Namo Buddhaya, Sebagai seorang guru,mungkin saya bisa memberikan masukan. Sebaiknya sekolah Buddhis menanamkan nilai2 Buddhis dalam setiap kurikulumnya. Paling tidak dalam kegiatan pembelajaran sehari-harinya,misalnya setiap kali bertemu guru anak2 DIWAJIBKAN bersikap anjali. Ada baiknya kita sedikit "mencotek" sistem pendidikan sekolah Kristen/Katholik, mereka benar2 terarah dan menyeluruh, tapi tentu saja diadaptasi menurut nilai2 Buddhis. dan yang terpenting, dalam mendidik anak2, guru2 harus berpedoman pada Buddha Dhamma (misalnya, jika ada anak yang marah karena diganggu temannya, kita harus mengajarkannya untuk tidak mengganggunya TERLEBIH DAHULU/hukum sebab-akibat)
Semoga bermanfaat, Diana K, S.Pd. --- Mogui <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Salam bagi semua, > > Maaf yah sebetulnya saya gak mao nimbrung ngomong > masalah sekolah. > > Sepertinya menurut analisa saya, untuk membangun > (fisik) sekolah > yang bernuansa Buddhistis bukannya tidak mungkin. > untuk membiayai pembangunan sekolah dengan sistem > yang berbau > Buddhistis pun tidak sulit. > > Karena tidak sedikit orang yang cukup mampu > memberikan uangnya > (seperti meludah) untuk pembangunan tersebut. > Kalau cuma butuh 100 M, jika semua umat Buddha > bergabung, masa sih > tidak bisa menyumbangkannya, kita bisa lihat Vihara > di pinggir jalan > tol (lodan), di Tanjung Duren, di Sunter, di Mendut, > di Bali, di > Trowulan. > > Tapi mengapa uang tersebut tidak keluar... menurut > pandangan saya > sederhana... umat Buddha tidak dapat saling percaya, > Tidak solid. > Siapa yang mau kasih uang begitu saja kepada orang > yang belum ia > kenal (luar dan dalam). Masih banyak keraguan. > > Kebanyakan kita ini masih mengeluarkan teori tentang > sistemlah, > manajemenlah, kurikulumlah, jangan salahkan faktor > luar coba liat ke > dalam dulu deh. > > "Apakah saya dapat dipercaya oleh orang lain???" itu > patut > direnungkan. Kita bisa dipercaya orang lain karena > kita bertindak > lurus dan jujur apa adanya. > > Biasanya orang yang senang berteori tentang hal-hal > ini gak bisa > kerja, terlalu banyak alasan untuk bekerja. > > Maaf yah kalo perkataan saya kasar sekali > kelihatannya > > salam > > --- In [email protected], "pelayan_buddha" > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear Bro Wijaya, > > > > Sekuntum teratai untuk anda, seorang calon Buddha. > > > > Terima kasih untuk inputnya. > > > > Bersedia menceritakan pandangan Bro lebih jauh > mengenai esensi > seminar > > "Berpikir positif kunci menuju sukses", yang > dibawakan oleh Bpk. > Adi > > W. Gunawan? Dan bagaimana relevansinya dengan > pendidikan Buddhis? > > > > Karena kami ada retret pemula Dharmajala yang akan > berlangsung dari > > tgl 2 s/d 4 Sep 05, saya baru bisa berinteraksi > minggu depan. > > > > > > Anumodana > > > > JL > > > > --- In [email protected], "Wijaya" > <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > Rekans semua, > > > > > > > > > > > > Kalau kita mau bikin sekolah, jangan yang > biasa-biasa aja. Mesti > ada > > sesuatu > > > yang bernilai lebih, sebagai DAYA TARIK. > > > > > > > > > > > > > > > > > > Mengingat: > > > > > > 1. Dulu saya pernah baca ulasan kurang lebih: > > > > > > "Kalau kita bikin film, diberi judul "Nada dan > Dakwah"--Filmnya > Rhoma > > > Irama--dengan judul sedemikian vulgar, bagaimana > umat lain mau > nonton? > > > Bandingkan dengan judul "Home Alone", yang > memasukkan tema > natal. Umat > > > kita(Muslim) pun berbondong-bondong > menontonnya." > > > > > > > > > > > > 2. Adakah sekolah K yang menyatakan bertujuan > untuk mengkonvert > > umat lain? > > > > > > > > > > > > 3. Kita Buddhist adalah minoritas di Indonesia. > > > > > > > > > > > > > > > > > > Jadi, kita jangan menonjolkan kebuddhisannya. > Ini akan membuat > takut > > Umat > > > lain, dalam arti menghindari sekolah Buddhis. > Kita minoritas, > karena itu > > > cara konfrontatif adalah bunuh diri. Sekolah K > aja tidak vulgar > > menyatakan > > > untuk mengkonvert. Kalau vulgar, lalu umat lain > takut memasukkan > > anaknya, > > > sedang Buddhistnya masih ragu2, akhirnya > kekurangan murid. sepi. > tutup. > > > > > > > > > > > > > > > > > > Kebetulan tanggal 27 Agustus kemarin saya ikut > seminar "Berpikir > positif > > > kunci menuju sukses", yang dibawakan oleh Bpk. > Adi W. Gunawan. > Kalau ga > > > salah dengar, beliau mantan "anak Tuhan", K. > Beliau Seorang > > Re_Educator dan > > > Mind Navigator. Sekarang adalah kepala sekolah. > > > > > > Isi seminar tsb bisa dibaca lewat > bukunya:"Manage Your Mind for > > Success". > > > Diterbitkan PT Elex Media Komputindo. Bahasa > Indonesia, walau > judulnya > > > bahasa Inggris. > > > > > > > > > > > > Bahwa cukup banyak ketidak suksesan kita > disebabkan karena orang > > tua, guru > > > kita sendiri yang menginstal program pikiran > buruk. Padahal, > pikiran > > adalah > > > pelopor, pembentuk. Jadi, beliau menggabungkan > syair Dhammapada, > > Abhidhamma > > > dengan penelitian para pakar soal pikiran dan > pengajaran. > > > > > > > > > > > > Program pikiran tersebut, menjadi pikiran bawah > sadar yang sangat > > menentukan > > > konsep diri kita, kesuksesan kita. Karena itu, > sejak usia o > (nol) tahun, > > > anak mesti diberi pikiran yang positif. Malah > program pikiran > apa yang > > > ditanam antara usia 0 s/d 7 tahun, adalah yang > paling menentukan > > > perkembangan seseorang. Bila telah lewat usia > 21, mulai sulit > untuk > > > membentuk pola pikirnya lagi. > > > > > > > > > > === message truncated === ______________________________________________________ Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort. http://store.yahoo.com/redcross-donate3/ ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
