Title: Melihat Dunia Nyata di Maribaya

Majalah INTISARI edisi Januari 2006 menurunkan liputan tentang kegiatan Meditasi Vipassana di Wisma Kusalayani, Maribaya (Bandung). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Kusalayani, pimpinan Bhikkhuni Santini (umumnya dipanggil dengan sebutan Ayya Santini).

 

Di bawah ini adalah artikel selengkapnya. Mudah-mudahan bermanfaat. Menumbuhkan dan memberikan semangat kepada kita untuk berlatih meditasi.

 

Terima kasih

DP

 

Melihat Dunia Nyata di Maribaya

 

Penulis: Nis Antari

 

Jangan cepat menuduh lelet bila melihat seorang teman mengunyah makanan atau berjalan begitu lama dan lamban. Siapa tahu, ia sedang melakukan vipassana, sebuah metode meditasi untuk meningkatkan kualitas diri.

 

Vipassana memang istilah asing di telinga kebanyakan orang, kecuali mereka yang paham bahasa Sansekerta atau pemeluk agama Buddha. Secara harfiah kata itu berarti “melihat yang sebenarnya”. Lo, apakah yang kita lihat sehari-hari itu bukan yang sebenarnya?

 

Dalam pandangan sang Buddha, apa yang kita lihat sehari-hari itu sesungguhnya semu belaka. Namun, dengan melakukan vipassana diharapkan kita mampu melihat yang sebenarnya dari diri kita masing-masing. Vipassana dalam agama Buddha dilakukan melalui meditasi.

 

Vipassana tidak lain metode atau cara mengenal dan mempelajari diri sendiri untuk memahami makna yang paling hakiki dari konsep diri (keakuan). Menurut sang Buddha, meditasi ini adalah jalur cepat ke arah penerangan sempurna atau pembebasan dari semua kekotoran batin, kebodohan batin, dan penderitaan.

 

Dalam hal ini, kesadaran menjadi kata kuncinya. Banyak dari kita hidup di dunia ini tanpa pernah “hadir” saat semuanya berlangsung di sekeliling kita. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah menyadari apa pun yang kita lakukan dan pikirkan.

 

Berbagai kelompok atau organisasi Buddha kerap mengadakan meditasi semacam ini. Salah satunya Yayasan Kusalayani di Maribaya, Bandung, yang menyelenggarakannya setahun sekali. Biasanya di bulan Agustus.

 

Tahun ini vipassana diselenggarajan di Wisma Kusalayani, 12 – 22 Agustus lalu. Pesertanya terbuka dari kalangan mana saja dan tidak terbatas pada agama tertentu. Siapa saja boleh ikut, kecuali yang memiliki riwayat stres tinggi.

 

Tujuan dari latihan vipassana yang berlangsung selama 10 hari itu tak lain untuk meningkatkan kesadaran.

 

Slow motion

Vipassana di Maribaya kali ini diikuti oleh 10 orang dari dua kawasan, Jakarta dan Bali. “Setiap program vipassana kami memang sengaja menerima sedikit orang agar setiap peserta mendapat perhatian yang maksimal. Dari hari ke hari, setiap kejadian dan perkembangan setiap peserta dapat kami pantau dengan cermat,” jelas Bhikuni Santini yang biasa dipanggil Aya Santini.

 

Para peserta tiba di Maribaya bertepatan dengan jam makan siang dan langsung masuk ke kamar masing-masing yang sudah disediakan. Barang bawaan masih boleh dipergunakan, mengingat sebelum pukul 18.00 WIB acaranya masih bebas. Mereka masih diperkenankan menghubungi orang-orang terdekat lewat telepon, misalnya. Namun, setelah itu, semua kartu indentitas, uang, dan alat komunikasi “ditahan” panitia penyelenggara.

 

Tentu saja ada aturan main yang harus ditaati peserta selama tinggal di Wisma. Yaitu, tidak diperkenankan menonton TV, membaca, merokok, atau berbicara satu sama lain sebelum diizinkan oleh panitia.

 

Begitu pelatihan dimulai, sejak itulah apa pun yang mereka kerjakan akan dilakukan dengan kesadaran penuh. Kegiatan awal yang mereka lakukan yaitu mandi pada keesokan harinya.Bukan mandi jebar-jebur layaknya di rumah, tapi dengan gerakan yang sangat lamban. Mirip slow motion dalam film-film. Mulai dari memegang gayung, lalu mengisinya dengan air, hingga mengguyurkannya ke tubuh. Sebuah “ritual” keseharian yang selama ini tak pernah mereka pedulikan (sadari) menjadi pengalaman awal yang mengasyikkan.

 

Gayung yang sudah diisi air diangkat sedikit di atas bahu, dan secara perlahan dimiringkan sedikit demi sedikit. Air lalu diguyurkan ke sekujur tubuh dengan perlahan. Air pun mengalir dari leher, hingga ke kaki. Semua proses itu mereka nikmati di tengah dinginnya cuaca pegunungan pada pukul 04:00. Sebelumnya, peserta dibangunkan sejak pukul 03:00.

 

Begitu pun saat menikmati hidangan makan pagi. Sendok di tangan bergerak perlahan ke arah makanan hingga bergerak ke arah mulut untuk memasukkan makanan. Selain itu mereka juga diminta setiap suapan yang masuk, termasuk menikmati saat mulut mengunyah hingga menelan makanan. Ketika menelan, misalnya, mereka bisa membayangkan dan merasakan perjalanan makanan mulai dari kerongkongan hingga ke usus besar. Sebelum itu peserta memang sudah diberi pengetahuan tentang sistem pencernaan.

 

Tidak kekal

Kesadaran mereka terus berlangsung dari detik ke detik. Gerakan-gerakan yang lamban itu muncul karena kesadaran diri.

 

Usai sarapan pukul 07:00 (peserta hanya makan dua kali sehari pukul 07:00 dan 11:00), mereka melakukan meditasi yang dilakukan sambil duduk selama satu jam. Kegitaan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama satu jam, duduk kembali hingga malam harinya. Peserta boleh berganti-ganti tempat dan lokasi sesuai kehendak masing-masing peserta. Bisa di dalam kurungan, kandang kesadaran, atau tempat lain. “Sebetulnya, berbaring pun tak apa. Asalkan jangan tertidur, karena kesadaran kita jadi hilang,” terang Aya.

 

Ada pengalaman baru lain yang dirasakan peserta ketika mereka melakukan meditasi jalan kaki selama satu jam. Ketika hendak melangkah, gerakan kaki betul-betul dirasakan. Kaki secara perlahan diangkat, dilangkahkan, dan dijatuhkan kembali ke tanah.

 

Tujuannya, selain merasakan proses kaki melangkah, “Juga agar pikiran kita tidak ke mana-mana,” tegas Aya Santini sambil menjelaskan, sebetulnya yang memberi istilah jalan adalah manusia. Alhasil, untuk mencapai jarak beberapa meter ke depan, mereka perlu waktu lama sekali!.

 

Begitulah, yang mereka lakukan dari hari ke hari hanyalah mengamati dan merasakan segala sesuatu yang sedang mereka lakukan. Mereka dilarang terpaku pada satu tempat ataupun satu sensasi (perasaan hati). Semuanya mesti mereka jelajahi. Rasa senang, sedih, sakit, dan sebagainya. Hal ini untuk melatih agar mereka tidak terjebak dalam euforia.

 

“Hidup ini anicca (tidak kekal). Duka tidak akan selamanya, sebab akan datang bahagia. Rasa bahagia juga tidak kekal, karena akan diganti oleh perasaan lainnya,” papar Aya yang kerap menjadi pembicara di berbagai seminar ini.

 

Setelah melewati hari kedua, akhirnya peserta mampu menikmati semua yang mereka lakukan. Mengamati diri sendiri sambil duduk, berjalan, maupun ketika melakukan aktivitas lainnya.

 

“Hingga sekarang, efek dari vipassana masih terasa. Langkah kaki saya jadi ringan. Kesadaran juga selalu terjaga, sehingga pikiran tidak melantur kemana-mana, dan yang pasti jadi lebih fokus,” ucap Santi, salah satu peserta.

 

Pengakuan Santi itu bertolak belakang dengan perasaaanya di hari pertama saat acara vipassana dimulai. “Seluruh badan pegal dan kaki kesemutan ketika bermeditasi duduk. Sementara posisi duduk tidak boleh berubah sedikit pun dari posisi semula. Rasanya ingin pulang saja ke Jakarta. Tapi, kami diharuskan untuk mengikuti sampai selesai,” kata Santi yang juga mengaku, kini ia mampu mencari penyebab dari setiap masalah yang dihadapinya.

 

Tidak takut hantu

Keluhan Santi ternyata keluhan semua peserta. “Rasa pegal dan kesemutan itu wajar. Cara mengatasinya, jangan dilawan. Tetapi diterima, diperhatikan, dan dirasakan. Lama-kelamaan pegal-pegal itu hilang sendiri,” kata Aya seakan berjanji.

 

Betul saja, pada acara meditasi berikutnya para peserta sudah dapat menerima rasa pegal dan kesemutan. “Kaki memang pegal banget. Saya teringat perkataan Aya, terima saja. Saya rasakan terus. Pelan-pelan rasa pegal dan kesemutannya hilang. Sampai sekarang saya tahan duduk bersila lebih dari satu jam tanpa mengubah posisi,” aku Dodo, salah seorang peserta dari Jakarta.

 

Saat kegiatan berlangsung, Aya merekam aktivitas peserta lewat handycam. Tiap dua hari sekali ia menunjukkan kepada mereka apa yang belum sempurna dilakukan peserta serta kemajuan yang telah diraih. Benar saja, hasil rekaman kamera selama dua hari pertama memperlihatkan wajah-wajah tegang sebagian besar peserta. Setelah itu, Aya berdiskusi dengan setiap peserta untuk mengetahui perkembangan apa yang sudah mereka peroleh.

 

Hari keempat, hasil rekaman video memperlihatkan perubahan yang terjadi pada peserta. Wajah-wajah mereka tampak lebih rileks, lebih nyaman, dan tidak lagi gelisah. Bahkan wajah salah seorang peserta menjadi tampak bercahaya.

 

Di hari-hari selanjutnya dilakukan pembahasan untuk mencoba mencari penyebab kekuarangan diri. Santi, misalnya, mengaku punya ketakutan yang sangat kuat pada hantu. Tidur sendirian di kamar selama ini membuatnya gelisah. Ia pun dibantu mencari penyebabnya. “Aya mengajak saya menyadari terlebih dahulu apa yang membuat saya takut hantu. Ia memaparkan panjang lebar kaitan antara perasaan, pikiran, dan kebodohan batin. Sekarang perasaan takut itu hilang. Kalaupun saya ketemu hantu sungguhan, saya terima bahwa ia juga makhluk yang butuh bahagia.”

 

Pengalaman tak terlupakan juga diungkaokan Dodo. “Setelah mengikuti vipassana, saya merasakan bukan hanya pikiran dan badan yang sangat enteng, tetapi saya juga mampu mengurangi kebiasaan merokok. Selain itu, saya dapat mendengarkan suara batin saya. Ternyata selama ini saya menyiksa batin terus. Saya tidak pernah membuatnya senang sampai saya tidak mampu mendengar suara batin sendiri. Rasa cemas akan masa depan, takut ini-itu, rupanya telah membuat batin saya tersiksa. Kini saya lepaskan ketakutan dan kecemasan itu agar batin saya merdeka,” ujar Dodo.

 

Di Maribaya mereka menemukan dunia nyata mereka sendiri.

 

INTISARI. Januari 2006. Halaman 142-149



** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke