Namo Buddhaya,

Rekan2 se Dhamma,

Rasanya banyak yang belum jelas soal uang bhikkhu. Banyak Umat berpikir,
dana yang diserahkan kepada bhikkhu dianggap dana tersebut akan dimasukkan
ke Sangha, buat kepentingan pembabaran Dhamma, kepentingan Buddha Dhamma. 

Sesungguhnya ketika umat berdana kepada bhikkhu, umat tersebut perlu
menjelaskan (di tulis di amplop atau diucapkan ke bhikkhu yang menerima):
=Dana tersebut buat pribadi bhikkhu yang menerima. Maka penggunaan dana
tersebut terserah bhikkhu bersangkutan.
=Dana tersebut buat Sangha. Maka itu masuk ke Sangha dan pengelolaannya
dalam control sangha.


Yang pertama harus kita renungkan adalah:
Apa sih sebabnya Buddha membuat aturan "Bhikkhu tidak boleh menerima emas
dan perak (uang)"?

Hemat saya, secara umum, bukan khusus bhikkhu.
Uang itu sangat besar godaannya. Banyak kejahatan, penyelewengan berakar
dari uang. Banyak kejahatan seperti membunuh, merampok, menipu, mencuri,
karena dipicu atau disebabkan karena uang.

Tak punya uang, memicu kejahatan. Tapi sebaliknya, punya uang juga menjadi
godaan. Bisa memunculkan nafsu keinginan. Mau diapakan nih uangku? Jadi
bingung memikirkannya. 

Nah, menurut hemat saya (Silahkan koreksi bila keliru) Buddha mengantisipasi
hal tersebut  dengan membuat aturan "Bhikkhu tidak boleh menerima emas dan
perak(uang jaman itu)", maka OTOMATIS itu akan MEMBEBASKAN bhikkhu dari
godaan uang. Dengan aturan ini, para bhikkhu menjadi TERBEBASKAN dari Godaan
uang. Jadi vinaya tersebut bertujuan MELINDUNGI para Bhikkhu dari godaan
uang. 


Sistem.
Bila sistemnya baik, maka petugas yang jelek akan berusaha jadi baik.
Tapi kalai sistemnya jelek, maka petugas yang baik bisa terseret.

Saya dulu pernah baca vinaya(kurang lebih) "MENERIMA emas dan
perak(maksudnya: uang), adalah noda bagi pertapa".

Kalau diteliti yang dilarang dan dicela Buddha adalah MENERIMA UANG, bukan
MEMEGANG UANG. (mohon koreksi bila ini keliru).
Tapi nyatanya sekarang, PEGANG UANG ngga mau, tapi MENERIMA DAN MEMILIKI
UANG SECARA PRIBADI, boleh(disimpan dayaka, atau bank). Menurut saya, ini
system yang kurang baik. Karena:

"MEMEGANG(MENYENTUH, tepatnya)boleh, PUNYA (memiliki secara pribadi) tidak
boleh", godaannya lebih kecil daripada: 
"Nyentuh tidak boleh, tapi PUNYA secara pribadi boleh" 

Bedakan:
Sentuh tidak boleh, TAPI memiliki boleh.
Sentuh boleh, TAPI memiliki secara pribadi tidak boleh.

Kalau boleh usul, para bhikkhu tidak masalah menyentuh atau menyimpan uang,
asal dianggap itu milik sangha, bukan milik pribadi(mohon tanya, Apakah
memang ada di vinaya dana itu dibedakan menjadi: Dana pribadi dan Sangha?),
tapi milik vihara, yayasan ataupun sangha. Kalau bhikkhu menggunakan bukan
untuk kepentingan Buddha Dhamma, maka ia tahu itu pelanggaran.

Daripada menyentuh tidak boleh, tapi memiliki boleh, ini jauh lebih
menggoda. Kalau uang--dana pribadi tersebut--digunakan bukan demi
kepentingan Dhamma, ia tidak merasa bersalah. Kan ini milik pribadi saya?
Saya bebas menggunakan. Inilah, system yang baik sangat perlu untuk
melindungi bhikkhu yang baik.


Bagus himbauan STI tersebut, karena bhikkhu yang punya rekening memberikan
image yang kurang baik di masyarakat, Katanya melepas duniawi, kok ngumpulin
duit? Efeknya, membuat umat menjadi RAGU2 dalam berdana. Walau sering
bhikkhu juga menyumbangkan dana pribadinya ke pembangunan vihara secara no
name, sehingga yang bukan panitia tidak tahu, maka tidak perlu negative
thinking. 

Saran Sis Subha untuk membantu membuatkan rekening atas nama Vihara atau
yayasan, cukup baik, tapi lebih baik inisiatif dari bhikkhu sendiri, umat
yang bantu. Dengan cara ini, Umat akan makin respek pada bhikkhu. Kalau
inisiatif dari Umat, tentu sungkan dan bhikkhunya sendiri bisa2 tersungging
he he he he
Selama bhikkhunya belum punya rekening atas nama Vihara atau yayasan, maka
memakai rekening Sangha STI saja bagus. Apakah STI punya rekening? Bila itu
masuk rekening Sangha, tentu sangha yang mengontrol penggunaannya. Umat
tidak akan mempunyai keraguan dalam berdana.  

Setuju, juga. Berdana kepada siapapun, mesti dengan bijak. Tidak asal
berdana. 


Salam metta
Wijaya

--------------------------------------
In [EMAIL PROTECTED]:
pisakendro wrote:

> Bhikkhu memang tidak diperkenankan menyimpan dan membawa uang ataupun
> barang berharga. Jadi ketika umat berdana uang, yang menerima,
> menyimpan, dan membawa dana uang tersebut adalah para dayaka (bukan
> bhikkhu tersebut), atau dititipkan pada rekening suatu Vihara.

> Hal ini sama sekali tidak melanggar Vinaya apapun. Inilah idealnya,
> tetapi kenyataannya tidak demikian. :( Para bhikkhu rata2 mempunyai
> rekening pribadi yang langsung dan dikelola oleh bhikkhu tersebut
> secara langsung. Malah ada bhiksu yang punya kartu kredit.
>
> Ini adalah penyimpangan yang dibiarkan oleh Sangha. Tidak heran jika
> banyak orang yang pintar tapi licik, memanfaatkan kesempatan ini
> dengan menjadi bhikkhu, sehingga uang datang sendiri tanpa dia bekerja
> keras. Tinggal ongkang2 kaki, duit datang sendiri dari umatnya,
> apalagi kalau di bulan Kathina tuh, wah panen raya deh... ;)
>
>

Sebenarnya Sangha, dalam hal ini khususnya STI sudah pernah memberikan
himbauan untuk para bhikkhu agar tidak mempunyai rekening bank sendiri.

Bagaimana kalau sekarang kita mulai mensosialisasikan agar para umat dan
simpatisan Buddhis untuk tidak berdana secara langsung dengan
mentransferkan dana
ke rekening para bhikkhu.
Hal ini sangat bermanfaat agar kita sebagai umat dapat ikut berperan
serta agar para bhikkhu dapat tetap melaksanakan Vinaya dengan baik.
Bagi umat yang peduli dengan Vinaya para bhikkhu, bisa membantu
membukakan rekening atas nama vihara / yayasan
Agar dana yang diberikan oleh umat dapat bermanfaat maksimal sesuai
harapan donatur yaitu untuk pengembangan Buddha Dhamma, bukan untuk
kepentingan pribadi bhikkhu

Juga sebaiknya kita selalu melakukan pengecekan ulang dari proporsal2
yang diajukan kepada kita, bukan hanya sekedar niat berdana, langsung
aja berdana.
Selain hal ini membuat manfaat dana kita tidak maksimal, juga
mengkondisikan orang dengan mudah memberikan proporsal tanpa ada
pertanggung jawaban di akhirnya.
Atau, apakah ada saran maupun usulan lainnya?

Semoga semua mahluk berbahagia.

salam metta,
subhadevi


Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke