|
Kijang
Emas
- Salah Satu
Kehidupan Budha di Masa Lampau -
Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai Retret Internasional
Tujuh-Hari, Phnom Penh, Kamboja 14 Mei 1996
Ini adalah
sebuah cerita yang berjudul "Kijang Emas". Ada banyak cerita mengenai "emas" di
dalam sini (Guru menunjuk pada buku yang Ia baca), tetapi saya hanya mengambil
yang satu ini. Saya tidak tahu mengapa; mungkin saya suka kijang. Ini adalah
cerita dari salah satu kehidupan lampau Sang Buddha. Saat Anda mendengar apa
saja mengenai "emas", itu menunjuk pada Sang Buddha. Jadi saya tidak perlu
mencoba memperkenalkannya.
Dahulu kala ada seorang pedagang yang sangat
kaya raya yang tinggal di Benares. Ia hanya memiliki satu putera yang bernama
Mahadanaka Ananda. Ini berarti seseorang yang tahu uang saja. Ini adalah nama
yang jelek. Karena "Ananda" berarti kebahagiaan. Jadi mungkin ia memperoleh
kebahagiaan hanya dari uang, atau mungkin itu hanyalah julukannya.
Sejak
ia muda, orang tuanya sangat memanjakannya karena ia adalah anak laki
satu-satunya. Maka ia besar tanpa pengetahuan kecuali hal bernyanyi, menari,
berpesta, dan bersukaria dengan teman-temannya, dengan uang dari orang tuanya.
Dan ketika ia telah cukup umur, orang tuanya mendapatkan seorang istri untuknya.
Tak lama kemudian, mereka mati. Dan setelah kematiannya, anak muda tersebut
menghabiskan semua waktunya bermalas-malasan dengan teman-temannya. Ia melewati
seluruh hari dengan minum-minum dan berjudi.
Sebagai akibatnya, uang
ayahnya dengan cepat habis, dan orang muda tersebut terpaksa meminjam uang dari
orang lain, tetapi ia tidak bermaksud untuk membayar kembali hutangnya. Ia tidak
pernah tahu bagaimana bekerja untuk menghasilkan uang, dan ia tidak pernah tahu
bagaimana menyimpannya. Mungkin ia tidak diajarkan bagaimana cara berhemat.
Mungkin orang tuanya juga bersalah karena mereka seharusnya telah mengajarkan
padanya bagaimana menjadi seorang manusia, dan tidak hanya bagaimana menjadi
seorang anak dari orang kaya.
Karena ia meminjam banyak uang pada orang
yang berbeda-beda, mereka terus-menerus datang ke rumahnya dan menekannya. Ia
menjadi sangat putus asa karena takut dan kuatir dan tidak tahu apa yang harus
dilakukan. Akhirnya, ia memutuskan sebuah rencana tindakan. Ia amat, sangat
tertekan dan putus asa, sehingga ia memanggil semua kreditornya dan mengatakan
pada mereka bahwa ia memiliki sebuah harta karun yang terpendam dekat tepi
sungai Gangga. Dan jika esok hari mereka pergi bersamanya, mereka semua dapat
pergi dan melihat bersama harta karun tersebut. Dan kemudian ia akan membayar
kembali semua hutangnya pada mereka.
Karena itu, semua kreditor sangat
gembira dan mengikutinya ke tepi sungai. Ia mencoba mencari kesana kemari, dan
setiap orang mengikutinya, meskipun ia tampak kebingungan atas apa yang ia
lakukan. Tetapi pria ini bermaksud untuk bunuh diri; semua ini hanya untuk aksi
saja. Jadi saat ia tiba pada sebuah tempat di dalam sungai yang sangat deras
arusnya, ia menerjunkan diri. Semua kreditor sangat terkejut dan terpaku tak
berdaya. Tidak seorang pun yang berani menyelematkannya karena airnya sangat
deras.
Saat mereka melihat bahwa ia telah lenyap, semua kreditor dengan
sedih kembali ke rumah. Mereka berpikir bahwa ia mati dan tenggelam. Karena ia
telah tersapu pergi sangat jauh dalam arus yang sangat deras. Dan mereka tidak
melihatnya lagi di hilir sungai; karena itu, mereka pergi. Tetapi saat tubuhnya
yang tidak sadar mengalir di bawah sungai, ia melewati rumpun bunga dan hutan
pohon mangga. Dan seekor kijang yang sangat indah dan gesit tinggal di sana,
jauh dari kawanan kijang lainnya. Kulitnya berkilau laksana sepuhan emas, dan
kakinya terlihat seakan-akan dipoles dengan pernis. Tanduknya bagaikan untaian
perak, dan matanya berkerlip laksana permata mulia.
Sang kijang sedang
menggigit beberapa rumput lunak saat ia mendengar tangisan ribut bergema dari
hutan. Dengan berlari turun ke tepian sungai, ia melihat anak pedagang yang
malang berjuang di dalam air. Seketika itu juga ia berteriak, "Tunggu! Jangan
takut! Aku akan datang untuk menyelamatkanmu." Jadi ia meloncat ke dalam sungai,
dan berenang dengan keras melawan arus, untuk mencapai pria itu. Kemudian kijang
meletakkan pria tersebut di atas punggungnya dan membawanya dengan selamat
kembali ke darat.
Namun putera pedagang tersebut amat letih kemudian
pingsan. Selama tiga hari tiga malam, ia tak sadarkan diri, dan sang kijang
merawat dan memberinya makan dengan buah-buahan liar. Ketika pria tersebut
pulih, sang kijang berkata padanya, "Sekarang saya akan membimbingmu keluar dari
hutan dan menunjukkanmu jalan ke Benares. Tetapi saya punya satu permintaan.
Tolong jangan ceritakan pada raja atau para bangsawan bahwa seekor kijang emas
hidup di dalam hutan. Karena mereka akan datang kemari dan mencoba untuk
menangkap saya jika mereka mengetahuinya." Karena putera pedagang itu sudah
berjanji, lalu sang kijang membawanya ke jalan menuju ke Benares.
Pagi
itu, Ratu Kama, permaisuri Raja Benares pada waktu itu, bermimpi. Di dalam mimpi
ia melihat seekor kijang emas berbicara dalam bahasa manusia. Ia berpikir pada
dirinya sendiri, "Pasti ada hewan seperti ini. Jika tidak, aku tidak akan
bermimpi mengenainya." Karena itu, ia pergi pada Raja, Brahmadatta. Ia bercerita
padanya mengenai mimpinya dan bahwa ia menginginkan untuk memiliki hewan semacam
itu. Jika tidak, ia akan mati.
Ini adalah muslihat dari wanita tersebut.
Bagaimanapun juga cepat atau lambat ia akan mati, jadi apa masalahnya? Namun
sang raja, seperti kebanyakan pria di planet ini juga sangatlah bodoh. (Tertawa)
Ia sangat takut terhadap istrinya, bahwa ia mungkin akan benar-benar mati. Jika
ia mati demi sang raja, hal itu dapat dimaklumi. Tetapi jika ia mati karena
seekor kijang, betapapun keemasannya itu, hal itu akan tampak lucu. (Tertawa).
Tetapi sang raja membelikannya. Bagaimanapun, hal itu hanya untuk membuat Anda
tahu bahwa Anda bukanlah satu-satunya orang yang bodoh, dan siapa bos
sesungguhnya di rumah itu. Bahkan pada masa sang Buddha itu sama. Karena itu,
saya tidak mengerti mengapa para wanita sekarang ini memboroskan waktu mereka,
berdemonstrasi dan memberi ceramah bagi semua jenis hak-hak perempuan dan
persamaan hak perempuan. Perempuan tidak akan pernah sama dengan laki-laki.
Mereka superior dibanding laki-laki! Saya tidak tahu siapa yang seharusnya
berjuang demi persamaan hak. Perempuan tidak pernah sejajar dengan laki-laki.
Karena itu, beritahukan pada semua perempuan bodoh ini untuk menghentikannya.
Jangan merendahkan martabat kita. Kita superior; persamaan hak apa yang mereka
perjuangkan? (Tertawa)
Karena itu, sang raja dengan segera menyuruh
memanggil para orang bijak dan menanyakan tentang kijang emas ini, yang berharga
dan amat jarang. Dan para orang bijak mengiyakan: "Ya, ada hewan semacam ini."
Tetapi mereka tidak tahu di mana sang kijang tinggal. Karena itu, sang raja
memesan seekor gajah dengan hiasan yang kaya dan berkata pada tentara, "Bawalah
gajah tersebut dan seribu helai uang. Pergilah ke seluruh penjuru kota. Nyatakan
bahwa barang siapa dapat memberitahukan tentang seekor kijang emas, ia akan
mendapatkan sang gajah dan uang sebagai imbalannya." Sekarang Anda tahu siapa
bossnya, bukan? Dengan segera ia menghabiskan seluruh uangnya untuk istrinya.
Pada waktu itu, mungkin ia sudah tua. Tetapi mungkin semakin ia tua,
kekuasaannya semakin kuat.
Karena itu, sang tentara menaiki seekor kuda
putih dan berkendara ke seluruh kota memberitakan dengan keras mengenai perintah
raja. Anak pedagang, yang baru saja memasuki Benares, mendengar kabar tersebut
dan pergi kepada tentara, dan berkata, "Saya dapat memberi informasi mengenai
kijang emas yang beliau cari. Bawalah saya padanya." Dan tentara tersebut
membawa anak pedagang ke istana dan memohon untuk bertemu dengan raja. Setelah
bertamu, ia kemudia berkata, "Yang mulia, pria ini berkata bahwa ia mengetahui
di mana kijang emas dapat ditemukan." Mendengar hal itu, sang raja merasa sangat
senang dan meminta putra pedagang untuk membawanya ke sana.
Kemudian
raja membawa pasukan tentara yang besar dan informan ke hutan di mana kijang
emas tinggal. Saat mereka tiba, putra pedagang berkata, "Yang mulia, dalam
rumpun bunga pohon mangga tinggallah kijang emas yang Anda cari." Lalu raja
berkata pada bawahannya, "Kepung hutan kecilnya dan siapkan busur dan panahmu.
Kalian sama sekali tidak boleh membiarkan kijang tersebut lepas." Dan raja
mengendarai kudanya sendiri masuk dan menangkap kijang hanya untuk istri yang
dicintainya. Sekarang Anda dapat melihat seperti apa seorang raja itu, dan untuk
apa? (Guru dan semua orang tertawa).
Sang kijang, yang sedang
beristirahat di bawah naungan pohon, mendengar suara dan dengan seketika
waspada. Ia bangkit dan melihat raja berdiri di kejauhan dengan putra pedagang
dan sekelompok anggota istana. Ia berpikir pada dirinya sendiri, "Aku akan
selamat di tempat sang raja berada sehingga aku harus pergi kepadanya." Itulah
apa yang dipikirkan kijang sehingga ia berlari ke tempat sang raja. Secepat
angin, ia berlari menuju ke arah raja. Tetapi sang raja dengan segera mengangkat
panahnya dan bersiap untuk melepaskan busur. Karena ia berpikir bahwa jika
kijang dilukai kakinya atau di tempat lainnya, akan mudah untuk menangkapnya.
Tetapi sang kijang berteriak dengan sangat keras, berkata, "Yang Mulia Raja,
berhentilah. Tolong jangan lepaskan panah Anda."
Sang raja sangat
terkejut oleh suara lantang sang kijang, dan ia menjatuhkan panah dan busurnya.
Para tentara dan orang lain juga berkerumun dalam keheranan, karena tidak
seorang pun sebelumnya pernah mendengar seekor kijang berbicara dalam bahasa
manusia. Karena itu, sang kijang pergi ke arah raja dan bertanya padanya dalam
suara semanis madu: "Siapa yang membawa kabar pada Anda, oh Raja, bahwa saya
dapat ditemui di sini?"
Karena itu sang raja menunjuk pada putra
pedagang dan berkata, "Dia." Sang kijang kemudian menolehkan kepalanya pada si
pengkhianat dan berkata dengan sangat sedih, "Akan lebih baik mendorong keluar
sebatang kayu dari sungai daripada menyelamatkan orang seperti Anda." Jadi, ia
memaki pengkhianat tersebut. Sang raja sangat terkejut dan bertanya pada kijang,
"Perbuatan salah apa yang telah ia lakukan terhadapmu?" Dan sang kijang
menjawab, "Yang Mulia, saya menyelamatkan nyawa orang ini pada saat ia tenggelam
dan membawanya ke tempat aman, serta merawatnya selama tiga hari hingga ia
sembuh. Dan saya berkata padanya untuk tidak menceritakan pada siapapun di mana
saya ditemukan, dan ia berjanji demikian. Sekarang, karena perbuatannya yang
tidak tahu berterima kasih, saya berada dalam bahaya." Hal itu karena ia
mencintai emas dan uang sehingga putra pedagang menjual penyelamatnya.
Mendengar ini, sang saja sangat marah. Ia berbalik ke putra pedagang dan
berkata, "Kamu telah membayar kemurahan hati dengan pengkhianatan yang hina.
Untuk ini, kamu harus mati." Karena itu, ia mengangkat busur dan panahnya dan
bersiap untuk menghujam sang pengkhianat. Tetapi putra pedagang sangatlah
ketakutan dan gemetar. Ia bertekuk lutut dan memohon kemurahan hatinya.
Melihat keadaannya yang menyedihkan, sang kijang tergerak oleh belas
kasihan dan berkata pada raja, "Mohon lepaskanlah ia. Jangan ada darah orang
malang ini dalam hati nurani Anda. Berikan ia uang yang Anda janjikan padanya,
dan suruh ia pergi." Sang raja tertegun sejenak, tetapi akhirnya mendengarkan
permohonan kemurahan hati dari sang kijang. Dan ia berkata pada putra pedagang,
"Kamu berhutang nyawa dua kali pada kijang yang mulia ini." Kemudian ia berkata
padanya, "Pergilah dari sini segera, dan jangan pernah kembali pada kerajaanku
lagi atau kamu akan dihukum mati." Putra pedagang langsung mengambil langkah
seribu dan menghilang ke tengah hutan, tidak pernah terlihat lagi.
Kijang yang mulia dan bijaksana, menoleh ke raja, berkata, "Yang Mulia
Raja, lolongan serigala dan burung bercicit mudah dimengerti. Tetapi kata-kata
dari manusia sering penuh dengan akal bulus. Anda mungkin berpikir bahwa seorang
manusia adalah teman Anda tetapi Anda akan sadar bahwa ia telah mengkhianati
Anda." Sang raja kagum atas kebijaksanaan dan kecerdasan kijang dan memutuskan
untuk mengaruniainya sebuah anugerah. "Katakan padaku apa yang kau inginkan,
Kijang Emas. Dan itu akan menjadi milikmu. Apapun yang kau inginkan, meskipun
aku kehilangan kerajaanku, aku akan menganugerahkannya padamu."
Kijang
berpikir dengan seksama dan berkata, "Anugerah yang saya minta adalah agar
seluruh hewan yang ada di dalam kerajaanmu selamanya akan bebas dari bahaya."
Sang raja tersentuh oleh belas kasih dari kijang emas ini dan menyetujuinya.
Kemudian beliau membuat sebuah pernyataan bahwa siapapun yang mencelakai segala
hewan di dalam kerajaannya akan dihukum berat, dan Ratu Kama sangat bahagia
memandang kijang yang rupawan yang berlapiskan emas seperti yang ia lihat di
dalam mimpinya. Ia mendengarkan dengan rasa senang pada saat kijang berbicara
padanya dalam suara manusia yang berbunyi seperti gemerincing bel perak.
Untuk waktu yang lama, kijang emas tinggal di Benares bersama sang raja
dan ratu. Kota dihiasi, dan pesta diselenggarakan sebagai penghormatan pada
hewan. Kemudian ia kembali ke hutan di mana telah ia tinggali untuk waktu yang
lama. Di sana ia menghabiskan sisa hari-harinya dalam kedamaian.(Tepuk tangan)
Ini adalah cerita yang baik. Jika kita umat manusia dapat meniru bahkan
satu bagian kecil dari kualitas mulia dari sang kijang emas ini, maka dunia kita
akan menjadi surga. Tetapi sayangnya, kebanyakan dari kita selalu mencoba untuk
merebut segala sesuatu untuk diri kita sendiri, dalam setiap keadaan. Bahkan
dalam latihan rohani, kita masih tidak dapat menghentikan ketamakan dan egoisme,
mencoba untuk merampas berkat spiritual dengan mengorbankan orang lain. Hal ini
bahkan lebih gawat daripada mencoba untuk merampas harta benda atau harta milik
orang lain dalam dunia fana, karena kita sudah berada dalam jalan rohani. Karena
itu, apapun yang kita ambil, kita harus mengusahakannya sendiri. Kita dapat
meminta berkah, bimbingan, dan pertolongan kapanpun kita membutuhkannya. Hal ini
tidaklah mengapa pada saat kebutuhan muncul atau saat diperlukan, tetapi tidak
saat mengorbankan kebahagiaan dan menyebabkan kesusahan orang lain. Coba
ingatlah ini.
Di dalam setiap situasi kehidupan, kita harus selalu baik
budi dan tak berprasangka. Ini bukan berarti saya meminta Anda untuk selalu
mengorbankan diri Anda, bahkan jika hal ini untuk kebahagiaan atau keberhasilan
orang lain. Tetapi paling tidak berlakulah dengan wajar. Karena jika kita
sebagai praktisi tidak dapat berlaku dengan adil, bagaimana kita dapat
mengharapkan dunia luar bertindak adil terhadap kita atau menjadi sebuah tempat
yang lebih adil bagi setiap orang untuk hidup di dalamnya. Jadi jika tidak adil
di sini, saya tidak dapat percaya bahwa Anda akan adil di luar terhadap orang
lain. Dan saya tidak dapat menerima siswa seperti ini, khususnya setelah Anda
sudah belajar lama dengan saya. Bahkan jika Anda pendatang baru, saya tetap
tidak punya maaf untuk Anda. Karena telah tersedia bagi Anda kaset video, kaset
audio, buku, dan segalanya. Anda tidak dapat berkata pada saya bahwa Anda baru
sehingga Anda tidak tahu apapun. Jiwa Anda tahu mana yang benar dan mana yang
salah. Itulah sebabnya Anda datang kemari.
Jika Anda ingin mengubah diri
Anda menjadi seekor rubah, itu masalah Anda, tetapi jangan mengorbankan
perkumpulan. Anda datang ke sini tidak untuk mencuri berkah dari seluruh
kelompok. Anda tidak datang ke sini untuk bersaing satu sama lain untuk tempat
duduk terbaik dalam teater, seperti orang luar. Bahkan orang luar, jika mereka
menginginkan tempat duduk terbaik dalam teater, mereka membayarnya! Mereka lebih
adil di luar sana. Jadi Anda membayar untuk tempat duduk terbaik dengan latihan
rohani dan dengan usaha Anda. Jangan mencoba untuk mencari apapun di sini,
karena saya tahu. Saya tahu apa yang menjadi milik siapa. Jika Anda mencoba
untuk mencuri di sini, Anda dipersilahkan membuang Lima Pantangan dan tidak
repot-repot datang kemari lagi. Karena ini adalah tempat di mana Anda harus
menjadi teladan dari status rohani Anda. Jika Anda tidak dapat menunjukkannya
pada saya di sini, maka di mana lagi Anda akan menunjukkannya?
Kita
seharusnya tidak pernah melupakan martabat dan tujuan mulia kita di setiap
tempat, apapun harganya. Jika kita berlatih degan baik, jika kita mencintai Guru
dan mencintai Tuhan, Tuhan mengetahuinya. Guru tahu, pasti. Anda dapat melihat
dari kisah sang kijang bahwa kijang bahkan lebih baik daripada kebanyakan umat
manusia. Karena itu, kita harus belajar dari semua hewan emas ini. Kita tidak
peduli apakah mereka reinkarasi masa lalu Buddha atau tidak; perbuatan mereka
memperlihatkan pencapaian rohani mereka. Karena itu jangan terlalu bangga bahwa
kita adalah manusia, jika kita tidak dapat melakukannya.
Sebenarnya saya
tidak tahu mengapa kita harus bangga bahwa kita adalah manusia. Contohnya, saya
baca di koran, saya dengar di radio, dan saya lihat di TV tentang begitu banyak
hewan mulia yang menyelamatkan orang. Mereka menyelamatkan anak mereka sendiri,
bahkan dengan mengorbankan hidup mereka sendiri. Ada sebuah gambar mengenai
seekor kucing. Ia sepenuhnya terbakar, buta, dan ketakutan karena ia kembali
sebanyak empat kali ke dalam api dari rumah yang terbakar untuk menyelamatkan
keempat anaknya. Ia terbakar dan buta dan tidak dapat dikenali lagi. Tetapi ia
membawa mereka semua keluar dan selamat, kucing ini.
Seekor kucing
sangatlah mandiri. Setelah ia megandung, saya pikir ia tidak lagi mendapatkan
bantuan dari kucing laki-laki atau ayah kucing. Ia membesarkan anaknya sendiri.
Dan saya telah melihat banyak kucing di sekitar kita yang kadang-kadang
melakukan semua hal yang indah untuk anak mereka. Saya melihat satu kucing
membawa makanan yang indah - maafkan saya, bukan hal yang sangat indah untuk
diceritakan - tetapi saya melihatnya membawa makanan yang terbaik, seperti
seekor tikus atau beberapa makanan besar lain untuk anaknya. Dan ia menangkap
lalat, serangga, atau hewan kecil lainnya untuk dimakan dirinya sendiri. Saya
tidak menyetujui diet non-vegetarian, tetapi saya tidak dapat berunding dengan
seekor kucing. Dan saya tersentuh oleh pengabdiannya. Karena seekor kucing hanya
dapat memakan ini, dan ia melakukan yang terbaik untuk memberikan nutrisi bagi
anaknya sementara ia makan sampah untuk dirinya sendiri. Saya melihatnya dengan
mata saya sendiri. Saya tidak akan memarahinya karena memakan makanan
non-vegetarian atau membunuh tikus. Saya hanya tersentuh oleh kasihnya.
Gambar ini masih tergambar jelas dalam pikiran saya setiap saya berpikir
mengenai kucing. Karena itu saya tidak tahu mengapa kita manusia memperlakukan
hewan dengan amat kejam, kebanyakan dari kita, dan berpikir mereka sebagai
makhluk dengan tingkatan yang rendah. Menurut saya banyak hewan yang bersifat
mulia. Mereka sangat mulia dan penuh kasih terhadap sesamanya, sebagaimana
halnya terhadap yang lain. Dan kadang-kadang Anda melihat seekor kucing atau
anjing berenang di dalam sungai yang sangat berbahaya untuk menyelamatkan
kawannya. Baik itu teman manusia atau teman anjing atau teman kucing; mereka
melakukannya - dengan risiko hidup mereka sendiri. Tetapi tidak banyak dari kita
manusia berani melakukan ini. Pada saat kita melihat sebuah situasi yang
berbahaya, kita tidak menyabung nyawa kita. Tetapi saat hewan melihat bahaya,
mereka masih mengorbankan hidup mereka, atas dasar kasih.
Jadi jika kita
manusia tidak dapat kembali pada insting alami akan belas kasih dan rasa sayang,
yang masih dimiliki hewan, maka kita seharusnya meyesal terhadap diri sendiri
daripada berbangga diri. Dan itulah alasan megapa kita harus vegetarian, karena
hewan sungguh-sungguh mulia. Mereka benar-benar memiliki kualitas manusia dan
jiwa di dalam diri mereka, seperti halnya kita. Karena itu saya berpikir baik
juga ketika kita belajar dari hewan. Bukan berarti kita belajar untuk menjadi
seekor hewan, tetapi kualitas mereka yang baik harus kita ingat sehingga kita
tidak merasa malu berada lebih rendah daripada standar hewan.
Kita harus
naik ke posisi mulia orang suci. Untuk melakukannya, kita harus memiliki belas
kasih dan rasa sayang dan pengertian serta pengorbanan untuk tidak mementingkan
diri sendiri sepanjang waktu, baik itu saat retret, di rumah, di supermarket,
atau di manapun juga, bahkan di dalam hutan di mana tidak ada seorang pun dapat
melihat kita dan tidak seorang pun ada untuk mencatat perbuatan baik kita atau
memuji usaha kita yang mulia. Kita harus selalu mulia dengan sendirian karena
kita sendiri tahu siapa kita. Dan Tuhan tahu.
--
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
|