diterjemahkan oleh: Hudoyo Hupudio
KASIH SAYANG (METTA) UNTUK ANAK-ANAK
dengan Gregory Kramer
INTRODUKSI
Latihan Kasih-sayang, atau metta, dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara: Entah meditasi intensif untuk jangka waktu lama untuk mengembangkan keadaan konsentrasi mendalam, atau dalam kehidupan sehari-hari pada saat kapan pun ketika kita bertemu dengan orang atau binatang atau berpikir tentang mereka. Latihan sistematik mengembangkan kasih sayang untuk mencapai konsentrasi mendalam sebagaimana dipraktikkan di berbagai pusat meditasi disajikan di BuddhaNet di bagian Meditasi Kasih Sayang atau Metta Bhavana oleh Ven. Sujiva.
Untuk belajar memancarkan metta kepada semua makhluk bersama anak-anak, kita harus menimba dari gudang pengetahuan yang telah dikumpulkan oleh orang awam dan para orang tua. Itu harus merupakan pengetahuan yang tumbuh dari bertahun-tahun hidup dan mencintai bersama anak-anak dan para remaja. Gregory Kramer, ayah dari tiga anak laki-laki, menunjukkan kepada kita apa saja penyesuaian yang halus tapi cermat di dalam latihan meditasi kasih-sayang standar yang berhasil ditanamkannya di dalam kehidupan anak-anaknya. Ada tiga aspek dalam latihan metta dari Mr. Kramer bersama anak-anaknya yang tampak terutama penting bagi keberhasilannya:
- Orang tua harus tahu sendiri lebih dulu bagaimana rasanya metta, dan terbiasa memancarkannya kepada anak-anak mereka dan kepada semua makhluk.
- Anak-anak tidak boleh dipaksa untuk mengirimkan doa-doa kesejahteraan bagi diri sendiri atau bagi orang lain.
- Orang tua harus yakin akan pemahaman intuitifnya terhadap anak-anak mereka dan bersikap cukup fleksibel untuk menyesuaikan metodenya dengan umur dan kepribadian unik dari anak-anak.
Ada banyak cara yang baik untuk memancarkan kasih sayang bersama anak-anak dan para remaja. Saya berharap materi ini akan mendorong para orang tua untuk berbagi pengalaman, keberhasilan dan rintangan yang mereka alami sendiri dalam latihan metta keluarga mereka.
MENANAM BENIIH DI DALAM HATI -- LATIHAN KASIH SAYANG BERSAMA ANAK-ANAK
Sejak anak sulung saya berumur cukup untuk memahami kata-kata, saya telah melatih meditasi kasih sayang bersamanya pada waktu akan tidur setiap malam. Saya melakukan yang sama dengan kedua anak saya yang berikutnya. Sekarang sekitar enam belas tahun sudah berlalu. Saya merasa berbahagia bisa berbagi beberapa hal yang telah saya pelajari.
Kasih sayang (metta) adalah latihan meditasi yang diajarkan oleh Sang Buddha untuk mengembangkan kebiasaan mental akan cinta kasih tanpa-diri atau altruistik. Dengan membangunkan di dalam diri kita perasaan-perasaan tentang harapan kebaikan terhadap diri kita, terhadap mereka yang dekat dengan kita, dan terhadap semua makhluk, kita membuat perasaan-perasaan ini cenderung muncul dan bukan perasaan-perasaan lain yang kurang diharapkan. Kebencian tidak bisa berada bersama-sama dengan kasih sayang; ia akan larut dan tidak datang lagi jika kita menggantikan pikiran-pikiran yang berakar pada amarah dengan pikiran-pikiran yang berakar pada cinta kasih.
Kasih sayang membuat batin lebih lentur, mengatasi penghakiman-penghakiman yang muncul ketika kita menjadi lebih perseptif tentang diri kita serta orang lain, dan membawa kita mengatasi sikap mementingkan diri sendiri. Gerakan keluar sangat penting untuk mengimbangi fokus ke dalam dari latihan meditasi. Manfaat latihan kasih sayang meluas jauh keluar dari mereka yang bermeditasi. Ia memberikan kesempatan untuk menemukan sikap tidak mementingkan diri sendiri, suka cita, kemampuan menyesuaikan diri, dan pandangan yang luas. Itu merupakan latihan yang sungguh-sungguh universal dan tidak perlu dikaitkan dengan konsep keagamaan tertentu.
Saya selalu memberikan pilihan kepada ketiga anak saya. Kebanyakan malam mereka jelas ingin melakukannya. Namun, jika salah satu dari mereka sedang kesal atau marah, saya berkata, "Maukah kamu melakukan meditasi kasih-sayang malam ini?", dan jika jawabannya tidak, saya berkata, "OK, sayang," lalu menciumnya (lewat selimut jika perlu), dan mengucapkan selamat tidur. Jadi mereka tahu semua itu untuk mereka. Jika mereka melihat, ok-ok saja dengan saya bila mereka tidak mau melakukannya--itu tidak akan melukai perasaan saya--maka itu hidup dan menjadi bagian kehidupan mereka. Itu mencegah meditasi menjadi ritual yang tidak banyak maknanya.
Perasaan nyaman melakukan meditasi ini itulah yang membawanya ke dalam kehidupan mereka. Mereka mengaitkan kebahagiaan dan kedamaian mereka sendiri dengan suatu meditasi yang mendoakan kebahagiaan dan kedamaian bagi diri sendiri dan orang lain.
Rasanya juga nyaman bahwa latihan itu menjadi bagian dari malam-malam kami, seperti halnya mendongeng dan berbaring bersama mereka. Itu merupakan saat yang istimewa dengan perhatian, kelembutan, fantasi, terbukanya pikiran, dan cinta keluarga.
Saya juga tahu betapa latihan ini terasa oleh mereka ketika setelah melewati saat-saat yang tegang, misalnya sehabis bertengkar, mereka masih ingin saya berlatih kasih sayang bersama mereka. Pada waktu-waktu seperti ini kaitan-kaitan yang enak dan sehat dari meditasi kasih sayang mempunyai nilai yang unik.
Sudah lama saya mengharapkan tibanya hari ketika anak saya yang tertua, yang sekarang berusia delapan belas, tidak mau lagi berlatih. Bahkan sementara saya mengharapkan ini, dia dan saya menarik manfaat dari hubungan yang kami rasakan sebelum tidur (dan tentu saja pada banyak waktu lain). Pasak masa remaja beserta kemerdekaannya yang tumbuh kadang-kadang merupakan tantangan, tetapi hubungan istimewa ini sangat kuat. Sekarang saya mendapati hubungan yang serupa dengan anak saya yang nomor dua sementara ia memasuki masa remajanya.
Yang akhirnya terjadi ialah, sementara anak yang tertua mencapai usia sekitar enam belas tahun, saya menjadi semakin sibuk di waktu malam dan ia tidak lagi berkeras saya hadir dalam latihannya. Kadang-kadang saya bertanya kepadanya, apakah ia masih berlatih kasih sayang sendiri, dan saya senang mendapati bahwa ia masih melakukannya.
Nah, saya harus mengemukakan, semua ini bisa menghabiskan banyak waktu. Dongeng-dongeng (kebanyakan buatan sendiri dan bukan dibaca), meditasi kasih sayang, dan waktu "bersama-sama" bisa berjumlah dua puluh hingga tiga puluh menit. Dengan anak-anak di kamar terpisah, ini bisa berjumlah hingga satu jam setiap malam. Betapa pun baiknya, kadang-kadang saya tidak bisa melakukannya. Dan baik juga mengetahui bahwa latihan lima menit pun mempunyai nilai yang besar.
Yang menarik adalah, ketika saya sibuk, anak-anak masih minta "kasih sayang cepat" bahkan sebelum sebuah dongeng atau waktu "bersama-sama". Kalau saya tidak di rumah, mereka tetap melakukannya tanpa saya.
Mengirimkan Kasih Sayang ...
Berikut ini bagaimana kami berlatih kasih sayang. Saya minta mereka menutup mata dan rileks. Saya sarankan mereka untuk memperhatikan tubuh mereka, mengetahui rasanya berbaring. Lalu, mereka berpikir bersama saya sementara saya mengatakan yang berikut:
"Kirimkan kasih sayang kepada dirimu
Cintailah dirimu dengan sungguh-sungguh.
Doakan dirimu agar berbahagia.
"Pikirkanlah:
Aku cinta diriku.
Semoga aku bebas dari amarah.
Semoga aku bebas dari kesedihan.
Semoga aku bebas dari kesakitan.
Semoga aku bebas dari kesulitan.
Semoga aku bebas dari semua penderitaan.
Semoga aku sehat.
Semoga tubuhku sehat dan kuat.
Semoga aku dipenuhi kasih sayang.
Semoga aku berbahagia.
Semoga aku sungguh-sungguh berbahagia.
Semoga aku damai.
"Kupancarkan kasih sayang ini keluar.
Kupancarkan kasih sayang kepada Ayah dan Bunda.
Semoga Ayah dan Bunda bebas dari kesulitan.
Semoga mereka bebas dari kesakitan dan kesedihan.
Semoga mereka bebas dari kelekatan,
Bebas dari amarah dan kehendak-jahat.
Semoga mereka bebas dari semua penderitaan.
Semoga Ayah dan Bunda sehat dan berbahagia.
Sepenuhnya sehat dan berbahagia.
Semua mereka damai.
"Kupancarkan kasih sayang kepada kedua saudaraku.
Semoga mereka bebas dari kesedihan dan amarah.
Semoga mereka bebas dari penyakit.
Semoga mereka bebas dari semua penderitaan.
Semoga mereka berbahagia dan bebas.
Bebas dari penderitaan, bebas dari kesulitan.
Semoga mereka sejahtera dan berbahagia.
Semoga mereka damai.
"Kupancarkan kasih sayang kepada guru-guruku
dan anak-anak di sekolah.
Semoga mereka bebas dari kesedihan dan penderitaan.
Semoga mereka bebas dari amarah dan kesulitan.
Semoga mereka berbahagia.
Bebas dari semua kesulitan dan kesedihan.
Semoga mereka sejahtera dan berbahagia.
Semoga mereka damai.
"Kupancarkan kasih sayang sekarang kepada semua orang
Yang tidak kukenal -- di mana pun di dunia ini.
Semoga semua makhluk di planet ini bebas dari penderitaan.
Semoga mereka bebas dari kesakitan, kesedihan dan putus asa.
Semoga mereka berbahagia, sungguh-sungguh berbahagia.
Semoga mereka damai.
"Semoga semua makhluk di alam semesta bebas dari penderitaan.
Semoga semua makhluk di seluruh alam-alam semesta, di mana pun, bebas dari penderitaan.
Semoga mereka sejahtera dan berbahagia.
Semoga mereka damai.
"Semoga semua makhluk apa pun jenisnya, di segenap penjuru berbahagia dan damai.
Di atas dan di bawah, dekat dan jauh, tinggi dan rendah.
Segala jenis makhluk. Manusia dan bukan-manusia.
Terlihat dan tak-terlihat.
Semua binatang dan burung-burung, dan ikan-ikan.
Semua makhluk, tanpa kecuali.
Semoga mereka semua berbahagia.
Semoga mereka bebas.
"Kubuka hatiku dan kuterima kasih sayang
dari setiap makhluk sebagai balasan.
Kumasukkan cinta itu ke dalam hatiku.
Dan kubagi manfaat meditasi ini dengan setiap makhluk.
"Semoga semua makhluk sejahtera dan berbahagia.
Semoga semua makhluk sejahtera dan berbahagia.
Semoga semua makhluk sejahtera dan berbahagia.
Semoga terdapat kedamaian.
Semoga terdapat kedamaian.
Semoga terdapat kedamaian."
Setelah meditasi, setiap anak memperoleh ciuman dan kata-kata "Aku cinta padanu." Saya berbaring bersama mereka sebentar, lalu pergi.
Bagaimana melakukanya ...
Latihan ini agak berbeda dengan yang saya lakukan bersama siswa-siswa meditasi saya yang dewasa. Ada nuansa-nuansa yang saya sesuaikan dengan usia dan suasana batin, untuk membuat meditasi menjadi sesuatu yang dapat diterima anak-anak secara langsung dan emosional. Sementara anak-anak berkembang dan dunia mereka tumbuh, lingkup meditasi dapat tumbuh pula dan tetap sejalan dengan dunia.
Dengan mengawali dengan beberapa petunjuk dan bukan langsung praktik, saya menyiapkan panggung dan suasana batin. Ini menciptakan transisi dari menyimak dongeng kepada memfokuskan perhatian pada perasaan-perasaan dan kemudian mengembangkan perasaan ini menjadi kasih sayang. Suatu penyesuaian lain ialah, setiap orang, kelompok atau arah tempat kita memancarkan kasih sayang mempunyai kata-kata yang sedikit berbeda. Saya tidak mau latihan ini menjadi sekadar hafalan atau menjadi ritual. Dengan menghindari pengulangan, kita membantu agar meditasi tetap hidup dan relevan.
Kemudian, kita menumbuhkan perasaan kasih sayang pada tanah yang paling subur: secara logis adalah orang-orang (atau binatang atau tanaman) yang paling dekat dan paling kita cintai. Anak-anak itu sendiri mendapat perhatian paling banyak, berdasarkan fakta sederhana bahwa kita semua ingin bebas dari kesakitan, ketidaknyamanan, dan penderitaan lain.
Kita meluaskan kasih sayang kepada diri sendiri, kepada seseorang yang sangat kita cintai (Ayah dan Bunda), kepada orang lain yang kita cintai (Kakak dan Adik), lalu kepada orang-orang yang kita sukai (Teman-Teman di Sekolah), atau setidak-tidaknya kita tidak merasa apa-apa (para Guru, Anak-Anak lain), lalu kepada semua makhluk. Dengan orang dewasa, latihan itu mulai dari diri sendiri, kepada orang yang dicintai, lalu kepada orang yang kita tidak punya perasaan apa-apa, lalu kepada orang yang kita musuhi, lalu keluar secara geografis. Dengan anak-anak, kita perlahan-lahan menumbuhkan dunia; kita tidak "mendorong sungai". Bila mereka siap, kita meluaskan kasih sayang kepada orang-orang yang membuat kita tidak senang. Bahkan dengan anak yang paling kecil, saya kadang-kadang menambahkan orang-orang yang mungkin tidak disenanginya. Dengan anak saya yang berumur tiga belas tahun kami sering melakukannya, sekalipun tampaknya ia tidak banyak terganggu oleh orang lain.
Ada unsur improvisasi dalam cara saya melakukan latihan ini. Jika saya merasa bahwa anak-anak berada di tempat yang menonjol cinta kasihnya, saya mungkin memfokuskan pada pengiriman cinta kasik kepada para guru mereka. "Semoga mereka sungguh-sungguh bebas dari kesulitan dan penderitaan." Ini akan membantu mereka melihat guru-guru mereka sebagai manusia biasa, beserta kesakitan, memiliki kehidupan di luar ruang kelas, dan tidak terbebas dari kesalahan dan emosi. Saya mungkin juga memfokuskan kasih sayang ekstra terhadap seseorang yang membutuhkannya, seperti seorang nenek yang sedang sakit. Jadi anak dibantu untuk melihat, jika ada kebutuhan, Anda bisa keluar dari kebiasaan Anda dan memberi sesuatu yang lebih.
Dalam memancarkan kasih sayang secara geografis, saya mencoba berhati-hati agar latihan itu tidak menjadi latihan mental ("Di mana ya kota itu?"), tetapi juga agar latihan itu tidak menjadi terlalu umum sehingga tidak menghasilkan rasa meluas ("Oh, kita tengah memancarkan yang sebetulnya tidak saya pahami, saya akan berbaring di sini saja.") Ini berkembang lebih canggih bersama bertambahnya usia.
Tetapi kita harus berhati-hati untuk membuatnya menjadi pelajaran ilmu bumi, sekalipun rasa ingin tahu sedikit tidak ada salahnya ("Saya memancarkan kasih sayang ke seluruh Asia, Afrika, Australia; ke segenap samudra kepada semua makhluk di dalam samudra"). Rasa meluas amat penting di sini. Dari saya, kepada mereka, kepada semua di muka bumi, kepada semua di alam semesta, kepada semua di segenap penjuru, tanpa terkecuali. Ini membantu hati menjadi berkembang dan melunak. Ini membawa anak-anak (dan kita) keluar dari diri sendiri dengan cara yang lembut.
Pertanyaan-pertanyaan mungkin muncul dari anak-anak yang tidak akan muncul dari orang dewasa, seperti ketika anak bungsu saya ingin mengirimkan kasih sayang kepada "Yellow Blankie". Pertama-tama, saya katakan kepadanya bahwa Yellow Blankie tidak punya kesadaran. Ini tidak meyakinkannya. Lalu saya berkata, kita dapat mengirimkan kasih sayang kepada Yellow Blankie, bila "semua makhluk" bisa mencakup temannya yang terbuat dari kain jika anak saya menginginkannya. Namun, ketika kami mulai latihan kasih sayang, yang terjadi adalah:
Saya: "Saya mengirim kasih sayang kepada Ayah dan Bunda ..."
Anak saya: "... dan Yellow Blankie."
Saya: "OK, dan Yellow Blankie."
Sementara anak sulung saya menjadi matang dan pemahaman emosionalnya meluas, saya memperluas meditasi itu secara lembut. Welas asih adalah perluasan cinta, lebih jauh dalam gerak keluar dari diri kita sendiri untuk merangkul orang lain. Maka anak sulung saya bisa, setelah diajari, sesudah mengirimkan kasih sayang kepada semua makhluk, merasakan penderitaan orang lain, membiarkan hatinya beresonansi dengan kesakitan orang lain. Ini dilakukan dengan cara yang lembut tanpa menjadi dogmatik. Terdapat rasa hormat dan kematangan yang mungkin dirasakannya, sekalipun secara halus, karena boleh berkembang secara ini dalam latihannya.
Saya tidak bisa merasa pasti, tetapi saya berharap welas asih ini akan tumbuh dalam diri anak-anak saya sementara mereka berkembang ke dunia dewasa muda yang kaya dan rumit, dan dengan demikian bertindak sebagai penyeimbang bagi keangkuhan dan sikap mengadili yang muncul di wilayah itu. Khususnya saya berharap bahwa mereka dapat mengembangkan welas asih sejati terhadap orang-orang yang kurang beruntung daripada mereka, orang-orang yang tidak punya cukup untuk dimakan, tanpa pakaian dan rumah yang memadai, orang-orang yang tinggal di wilayah perang atau yang terserang penyakit. Di dalam masyarakat kita yang berkelebihan, di mana banyak dari kita tidak melihat jangkauan yang jauh dari penderitaan manusia, saya ingin secara aktif menanamkan kemampuan merasa welas asih. Welas asih itu sendiri akan tumbuh bersama pengalaman mereka.
Saya akan mencoba melakukan ini tanpa terlalu banyak melekat pada hasil atau pada proses itu sendiri. Jika anak-anak saya memutuskan mereka tidak mau melakukan ini lagi, saya berharap bisa melepaskannya dengan ringan. Tetapi untuk sekarang, selama enam belas tahun terakhir ini, mereka menghargai latihan kasih sayang ini.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
