Senin, 17 Oktober 2005

Mereka yang Menikmati Energi Alternatif

Agnes Rita Sulistyawaty dan Irma Tambunan

Kelangkaan minyak tanah tidak lagi menjadi masalah bagi Darmo (50), warga Desa Wukirharjo, Prambanan, Sleman, DIY. Sejak adanya bantuan pembangkit listrik tenaga surya dari Pemerintah Kabupaten Sleman dan Pemerintah Provinsi DIY, Darmo meninggalkan lampu minyak dan kini menikmati penerangan dengan lampu berkekuatan 10 watt dari energi surya.

Memang hanya ada tiga lampu untuk satu rumah. Saya pasang lampu itu di ruang tamu, ruang tengah, dan satu kamar. Lumayanlah, tidak perlu repot lagi membeli minyak tanah. Kalau mau mendengarkan radio, juga bisa memakai PLTS ini walau hanya beberapa jam saja, kata Darmo.

Bersama Darmo, ada sekitar 50 penduduk Kecamatan Prambanan, Sleman, yang menerima bantuan PLTS dari pemerintah pada tahun 2003 dan 2004. Tahun 2005, rencananya akan ada 32 rumah lain yang mendapat bantuan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Mereka yang mendapat bantuan adalah keluarga yang tidak mampu karena investasi awal alat PLTS memerlukan dana Rp 4-5 juta.

Rumah Darmo dan sejumlah keluarga di empat desa di Kecamatan Prambanan, masingmasing Desa Sambirejo, Madurejo, Wukirharjo, dan Gayamharjo, tidak terjangkau listrik dari PLN. Kondisi geografis lahan yang berbukit-bukit membuat biaya untuk memasang listrik ke rumah-rumah di lokasi tersebut menjadi besar.

Bagi Trimorejo (70), warga Desa Gayamharjo, bantuan PLTS ini meringankan biaya penerangan di rumahnya. Sebelumnya, Trimorejo yang tinggal bersama istrinya di rumah berdinding anyaman bambu mengandalkan penerangan dengan dua atau tiga lampu minyak.

Dengan PLTS ini, tiap bulan saya hanya membayar Rp 6.000 untuk biaya perawatan. Padahal, waktu memakai lampu minyak, biaya untuk membeli minyak tanah lebih dari Rp 6.000 per bulan, tutur Trimorejo yang mengandalkan panen singkong dan padi tadah hujan untuk kebutuhan sehari-hari.

Trimorejo tidak menyalakan ketiga lampu yang ada di rumahnya. Ia hanya menyalakan dua lampu saja, satu lampu di depan rumah, sedangkan satu lampu lain di kamarnya. Lampu di ruang tengah hanya dinyalakan jika ada tamu. Kalau tidak ada tamu, penerangan di ruang tengah itu mengandalkan sinar dari kedua lampu yang menerobos dinding bambu.

Penghematan lampu ini dilakukan Trimorejo untuk mempertahankan nyala lampu sampai pagi. Energi surya yang menjadi sumber energi untuk ketiga lampu ini mempunyai kekuatan terbatas.

Kalau musim hujan, pemakaian lampu semakin diirit Trimorejo dengan mematikan lampu kamar menjelang tidur. Maklum, energi matahari yang tersimpan di aki PLTS tidak bekerja maksimal. Jika tidak diirit, seluruh lampu tidak bertahan sampai pagi. Waktu pakai lampu minyak, saya juga mematikan lampu di kamar untuk mengirit minyak tanah, kata Trimorejo.

Kemudahan dan efisiensi menggunakan energi alternatif juga dirasakan kelompok perajin tahu Ngadi Mulyo, di Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Bantul, DIY, setelah mereka menggunakan biogas selama tiga bulan terakhir.

Energi biogas adalah gas hasil pembusukan bahan organik oleh bakteri pada kondisi anaerob atau hampa udara, yang dihasilkan dari limbah tahu. Mereka tak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli minyak tanah karena biogas dapat dimanfaatkan untuk penerangan rumah dan untuk memasak.

Setelah limbah bisa diolah menjadi biogas, kami betul-betul merasakan manfaat positifnya. Dulu saya selalu membeli minyak tanah rata-rata Rp 1.500 per hari. Bayangkan kalau sebulan, berapa banyak uang yang saya keluarkan. Dengan adanya biogas ini, saya bisa berhemat, ujar Muhadi Prayitno (52) perajin tahu di Dusun Gunungsaren Kidul, Trimurti.

Pagi itu, Muhadi membuat biogas. Dari bak pengolahan limbah tahu, Muhadi mengalirkan biogas ke rumahnya dan rumah sejumlah perajin tahu lain di desa itu. Ia pun menata selang gas yang menyambungkan bak bawah tanah di luar rumah dan kompor di dapur. Setelah menekan sakelar, api pun muncul di atas kompor.

Muhadi kini tak perlu lagi mengeluarkan uang guna membeli minyak tanah untuk kebutuhan memasak, nasi, lauk, dan sayurnya. Dengan biogas gratis ini, ia setidaknya bisa menghemat uang Rp 10.500 per minggu karena tak perlu lagi membeli minyak tanah.

Wah, luar biasa! Untuk menerangi bilik dan kehidupan warga desa seperti Muhadi, kini hanya perlu menyentuh tombol khusus untuk membuka dan menutup aliran masuk biogas. Klik, Ssstttsssss... byar....

Dan, kehidupan, jadi sedikit lebih terang. Tidak lagi cuma berkeluh kesah, apalagi pesimistis.


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke