Enam Puluh Tahun Pascarevolusi
Oleh: DITA INDAH SARI
Sentimen antikolonialisme sebagai penggerak utama revolusi nasional 1945, saya kira, sudah umum dipahami meski beberapa komponen penting dari negara Indonesia, seperti batas teritorial dan struktur ekonomi, memang diciptakan oleh penjajah Belanda.
Namun, komponen lainnya, seperti bahasa dan perspektif kemerdekaan, tumbuh di bawah perlawanan sengit terhadap penguasa kolonial. Yang menarik adalah kenyataan bahwa sentimen antikolonial ternyata tidak cukup dalam mengonsolidasikan revolusi nasional, kecuali mungkin pada tahap-tahap awal revolusi fisik. Kemampuan untuk mengintegrasikan ratusan suku, bahasa, dan ribuan pulau ke dalam nation Indonesia mensyaratkan lebih dari sekadar gairah nasionalisme.
Yang lebih unik lagi, proses integrasi ini sepenuhnya berlangsung secara damai, sukarela, tanpa todongan senapan. Sangat berbeda dari proses unifikasi nasional Inggris Raya yang memakan korban ribuan nyawa di Skotlandia, Wales, dan Inggris sendiri. Juga perang saudara saat menyatukan Amerika Serikat dan Italia.
Demokrasi ternyata menjadi jawaban yang jitu atas kebutuhan ini. Konsolidasi revolusi dapat terwujud karena setiap kekuatan politik mendapatkan tempat untuk berbicara dan beraspirasi. Visi strategis nation Indonesia dapat diterima bersama karena disosialisasi dan diperdebatkan secara terbuka dan demokratis. Aspirasi pronegara Islam, misalnya, dikembalikan kepada kehendak mayoritas rakyat dan bukan ditindas secara represif seperti pada masa Orde Baru.
Demikian juga gagasan pembentukan negara sosialis oleh kelompok kiri. Meski merupakan pertarungan politik yang melelahkan saat itu, selain demokrasi, tak ada lagi cara terbaik untuk sampai kepada konsensus dan komitmen untuk membangun Indonesia baru. Perspektif ekonomi yang antipenjajahan ekonomi asing pun dapat diterima sebagai kepentingan bersama oleh hampir seluruh kekuatan politik yang ada saat itu.
Distorsi
Seluruh pencapaian dan prestasi revolusi nasional mengalami distorsi dan pengkhianatan dalam masa Orde Baru. Keterlibatan militer dalam politik adalah distorsi terbesar yang menghancurkan bangunan demokrasi politik dan penghormatan terhadap pluralisme ideologi. Di sisi ekonomi, ketergantungan ekonomi terhadap Barat menjadi landasan baru membangun perekonomian Indonesia, menggantikan semangat anti imperialisme/kolonialisme ekonomi.
Akibatnya mudah terlihat. Mayoritas kelas pemilik modal (kapitalis/pengusaha) yang tumbuh dari situasi ketergantungan semacam ini adalah berkarakter calo dan pedagang, rapuh, dan karenanya harus bersandar pada perlindungan militer. Bukan kaum kapitalis yang setia ke gagasan demokrasi liberal dalam membangkitkan industri nasional.
Aspirasi untuk merdeka di Aceh dan Papua, sentimen lokal dan keagamaan yang mengalahkan segala konsensus tentang nation Indonesia, adalah sejumlah ekses dari dikhianatinya perspektif ekonomi dan politik revolusi nasional. Fragmentasi sosial ekonomi menjadi sangat luas sehingga masyarakat kehilangan kemampuan untuk menemukan akar dari problem bersamanya. Meskipun Orde Baru yang meletakkan landasan dalam memudarnya sentimen kebangsaan, pemerintahan pasca-Soeharto memberi sumbangan yang tidak kalah besar dalam proses ini.
Meluasnya privatisasi dan lepasnya sejumlah aset nasional ke tangan perusahaan asing jelas merupakan bukti semakin minimnya kontrol negara/rakyat terhadap basis ekonominya sendiri. Kehancuran industri nasional yang menyebabkan jutaan orang ter-PHK menjadi pertanda bahwa pemerintah pasca-Soeharto tidak meletakkan perlindungan terhadap perekonomian nasional sebagai prioritas kebijakan ekonominya di tengah serbuan globalisasi.
Sektor pertanian adalah obyek penderita yang paling jelas dari neokolonialisme ekonomi. Tak satu produksi dan industri pangan kita pun saat ini yang lolos dari proses kehancuran akibat kebijakan neoliberal. Tak hanya produksi beras yang terus merosot, tetapi juga gula, karet, kedelai, kelapa sawit, cengkeh, dan jagung. Sektor pertanian selama ini merupakan sektor yang rendah produktivitas karena teknologi, modal, dan pasarnya tidak dilindungi negara dari ekspansi pasar bebas. Kemampuan negeri- negeri kaya melipatgandakan hasil pertaniannya membuat negeri seperti Indonesia akan menjadi pasar saja bagi produk-produk mereka.
Proses pembentukan perspektif ekonomi, sosial, dan politik yang terhenti selama ini harus dimulai kembali, terutama di kalangan tokoh masyarakat. Demokrasi, karenanya, menjadi prasyarat yang menentukan agar setiap komponen dapat menyumbangkan gagasannya, persis seperti yang terjadi 50-60 tahun lalu. Meski demikian, demokrasi sebagai perspektif politik saja sama sekali tidak cukup untuk menjadi pengikat. Kekompakan politik harus dibangun di atas landasan yang konkret, yaitu landasan kebijakan ekonomi.
Menemukan kembali
Ikatan yang kuat untuk membangun kembali kesatuan adalah semangat menghadapi penjajahan dan eksploitasi ekonomi neoliberal. Hampir seluruh unsur masyarakat berkepentingan untuk menjawab persoalan itu karena saat ini hampir seluruh sektor kehidupan rakyat tengah dilabrak oleh arus pasar bebas. Ia menjadi problem pokok bersama, yang karenanya dapat menyatukan. Ia adalah mimpi buruk para petani, buruh, kaum perempuan, anak sekolah, para pemuda, golongan minoritas, nelayan, bahkan pengusaha dalam negeri. Semakin meratanya pihak yang dirugikan oleh kebijakan ini dapat menjadi pegangan agar sentimen ini tidak disalahgunakan oleh elite lokal dengan mengatasnamakan rakyat. Atau menjadi nasionalisme sempit yang semata-mata anti-asing.
Namun, prinsip kesukarelaan harus menjadi dasar penerimaan prinsip dan bentuk-bentuk kesatuan. Konsensus dan kesetiaan untuk membangun Indonesia yang lebih adil tidak mungkin tumbuh dari todongan senjata dan sabetan pedang.
Dita Indah Sari Ketua Partai Rakyat Demokratik
Start your day with Yahoo! - make it your home page
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
