Tidak ada lembaga yang menjamin reksadana.
 
 
Dibawah ini bacaan untuk tambahan pengetahuan.
 
 
 
 
 
Giri
--------------
 
REKSADANA

No. 50, Tahun IX, 19 September 2005
------------------------------------------------------------------------------------------------
Gunakan Pelampung agar tetap Mengapung
Strategi mengamankan reksadana berbasis obligasi yang rontok

Beberapa manajer investasi menawari investor untuk memindahkan dananya dari reksadana obligasi ke reksadana terproteksi. Tawaran ini memang bisa mengurangi kerugian investor, tapi tetap memiliki risiko yang tak sedikit.

    
Pengalaman adalah guru yang paling baik, begitu kata sebuah pepatah. Sayang, para manajer investasi, Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), dan investor reksadana tampaknya tak pernah mau belajar dari pengalaman buruk yang pernah mereka alami. Pada akhir tahun 2003 industri reksadana mengalami penarikan (redemption) besar-besaran. Waktu itu dana kelolaan reksadana longsor drastis dari Rp 85,9 triliun (September 2003) menjadi Rp 69,5 triliun (Desember 2003). Adalah reksadana jenis pendapatan tetap yang mengalami longsor paling dalam.

Tahun ini peristiwa serupa kembali terjadi. Puncaknya, dua pekan lalu, para nasabah reksadana tiba-tiba panik berat lantaran hasil investasi reksadana pendapatan tetap atau reksadana berbasis obligasi mereka merosot drastis nilainya. Bukannya meningkat, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana pendapatan tetap yang dimiliki investor malah merosot drastis sejak akhir Agustus lalu. Tak tanggung-tanggung, dalam sehari longsoran NAB itu bisa mencapai belasan atau bahkan puluhan persen.

Kepanikan paling parah menyergap para investor yang mengempit reksadana pendapatan tetap keluaran PT BNI Securities. Maklum saja, NAB beberapa reksadana obligasi yang dikelola anak perusahaan BNI itu memang merosot sangat dalam. NAB satu unit Reksadana BNI Dana Plus, misalnya, pada tanggal 29 Agustus 2005 tiba-tiba turun 11%; dari Rp 1.388 menjadi Rp 1.232. Keesokan harinya, NAB reksadana ini juga kembali turun sekitar 5%.

Sehari merugi ratusan juta

Kondisi NAB reksadana BNI Dana Berbunga Dua juga tak lebih baik. Tanggal 5 September lalu tiba-tiba NAB per unitnya juga rontok sampai sekitar 11%. Kontan, para investor reksadana BNI Securities pun kalang kabut. Pasalnya, kerugian yang harus mereka tanggung dari kemerosotan NAB yang superdrastis itu sangat terasa. Taruh kata seorang investor telah menanamkan duit Rp 100 juta dalam reksadana obligasi tersebut. Jika NAB per unitnya turun 15% sehari; artinya dalam sehari pula duit investor berkurang sebesar Rp 15 juta. "Padahal pada waktu jualan mereka bilang produk ini aman," gerutu Arvin F. Iskandar, seorang investor Reksadana BNI Dana Plus. Arvin membeli produk ini melalui produk BNI Investment yang ditawarkan oleh kantor cabang BNI Kebon Jeruk, Jakarta.

Investor yang menempatkan dana lebih besar di reksadana-reksadana obligasi BNI Securities tentu saja menanggung kerugian lebih besar. "Saya masuk dengan Rp 4 miliar. Dalam hitungan hari berkurang ratusan juta; emangnya gaji saya berapa?" teriak Jonly Panggabean, investor BNI Securities yang mengaku sebagai direktur sebuah perusahaan swasta. Konyolnya, di antara para korban reksadana BNI Securities itu ternyata ada juga karyawan-karyawan BNI sendiri. "Saya memasukkan Rp 750 juta, dan sudah turun 20%," ujar seorang karyawan cabang BNI yang menolak disebutkan namanya.

Kepanikan para investor itu berbuah aksi redemption yang tak terbendung. Awalnya BNI masih bisa membayarnya. Tapi, lantaran aksi redemption semakin lama semakin besar proses pembayaran pun semakin seret. "Kami sudah tidak memiliki likuiditas. Investor yang melakukan redemption tanggal 31 Agustus 2005 juga belum kami bayar," ujar Teuku Umar Laksana, Direktur BNI Securities pada hari Jumat lalu (9/9). Sore itu ratusan investor menyerbu BNI Securities untuk mempertanyakan nasib investasi mereka. Sebagian investor bahkan berteriak-teriak histeris agar BNI Securities mengembalikan duit mereka dalam keadaan utuh.

Selain di BNI Securities, kepanikan juga sempat terjadi di kalangan investor reksadana obligasi keluaran PT Trimegah Securities. Pasalnya, NAB beberapa produk reksadana keluaran Trimegah ternyata juga longsor sangat dalam. NAB satu unit reksadana Trimegah Dana Tetap, tanggal 1 September lalu, merosot 10,5%. Tanggal 5 September reksadana NAB Trimegah Dana Stabil juga anjlok hampir 12%.

Bisa ditebak, mirip dengan para investor BNI Securities, para investor Trimegah pun langsung shock, panik, dan marah. "Masa investasi saya turun drastis dalam sehari," jerit seorang ibu yang menjadi investor reksadana Trimegah. Sebagian investor pun kemudian menarik dana mereka. Untuk meredam kepanikan para investor tersebut, Jumat (9/9), Trimegah juga menggelar acara temu investor di hotel Le Meredien, Jakarta.

Dijual seperti produk deposito

Apa yang menjadi penyebab terjadinya bencana reksadana ini? Mirip dengan penyebab aksi redemption yang terjadi pada tahun 2003, kali ini pihak bank yang menjadi agen penjual reksadana juga patut disalahkan. Pasalnya, menurut kesaksian para investor, para karyawan bank-bank tersebut masih menjual produk reksadana seperti produk deposito. "Mereka tidak menerangkan ini produk reksadana. Mereka malah bilang modal kita tidak akan berkurang. Kemudian, produk ini juga tidak kena pajak," ujar investor yang juga karyawan BNI tadi. Sementara itu, Arvin juga mengaku tak pernah memperoleh prospektus reksadana dari BNI Securities. "Pegawai bank hanya memberikan iming-imingnya bahwa hasil produk ini lebih bagus dari deposito," ujar seorang investor Trimegah.

Gaya menjual seperti itulah yang membuat sebagian besar investor tak terlalu memahami produk reksadana. Mereka masih menganggap reksadana tak jauh berbeda dengan produk perbankan. Alhasil, ketika NAB reksadana berfluktuasi, mereka pun menjadi kaget bin panik. Tak bisa disalahkan jika kemudian mereka berbondong-bondong melakukan redemption.

Selain itu, muncul pula dugaan bahwa para manajer investasi tersebut juga tak terlalu disiplin dalam menilai harga obligasi menggunakan harga referensi (reference price). "Penurunan harga obligasi itu kan sudah terjadi sejak sekitar bulan April, mengapa NAB reksadana mereka baru turun drastis sekarang?" kritik seorang manajer investasi asing.

Akan tetapi, para manajer investasi langsung menyangkal tuduhan miring tersebut. "Kondisi pasar obligasi yang jatuh 20% sehari kan baru belakangan ini," elak Umar. Hal senada juga diungkap oleh manajemen Trimegah Securities. Menurut mereka, harga referensi yang ada saat ini tak sesuai dengan harga obligasi sebenarnya di pasar. "Misalnya, menurut harga referensi pada tanggal 1 September harga obligasi Indosat adalah 102%, tapi begitu kita mau jual ternyata hanya dihargai 80%," kata Yulian Kusuma, Direktur Trimegah.

Pihak Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) juga layak disorot. Pasalnya, selama ini Bapepam tak pernah berani menindak tegas para manajer investasi yang nakal. Selain itu, Bapepam juga tak berbuat banyak ketika muncul kesaksian dari para investor bahwa pihak bank telah menjual produk-produk reksadana tersebut secara asal-asalan. "Itu memang tanggung jawab kita, tapi hal seperti itu kan sulit untuk dibuktikan," dalih Boedi Soekamto, Kepala Bagian Pengawasan dan Pengelolaan Investasi Bapepam.

Ramai-ramai memagari duit investor

Lantas apa yang harus dilakukan oleh para investor yang menjadi "korban" NAB reksadana obligasi ajrut-ajrutan itu? Baik BNI Securities maupun Trimegah menawarkan solusi yang sama: memindahkan (switching) dana investor ke reksadana baru yang dinamakan reksadana terproteksi (protected fund). "Hampir 90% investor sudah setuju untuk dipindahkan ke reksadana terproteksi," kata Rosinu, Direktur Trimegah. Sementara ini, dalam pertemuan terakhir Selasa (13/9) lalu, BNI Securities dan para investornya belum berhasil mencapai kata sepakat.

Masuk akal memang kalau para manajer investasi menawarkan reksadana terproteksi tersebut sebagai solusi untuk mengurangi kerugian investor. Jika investor bersedia memindahkan dananya ke reksadana jenis baru ini, investor tak harus menanggung kerugian akibat penurunan drastis NAB reksadana pendapatan tetap yang terjadi baru-baru ini.

Pasalnya, nilai dana yang akan dipindahkan berpatokan pada posisi NAB sebelum jatuh. Taruh kata, akibat NAB jatuh 20% investor yang setor Rp 100 juta mengalami kerugian Rp 20 juta. Nah, dana yang dipindahkan ke reksadana terproteksi bukan Rp 80 juta, tapi tetap Rp 100 juta. "Poinnya kami ingin melindungi dana investor agar tak rugi," tandas Yulian Kusuma. Dus, ibarat sebuah pelampung, reksadana terproteksi ini bisa menolong investor agar tak tenggelam.

Enaknya, begitu sudah dipindahkan ke reksadana terproteksi, duit investor itu menjadi dipagari alias terlindungi. Yang pasti, duit pokok yang disetorkan investor tidak akan berkurang sampai akhir periode reksadana tersebut. Kok bisa? Itulah ciri khas reksadana terproteksi. Manajer investasi akan menginvestasikan sebagian - biasanya sebagian besar - dana investor ke dalam instrumen obligasi dan tetap menyimpan obligasi tersebut sampai jatuh tempo. Dengan cara itu, obligasi tersebut pasti akan mendatangkan untung berupa bunga maupun kenaikan harga. Nah, keuntungan inilah yang akan mampu melindungi nilai pokok investasi investor agar tak berkurang. Bahkan, jika manajer investasinya bisa membeli obligasi-obligasi dengan harga murah, para investor memiliki peluang besar untuk mengantongi keuntungan (lihat boks: Apa itu Reksadana Terproteksi).

Tampaknya tak ada pilihan lain. Investor reksadana yang sudah telanjur terjebak memang harus memanfaatkan tawaran pemindahan dana ke reksadana terproteksi tersebut. Jika investor tetap mengotot menarik dananya, investor pasti akan merugi. "Kerugian yang tadinya masih potensial akhirnya menjadi kerugian yang benar-benar harus ditanggung (real lost)," kata Yulian. Ini terjadi lantaran manajer investasi akan membayarkan duit nasabah berdasarkan posisi terakhir NAB; yaitu NAB setelah jatuh. Dus, berdasarkan contoh tadi, investor akan menerima Rp 80 juta, bukan Rp 100 juta.

Cuma, harap diingat; meskipun namanya reksadana terproteksi, reksadana ini masih tetap menyimpan risiko. Salah satunya, jika pihak penerbit obligasi - terutama jika instrumennya obligasi perusahaan swasta- mungkin saja tak mampu membayar obligasinya saat jatuh tempo. Jika ini terjadi, investor reksadana terproteksi pasti akan merugi.

Ada lagi yang disebut risiko akselerasi. Maksudnya, jika kondisi ekonomi makro memburuk, mungkin saja manajer investasi melikuidasi reksadana terproteksinya di tengah jalan. Jika ini terjadi, investasi awal investor pun belum tentu akan kembali utuh.

Selain itu, reksadana jenis ini umumnya juga mewajibkan investor untuk tak menarik dananya untuk jangka waktu tertentu; misalnya dua tahun atau tiga tahun. Dengan ketentuan seperti ini, investor akan kesulitan jika ternyata ia membutuhkan dana tersebut dalam jangka pendek.
+++++

Apa itu Reksadana Terproteksi

Sesuai dengan namanya, reksadana ini memberikan perlindungan khusus bagi investornya. Tapi jangan salah, reksadana ini tak memberikan jaminan keuntungan tertentu. Yang memperoleh perlindungan hanyalah nilai investasi awal yang disetorkan investor. "Nilai investasi awal itu akan utuh 100%," ungkap Boedi Soekamto, Kepala Bagian Pengawasan dan Pengelolaan Investasi Bapepam.

Lantas, siapa yang menjamin? Yang menjamin tak lain adalah manajer investasinya sendiri; bukan pihak lain. Si manajer investasi akan memilih portofolio atau struktur investasi tertentu yang akan melindungi investasi awal investor. Menurut Tedy Fardiansyah, konsultan keuangan dari Capital Institute, ada jenis strategi yang umumnya ditempuh manajer investasi:

~ Static Portofolio Hedging
Misalnya manajer investasi mengelola dana sebesar Rp 100 juta. Ia menggunakan sebagian uang itu untuk membeli obligasi tanpa bunga (zero coupon bond). Contoh perhitungan:
* Rp 80 juta digunakan untuk membeli zero coupon bond yang harganya 80%.
* Sisa dana yang Rp 20 juta baru diinvestasikan di instrumen lain
* Ketika jatuh tempo, manajer investasi pasti akan menerima pembayaran sebesar Rp 100 juta dari zero coupon bond.

Dynamic Portofolio
Manajer investasi akan mengelola portofolio investasi secara dinamis; bisa berubah-ubah setiap hari. Tapi, setiap hari pula manajer investasi harus menjaga agar total dana kelolaannya minimal selalu sama dengan investasi awal. Jika dana investasi awal total Rp 100 juta, setiap hari manajer investasi harus menjaga agar dana kelolaannya tak kurang dari Rp 100 juta.

Cipta Wahyana, Asih Kirana Wardani


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke