkan, kepadatan penduduk membuat mereka harus hidup berimpitan dengan binatang peliharaan, kebiasaan menyembelih ternak tanpa prosedur yang betul, hingga membeli unggas hidup untuk kemudian disembelih sendiri di rumah. Semua itu, amat memudahkan transfer virus flu burung ke manusia. Tidaklah mengherankan bila Osterholm mengingatkan dunia untuk bersiap menghadapi yang terburuk: mungkin kita memang harus hidup berdampingan dengan flu burung dalam waktu yang panjang. Namun, yang terburuk ini bisa diminimalisir bila semua pihak mau bekerja sama. Misalnya, ahli-ahli ilmu sosial mulai mengintervensi budaya masyarakat supaya menerapkan biosafety. Artinya, mereka yang berurusan dengan unggasâterutama yang sakitâharus mengenakan pengaman lengkap dari sarung tangan hingga masker, kandang bersih dan kena cahaya matahari, transportasi hewan dengan prosedur benar, penyembelihan ternak dilakukan di tempat resmi dan diperiksa baik saat hidup maupun mati, hingga pengolahan makanan secara sehat pula. Tujuannya jelas: memutus rantai penularan ke manusia. Para pemimpin pemerintahan harus bisa meyakinkan rakyatnya untuk mengikuti prosedur keamanan. Negara maju membantu negara berkembang dengan dana dan keahliannya. Hanya dengan itu, para ahli bisa dengan tenang namun cepat bekerja keras mencari cara untuk mengeradikasi virusnya. (nes) |
Yahoo! Mail for Mobile
Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
