| Kamis, 27 Oktober 2005 |
|
Presiden Mengaku Kaget Anggarannya Naik 57% Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku sangat kaget membaca berita di surat kabar tentang rencana kenaikan anggaran lembaga kepresidenan. Ia mengaku belum pernah mendapat laporan yang menjelaskan untuk kegiatan apa saja dana lembaga kepresidenan sebesar Rp 1,147 triliun itu. Pagi tadi (RabuRed) Presiden kaget sekali membaca berita tentang kenaikan anggaran kepresidenan yang mencapai 57,7 persen. Presiden sama sekali belum pernah diberi laporan soal kenaikan anggaran dengan jumlah semacam itu, ujar Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (26/10) kemarin. Tahun 2006 pemerintah berencana menaikkan anggaran kepresidenan dari Rp 727,2 miliar menjadi Rp 1,147 triliun, atau naik Rp 419,9 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Di luar itu pemerintah mengajukan belanja lain-lain untuk presiden dan wakil presiden (wapres). Untuk operasional khusus presiden Rp 24 miliar dan carter pesawat presiden Rp 50 miliar. Anggaran operasional khusus wapres Rp 12 miliar dan carter pesawat wapres Rp 12 miliar. Akan panggil menteri Karena kaget soal besarnya anggaran, menurut Andi, Presiden berencana memanggil para menteri dan pejabat yang mengajukan anggaran ke DPR untuk memberikan penjelasan. Namun, sampai Rabu sore tidak seorang menteri pun yang tampak datang ke Kantor Presiden. Presiden berpendapat, kalaupun ada kenaikan, mestinya (besar kenaikan ituRed) wajar dalam situasi sangat sulit seperti ini. Presiden akan meninjau kembali kenaikan itu pada tingkat semestinya, kata Andi lagi. Ditanya apakah Presiden tidak berkomunikasi dengan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi yang sebelumnya mengatakan kenaikan anggaran 57,7 persen itu proporsional dan realistis, Andi dengan lantang menjawab, Presiden belum pernah dapat laporan tentang rencana kenaikan anggaran itu. Menurut Andi, rencana anggaran sebesar Rp 1,147 triliun itu bukan untuk presiden pribadi, tetapi lembaga kepresidenan yang terdiri dari Sekretaris Negara, Sekretaris Kabinet, Sekretaris Militer, Pasukan Pengamanan Presiden, Rumah Tangga Kepresidenan, dan Istana Kepresidenan. Diketahui sidang kabinet Secara terpisah, Menteri Keuangan (Menkeu) Jusuf Anwar yang ditanya pers di sela pembukaan pameran dan workshop briket batu bara di Pekan Raya Jakarta (PRJ) menegaskan, proses penyusunan anggaran departemen dan lembaga kepresidenan sudah dibahas dalam sidang kabinet yang dipimpin Presiden Yudhoyono. Itu semua sudah dibicarakan dan diputuskan di kabinet, dan kepalanya adalah Presiden. Jadi semua orang tahu. Saya tidak menetapkan anggaran itu sendiri. Memang dikira Menkeu itu hidup sendiri, ujar Jusuf. Peningkatan anggaran tiap departemen yang diajukan, menurut Jusuf, merupakan hasil penghitungan berdasarkan optimalisasi dan eskalasi anggaran. Kalau naik, itu karena ongkos-ongkos juga naik tahun ini. Sesuatu itu ada prosesnya dan prosesnya itu sangat akuntabel, kata Jusuf menambahkan. Soal anggaran kenaikan yang besar, Jusuf mengatakan, Itu anggaran rutin biasa. Zaman dulu enggak disoroti, kok sekarang disorot? Bukan hanya (anggaran untukRed) Presiden yang naik, tetapi semuanya. Yang paling besar Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan, TNI/Polri, dan Departemen Pekerjaan Umum. Rencana ini sudah dikoordinasikan Menteri Sekretaris Negara selaku penanggung jawab anggaran. Beli pesawat kepresidenan Ditanya soal rencana pembelian pesawat kepresidenan, Jusuf menyatakan tidak tahu-menahu. Yang ada paling pemeliharaan pesawat kepresidenan. Masak Presiden harus butut pesawatnya. Kan tidak mungkin. Jadi itu anggaran rutin biasa, kata Menkeu lagi berkilah. Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi juga menyatakan tidak tahu soal rencana pembelian pesawat kepresidenan. Setahu saya tidak ada. Justru Presiden meminta anggaran tersebut digunakan seefisien mungkin dan serendah mungkin. Tidak benar kalau kami mau ombro-ombro anggaran, kata Sudi. Secara terpisah, Kepala Badan Pengkajian Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional (Bappeki) Departemen Keuangan Anggito Abimanyu menyatakan, peningkatan anggaran kepresidenan dan wapres sangat rasional dan tidak terelakkan karena ada program-program yang butuh pembiayaan, antara lain pembelian pesawat kepresidenan. Dilihat dulu dong untuk apa? Pertama, eskalasi harga. Ongkosnya jadi lebih mahal. Kedua, ada program-program yang butuh pembiayaan, perbaikan gedung, kemudian pembelian pesawat, ujar Anggito kemarin. Negara banyak uang Anggito menjelaskan, alat transportasi udara diperlukan karena Presiden harus dekat dengan rakyat. Pembelian pesawat juga merupakan investasi. Kan lebih murah juga ongkosnya. Daripada sewa pesawat, lebih baik punya pesawat VIP, ucapnya. Ditanya dari mana pesawat itu akan dibeli, Anggito mengaku tidak tahu. Tapi, itu usulan mereka yang disetujui Dewan dan itu sah sekali, katanya meyakinkan. Atas dasar itu, Anggito menilai peningkatan anggaran kepresidenan dan wapres sebagai hal yang sangat rasional. Terlebih lagi, katanya, kondisi negara saat ini memiliki uang banyak dari minyak. Kita punya uang banyak kok, paparnya. Perlu koreksi Ketua MPR Hidayat Nurwahid mengharap Presiden mengoreksi peningkatan anggaran kepresidenan dan wakil presiden tahun 2006 yang nilainya terlalu besar. Presiden harus mempertimbangkan kritik masyarakat yang sangat tajam terhadap kenaikan tunjangan DPR dan kondisi masyarakat yang susah soal kompensasi BBM. Kalau beliau melakukan koreksi, alangkah sangat bijak, ucapnya. Hidayat juga yakin besaran itu diminta oleh Presiden. Oleh karena itu, Presiden harus memberikan klarifikasi secara tuntas. Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno juga menilai pemerintah tidak peka atas penderitaan rakyat. Peka atas kebutuhan dia, tapi tidak peka pada kebutuhan rakyat, ujarnya. Saya mengimbau Panitia Anggaran DPR mengoreksi. Rakyat ini sudah kelelep (tenggelamRed), kata Soetardjo melukiskan kesulitan rakyat saat ini akibat melonjaknya harga berbagai kebutuhan pascakenaikan harga BBM. (SUT/har/INU) |
Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
