Kompas, Jumat, 13 Januari 2006
Ketika Rumah Tidak Aman Lagi bagi Anak
Mh Samsul Hadi
Sepekan di awal tahun 2006, kasus-kasus kekerasan terhadap anak terus bermunculan. Belum hilang ingatan publik atas kisah anak dibakar ibu kandung di Serpong, Tangerang; anak dicekik ibu tiri hingga mati di Cilincing, Jakarta Utara, muncul lagi cerita anak disetrika ayah kandungnya. Ada apa dengan para orangtua saat ini?
Buku komik Shinchan yang dipinjam Siti Ihtiyatus Solihah (8) dari temannya itu bukannya membawa kegembiraan. Salah satu buku bacaan kegemaran ini justru membawa petaka bagi siswi Kelas III SD Negeri Sunter Jaya 09, Jakarta Utara, itu.
Hari Minggu (8/1) sekitar pukul 17.00, Tia begitu anak perempuan itu biasa dipanggil disetrika ayah kandungnya sendiri, M Johandi (34), di tempat tinggal mereka, Jalan Pulo Besar I RT 02 RW 11, Kelurahan Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Akibat digosok setrika panas, dua kaki Tia dan lengannya mengalami luka bakar.
Bukan itu saja, anak yang gemar membaca itu juga dipukul dengan tambang tali jemuran, ditampar tangan, dan disundut dengan rokok. Tia jangan digosokin. Nanti Tia enggak bisa sekolah, jerit anak itu, seperti ditirukan ibunya, Kurniasih (36), saat disiksa ayah kandungnya.
Menurut Kurniasih, peristiwa itu bermula saat Tia meminjam buku komik Shinchan dari temannya. Dalam buku komik itu ternyata terselip selembar uang Rp 100.000. Uang itu ditemukan ibunya berada di bawah tumpukan baju-baju di lemari.
Karena tidak menjawab saat ditanya soal uang itu, Johandi kesal dan menyetrika kedua kaki anak kandungnya sendiri. Kami malu kalau dia mencuri uang orang, kata Kurniasih.
Padahal, menurut Tia, yang belakangan bertutur kepada bibinya, ia semula ingin mengembalikan uang itu, tetapi rumah temannya sudah tutup. Makanya, uang itu ditaruh di bawah lipatan baju, ujar Kurniasih.
Kisah pedih ini adalah kasus kekerasan terhadap anak yang kesekian kalinya terjadi di Tanah Air. Tanggal 1 Januari 2006 di Serpong, Kabupaten Tangerang, Indah Sari (3,5) dan Lintang Syaputra (11 bulan) dibakar ibu kandung mereka.
Indah akhirnya meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, tetapi Lintang masih dirawat.
Kasus lain, pada 2 Januari lalu, Eka Suryana (7) dicekik ibu tirinya hingga tewas setelah diperkosa pamannya. Semua kasus terjadi di rumah sendiri yang seharusnya menjadi tempat berlindung anak.
Bukan lagi surga
Merujuk pada berbagai kasus kekerasan terhadap anak, psikolog dari Universitas Indonesia, Prof Dr Sarlito Wirawan Sarwono, menyebutkan, sekarang rumah tak lagi jadi tempat yang aman bagi anak-anak. Di dalam rumah justru tidak ada yang bisa melindungi anak, katanya.
Rumah bukan lagi istana atau surga bagi anak-anak,kata Dr Seto Mulyadi, pemerhati masalah anak-anak yang juga Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak. Itu karena selama ini rumah dianggap wilayah privat yang tak bisa diintervensi pihak luar meski terjadi kekerasan.
Praktik-praktik kekerasan terhadap anak cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat, tahun 2004 terjadi 441 kasus kekerasan. Angka itu meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 2005 menjadi 736. Kasus-kasus itu berbentuk kekerasan fisik, psikis, dan seksual.
Mengapa bisa terjadi
Prof Sarlito maupun Dr Seto menyebut, paradigma yang salah dalam memandang anak menjadi akar masalah kekerasan terhadap anak. Dalam hal ini, anak dipandang sebagai obyek atau warga negara kelas dua yang harus menurut pada kemauan orangtua.
Orangtua berharap terlalu banyak kepada anak dan cenderung memaksa agar anak menuruti sepenuhnya pada kemauan mereka. Kalau tidak, si anak dihukum, kata Sarlito. Ini diperparah dengan tekanan hidup yang amat kompleks, seperti kemiskinan, pengangguran, dan pemutusan hubungan kerja.
Ketika masalah-masalah itu menimbulkan frustrasi, anak menjadi sasaran pelampiasan paling mudah. Dari penelitian, anak yang mengalami kekerasan cenderung akan mengulang ketika sudah berkeluarga. Karena itu, tidak ada jalan lain kecuali memutus mata rantai kekerasan tersebut sekarang juga.


Yahoo! Photos – Showcase holiday pictures in hardcover
Photo Books. You design it and we’ll bind it!

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke