Bagaimana Merek Pengaruhi Otak Anda?
Jakarta, Kamis
 
Kirim Teman | Print Artikel
Tergila-gila pada merek suatu barang? Jika ya, mungkin ada bagian dari otak Anda yang sudah dijajah olehnya. Para peneliti menunjukkan bagaimana mekanisme otak bekerja saat kita mencoba suatu produk dan dihujani informasi serta iming-iming iklan.
Sebelumnya telah diketahui bahwa manusia dan hewan dapat belajar menghubungkan rangsangan tertentu dengan pengalaman positif yang dialaminya, misalnya bunyi bel dengan makanan untuk melatih anjing. Dari rekam otak yang dipelajari menunjukkan bahwa latihan tersebut mempengaruhi bagian dasar otak yang disebut ventral striatum dan ventral midbrain.
Sedangkan penelitian yang dilakukan John O’Doherty dari Caltech, Pasadena menunjukkan bahwa keputusan untuk memilih diatur oleh otak di bagian ini. "Makna dari penelitian ini adalah kita mampu memanfaatkan sinyal-sinyal tertentu untuk mempengaruhi bagian ini saat mengambil keputusan, misalnya saat memilih membeli sabun baru di toko tanpa harus mencobanya langsung," kata Doherty yang melakukan penelitian tersebut di University College London, Inggris.
"Ini karena kita dapat menggunakan pengalaman sebelumnya yang berhubungan dengan benda tersebut sehingga dapat secara subjektif menentukan suka atau tidak," katanya. Maka saat membeli sabun kembali, otak memanfaatkan informasi tersebut sebagai pertimbangan.
Doherty bersama koleganya dari UCL dan University of Iowa mengukur ketertarikan para sukarelawan terhadap blackcurrant, melon, jeruk manalagi, dan jus wortel, selain air tawar sebagai pembanding. Mereka memindai otak para sukarelawan dengan teknik functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk melacak aliran darah pada berbagai area otak. Semakin besar aliran di suatu area berarti semakin besar aktifitas di sana.
Kepada para sukarelawan diperlihatkan bentuk tertentu yang muncul sekilas di layar komputer setiap kali diminta minum jus. Mereka diminta memencet tombol tertentu yang menunjukkan di bagian mana bentuk tersebut muncul kembali saat minum jus yang sama. Para peneliti mengukur bagaimana para sukarelawan belajar dengan pengalaman tersebut.
Alat pemindai menunjukkan bahwa daerah dasar otak yang disebut ventral midbrain dan ventral striatum menunjukkan respon yang signifikan yang menunjukkan proses pembelajaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa di daerah itulah yang mempengaruhi rasa suka atau tidak suka terhadap jus.
Menurut Doherty, proses pemrograman seperti ini mungkin bagian dari fungsi evolusi yang membantu manusia dan hewan memprediksi pengaruh baik atau buruk yang akan dialaminya. "Misalnya, jika Anda mengalami keracunan saat mencicipi makanan, maka selanjutnya Anda akan menolaknya," katanya.

Sumber:  NewScientist.com
Penulis:  Wah


Yahoo! DSL Something to write home about. Just $16.99/mo. or less

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke