Selasa, 04 Oktober 2005

Minyak Tanah Tak Terkendali
Sopir Angkot Mogok di Berbagai Daerah

Jakarta, Kompas - Harga minyak tanah tak terkendali. Belum adanya penetapan harga eceran tertinggi di masing-masing daerah membuat pengecer menjual minyak tanah dengan harga Rp 3.000-Rp 3.500 per liter. Padahal Pertamina mematok harga minyak tanah di pangkalan tidak boleh lebih dari Rp 2.285 per liter.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Senin (3/10) di Jakarta, mengakui masih ada masalah dalam distribusi minyak tanah, antara lain, karena belum ada peraturan daerah yang menentukan harga eceran tertinggi (HET). ”Saya sudah minta ke Mendagri (Menteri Dalam Negeri—Red) agar segera menginstruksikan seluruh pemda untuk menetapkan HET di daerah masing-masing,” ujar Purnomo.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nur Wahid mengharapkan pemerintah meninjau kembali kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) karena hal itu benar-benar membebani rakyat. (Kenaikan harga BBM—Red) itu pantas untuk dikoreksi, kata Hidayat kepada wartawan.

Harga minyak tanah yang ditetapkan 1 Oktober 2005 dalam Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2005 adalah Rp 2.000 per liter, atau naik 185,7 persen, sudah termasuk pajak pertambahan nilai (PPN). Harga tersebut berlaku di titik serah, yaitu di terminal transit, atau instalasi, atau depot.

Untuk sampai ke konsumen, minyak tanah dikirim dari depo Pertamina melalui agen ke pangkalan minyak tanah. Agen dan pangkalan memperhitungkan ongkos transportasi dan marjin keuntungan mereka.

Di pangkalan minyak tanah inilah konsumen dapat membeli minyak tanah dengan harga termurah atau sesuai HET. Jika membeli di pengecer, lanjutnya, seperti tukang gerobak dan warung, harganya lebih mahal lagi.

Karena HET belum ditetapkan, pemilik pangkalan minyak tanah menetapkan harga sesukanya. Harga minyak tanah di sejumlah pangkalan di Jakarta Rp 2.400-Rp 2.500 per liter.

Di Bandar Lampung, satu pangkalan minyak tanah di Way Kandis mematok harga Rp 2.800 per liter. Akibatnya, harga minyak tanah di pengecer rata-rata Rp 3.000-Rp 3.500 per liter.

Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso kemarin sudah menetapkan HET minyak tanah di pangkalan, yaitu sebesar Rp 2.250 per liter. Namun, menurut sejumlah pedagang kaki lima yang menjual makanan gorengan di Jakarta, minyak tanah yang dibeli dari pengecer sudah mencapai Rp 3.000 per liter.

Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pemerintah sedang menggodok sistem baru pendistribusian minyak tanah. Minggu ini kami akan mengumpulkan asisten gubernur se-Indonesia dan Pertamina untuk menjelaskan perubahan sistem distribusi minyak tanah, kata Purnomo.

Sistem baru ini sedianya akan diterapkan bersamaan dengan public service obligation (PSO) baru pada 1 Januari 2006. Namun, menilik kondisi saat ini, penerapannya dipercepat untuk minyak tanah.

Kepala Divisi BBM Pertamina Achmad Faisal mengatakan, untuk mengendalikan harga minyak tanah, pihaknya menetapkan harga di pangkalan tidak boleh lebih dari Rp 2.285 per liter. Dengan adanya patokan itu, pangkalan yang nakal menjual melebihi itu akan dikenai sanksi. Kalau perlu, izin pangkalannya dicabut.

Menurut Faisal, sistem distribusi agen-pangkalan akan disederhanakan, memperpendek mata rantai penyaluran. Nantinya, agen akan dihapus, minyak tanah langsung didistribusikan ke konsumen. Titik serahnya akan ditentukan oleh masing-masing pemerintah daerah, kata Faisal.

Konsumen rumah tangga yang berhak atas minyak tanah ditetapkan pihak kelurahan. Nanti Pertamina mendistribusikan minyak tanah sesuai dengan pengajuan pemerintah daerah. Tidak seperti sekarang, seluruh masyarakat Indonesia mendapat jatah 3,75 liter per jiwa. Minyak tanah hanya akan diberikan kepada rumah tangga yang membutuhkan, kata Faisal lagi.

Warga yang berhak mendapat minyak tanah akan didata. Mereka mendapat kartu yang harus dibawa ke tempat distribusi.

Ribuan penumpang telantar

Sementara itu, berbagai kota di Tanah Air kemarin diwarnai pemogokan angkutan kota (angkot). Akibatnya, puluhan ribu warga yang ingin bepergian telantar di terminal atau di tepi jalan.

Para pengemudi mogok untuk menuntut kenaikan tarif pascakenaikan harga BBM.

Di Medan dan Binjai, Sumatera Utara, sedikitnya 7.000 mobil angkot tidak beroperasi. Lebih dari 10.000 pengguna angkutan umum di berbagai kawasan di kedua kota itu telantar di pinggir jalan.

Menurut pemantauan Kompas di berbagai lokasi, tidak satu pun angkot yang beroperasi. Ribuan pelajar, mahasiswa, karyawan, dan masyarakat memadati trotoar dan badan jalan untuk menghentikan angkot kosong yang lewat, namun tak satu pun yang mau mengangkut penumpang. Angkot yang beroperasi dihentikan sekelompok orang, lalu sopirnya diminta ikut mogok.

Untuk mengangkut ribuan penumpang yang telantar, Kodam I Bukit Barisan meminjamkan 12 truknya kepada Pemerintah Kota Medan untuk dioperasikan di jalan-jalan protokol. Pemerintah Kota Medan baru Selasa ini membahas penetapan tarif angkutan umum baru yang diusulkan Organda.

Di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, kenaikan tarif angkutan umum dirasakan sangat memberatkan warga. Menurut seorang warga, tarif angkutan dalam kota, yang semula hanya Rp 1.000, kini melonjak hingga Rp 3.000 per orang.

Aksi mogok sopir juga terjadi di Makassar, Palu, dan Semarang.

Di Kandangan, Kalimantan Selatan (Kalsel), mogok kerja dilakukan ribuan sopir truk pengangkut batu bara sejak Sabtu. Kegiatan penambangan batu bara di Kalsel menggunakan sekitar 9.000 unit truk.

Kami makin sulit kalau dipaksa membeli solar industri seharga Rp 6.000 per liter, kata Eed, sopir truk batu bara yang ditemui di daerah Kecamatan Sungai Raya, Hulu Sungai Selatan.

Di Jakarta kenaikan tarif angkutan umum yang diusulkan Gubernur Sutiyoso sebesar 40 persen, Senin, terganjal lambannya pembahasan oleh DPRD. Sebelumnya, Sutiyoso menerima masukan kenaikan tarif angkutan umum dari Dewan Transportasi Kota sebesar 45 persen.

Rapat pembahasan kemarin, yang berlangsung sekitar 1,5 jam, tidak menghasilkan keputusan persetujuan kenaikan tarif.

Menteri Perhubungan Hatta Rajasa mengimbau pemerintah daerah segera menetapkan tarif penyesuaian angkutan umum tersebut. (Tim Kompas)


Yahoo! for Good
Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke