|
Tanpa disadari dan
disengaja, orang tua sering melakukan kekerasan psikologis terhadap
anak-anaknya. Kita mungkin sering melihat seorang anak yang melakukan
kesalahan mendapatkan bentakan atau hukuman kemarahan yang tidak perlu.
Melihat, rapor anak yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua, si anak Contoh kekerasan psikologis
yang tersamar tapi bisa membawa dampak yang lebih fatal adalah ketika sepasang
orang tua yang terbilang fanatic dalam bidang syariat agama (apa saja)
menjejali "tabula rasa" anaknya yang masih bersih dan murni dengan
segala ajaran yang lebih condong ke arah seremonial, atribut fisik, sectarian,
rasial, perpecahan antar umat ("punya kita yang terbaik") alih-alih
memberi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari (baik dengan ucapan atau
perbuatan) mengenai nilai-nilai luhur keuniversalan agamanya masing-masing
serta memberi contoh-contoh bagaimana cara bertingkahlaku dan bertindak secara
luhur dan manusiawi dalam suatu lingkungan pergaulan dalam masyarakat plural
yang berlain-lainan system kepercayaannya. Mungkin para orang tua yang
saya contohkan pada alinea di atas tidak menyadari bahwa mereka telah (secara
halus maupun kasar) memaksakan keinginannya terhadap anak-anak mereka yang
secara manusiawi punya keinginan hidupnya sendiri-sendiri dan punya
kehidupannya sendiri-sendiri. Jadi secara tidak sadar si orang tua telah
melanggar hak asasi anak-anaknya! Padahal, seorang anak yang telah di'stel'
sejak kecil untuk terbiasa dengan atribut fisik keagamaan tertentu tanpa dididik
dengan nilai-nilai luhur universal agama itu sendiri hanya akan membawa bencana
bagi dirinya sendiri dan lingkungannya dan secara langsung atau tidak langsung
juga akan mencemarkan nama agama itu sendiri. Saya hanya ingin memberi suatu
contoh kecil kesulitan yang dihadapi oleh si buyung atau si upik yang
mengenakan atribut fisik dan menunjukkan tingkah laku seremonial keagamaan
tertentu, misalnya ketika dia berada dalam suatu lingkungan pergaulan yang
bersikap "hostile" terhadap atribut tersebut. Dalam masyarakat
sekarang yang terkadang sangat brutal, si buyung dan si upik kecil seakan-akan
diberi "stempel" pada dahinya mengenai system kepercayaan
bapak-ibunya, tanpa disadari oleh sang orang tua bahwa anaknya bisa menjadi
"sasaran tindak kekerasan" di hutan beton belantara. Ketika si buyung
menginjak remaja dan dia kebetulan menaruh hati pada seorang gadis yang atribut
fisik keagamaannya lain sama sekali, apa dia kira-kira tidak mengalami beban
psikologis tertentu yang seharusnya tidak membebaninya ketika orang tuanya dulu
tidak membebanpengaruhinya begitu hebat sejak kecil. Contoh-contoh nyata bisa
diberikan berpanjang lebar, tapi mungkin nanti bisa menyungging eh menyinggung
perasaan. Posting yang begini ini
biasanya sepi tanggapan, tapi siapa tahu kali ini banyak yang berminat untuk
"sharing" secara terbuka mengenai masalah nyata dalam masyarakat kita
ini. Saya tunggu dengan pikiran dan hati terbuka. :-) Andy ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
