Krishnanda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam dalam Dharma
Buddha adalah gelar, sekali lagi GELAR, dlm pandangan umat Budha tidak ada
sebutan yang lebih tinggi dari Buddha. Jadi pemakaian kata Sang yang
dimaksudkan untuk menghormati Buddha justru telah merendahkannya. Menurut
KBBI 2001, Sang (1) dipakai di depan nama orang, binatang atau benda yg
dianggap hidup atau dimuliakan. (Komentar: Yg perlu dimuliakan ya yg
biasanya dianggap tdk mulia Atau kalau tanpa sang, Buddha dianggap benda
mati dan tdk mulia?). (2) Sang adalah kata yg dipakai di depan nama benda
untuk berolok-olok. (Komentar: Masa kita memperolok-olok tanpa
menyadarinya?)
Betul kata Buddha sepatutnya berdiri sendiri. Di dalam kata itu sudah
terkandung kemuliaan yang tertinggi. Betul, kalau mau menyebut Buddha selain
Sakyamuni, tentu harus menyebutkan nama individual. Kalau ditambah Hyang
(tdk ada dalam KBBI), artinya Eyang, Mbah, sama dengan Kongco. Atau: dewa
(menurut Kamus Jawa Kuna/ Kawi), tanpa disadari menyamakan Buddha dg keakuan
sesosok dewa. Padahal Buddha menolak atta. (Kata kunci: Apa Budha zaman
dahulu, sekarang dan kemudian adalah 'sesuatu' yg berbeda? Jadi Nirwananya
berbeda, karena ada Nirwana masing-masing? Seharusnya Nirwana hanya satu,
mutlak, esa. Sedangkan tidak ada Nirwana tanpa Buddha, tidak ada Buddha
tanpa Nirwana). Kalau menyebut Guru Buddha, jangan-jangan diartikan Buddha
punya guru. Nah, kembali kita jangan keluar dari kebiasaan berbahasa bangsa
Indonesia, jangan eksklusif agama Buddha. Kenapa mesti mempertahankan bahasa
Pali: Siddhatta misalnya, sedang di Indonesia sudah terbiasa dikenal
Siddharta? Banyak penganut agama lain merasa tidak familiar dengan cara
berbahasa umat Buddha. Padahal agama Buddha memiliki kontribusi lewat bahasa
Melayu Sriwijaya dan Kawi-Jawa Mataram-Majapahit, yg membentuk bahasa
Indonesia. Yg ada di kamus: karma bukan kamma, Nirwana bukan nibbana atau
Nirvana, wihara bukan vihara, biku bukan bhikkhu, biksu bukan bhishu, Waisak
bukan Vesakkha, dsb.
Yg penting, tdk memaksa orang lain sependapat, tetapi perlu mengingatkan
saja.
Selamat berjuang
Krishnanda
----- Original Message -----
From: "Handaka Vijjananda" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, December 08, 2005 12:24 AM
Subject: Re: [FPBI] Bagaimana menuliskan "Sang Buddha" (panjang)
> JAYAMANGALANI,
>
> Kalyanamitta,
>
> Dalam bahasa Indonesia, cara penulisan "Buddha" memang beragam, dan
> saya rasa TIDAK ADA KEHARUSAN untuk menyeragamkannya.
>
> Pembubuhan sebutan "Sang" di depan kata "Buddha" (menjadi: Sang Buddha)
> tidaklah keliru (cetana-nya baik kok). Pada awalnya, kata Sang di depan
> kata Buddha ini dimaksudkan untuk "mengagungkan Buddha", namun seiring
> perkembangan bahasa kita, kata "Sang" jadi banyak dipakai dalam fabel
> (cerita binatang) atau untuk membentuk nama diri (proper name)--yang
> bahkan untuk suatu peran yang kurang "proper"/layak (misal: Sang
> Pencuri). Alih-alih memberikan makna apresiasi kepada Buddha Gotama,
> pembubuhan kata "Sang" malah bisa berisiko menjadi peyorasi (penurunan
> nilai makna).
>
> Kata "Buddha" sebenarnya SUDAH BISA BERDIRI SENDIRI sebagai proper name
> (nama diri). Setelah Pangeran Siddhattha Gotama merealisasi Nibbana,
> orang-orang yang mengakui ke-Buddha-an Beliau menyebut Beliau dengan
> nama "Buddha", yang secara harfiah berarti "Yang Sadar" (The Awakened
> One ) atau Yang Tercerahkan (The Enlightened One). Dalam bahasa Pali
> sendiri, kata "Buddha" berdiri lepas, tanpa tambahan kata
> semacam "Sang", "Phra", "Phaya", "the", dsb.
>
> Pada waktu itu, di kalangan pengikut Buddha Gotama, sebutan "Buddha"
> ini hanya disematkan kepada pangeran suku Sakya yang menjadi ariya atas
> usahanya sendiri. Jadi, sesuai dengan konteks tema-ruang-waktu, jika
> para pengikut Buddha menyebut nama "Buddha", yang dirujuk tidak lain
> adalah Buddha Gotama, KECUALI jika memang sedang membicarakan Buddha-
> Buddha terdahulu (seperti Buddha Dipankara, Buddha Konagamana, Buddha
> Kakusanda, dll.) atau yang akan datang (Buddha Metteya).
>
> Ada satu alternatif istilah teknis lagi: "Arahant Gotama", tetapi
> sebutan Arahant kebanyakan dipakai untuk menyebut Buddha Siswa (Savaka
> Buddha), yaitu mereka yang merealisasi Nibbana atas petunjuk langsung
> atau tidak langsung dari sesosok Sammasambuddha. Jadi, sebutan "Arahant
> Gotama" adalah benar secara teknis, tetapi bisa menjadi "kabur" dalam
> pembentukan nama diri.
>
> Dalam buku-buku Ehipassiko Collection, selaku penyunting, saya sendiri
> memilih memakai nama diri "Buddha" saja alih-alih "Sang Buddha", "Hyang
> Buddha", dll. untuk merujuk Buddha Gotama, dengan pertimbangan:
>
> 1. Tetap menjunjung tinggi pencapaian Beliau (bukankah kata "Buddha"
> itu sendiri adalah suatu sebutan terhadap tataran pencapaian yang sudah
> sangat-maha-ruarbiasa agungnya, tanpa perlu dibubuhi embel-embel apa
> pun).
>
> 2. Tetap khas secara kontekstual (setidaknya dalam lingkup Buddha
> Gotama). Dalam hal perujukan Buddha-Buddha lainnya, yang relatif lebih
> jarang disebut daripada Buddha Gotama, saya akan menyebutkan dengan
> lebih lengkap: Buddha Tanhankara, Buddha Medhankara, Buddha Managala,
> Buddha Metteya, dll.
>
> 3. Ekonomi kata (cukup satu kata nan tiada duanya, secara pragmatis,
> ini sangat membantu).
>
> 4. Dalam konteks tertentu, tidak menutup kemungkinan menyebut Beliau
> dengan sebutan "Buddha Gotama" atau "Sammasambuddha".
>
> Menurut saya, kita baru dikatakan "njangkar" (kata dari bahasa Jawa
> yang artinya kurang santun dalam penyebutan orang yang lebih
> tua/dituakan), jika kita sebagai pengikut Buddha (yang punya "iman"
> atau sudah merealisasi sendiri ke-Buddha-an Beliau), memanggil Beliau
> dengan sebutan "Gotama" saja, "Siddhattha" saja. Sebutan "Sakyamuni"
> saja (orang suci suku Sakya) masih lebih berterima dalam konteks ini.
> Menyebut "Buddha" saja tidaklah berarti "njangkar", dengan alasan
> seperti disebutkan dalam pertimbangan no. 1 di atas.
>
> Sebutan-sebutan penghormatan di atas, pun, bukanlah hal yang mutlak,
> dan tentunya tidak berlaku bagi orang yang tidak tahu, tidak kenal atau
> tidak mengakui ke-Buddha-an Beliau. Sah-sah saja dan bisa kita maklumi.
> Jika bisa kita beri penjelasan, ya baik. Jika mereka tidak bisa
> menerima, ya nggak apa-apa :)
>
> Entah masing-masing dari kita lebih merasa "sreg" menyebut "Buddha"
> atau "Sang Buddha" atau "Buddha Gotama" atau apa pun, jika dilandasi
> dengan KESADARAN dan NIAT BAIK, hal ini rasanya tidak jadi masalah.
>
> Masalah baru akan muncul, menjadi "polemik", bahkan bisa berkembang
> menjadi "konflik", jika kita berniat memaksakan gagasan kita sendiri
> untuk diterima sebagai suatu standar/patokan umum.
>
> Pundarikam yatha vaggu,
> toyena nupalippati,
> nupalippami lokena,
> tasma buddhosmi brahmana'ti.
>
> Jelita dan indah bagaikan teratai,
> tak terkotori oleh air,
> oleh dunia, diri-Ku tak ternoda,
> demikianlah, brahmin, Aku adalah Buddha.
>
> (Dona Sutta, Cakka Vagga, Catukka Nipata, Anguttara Nikaya)
> -------------
> Be happy,
> Handaka
>
>
>
>
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
