masya allah... :) --- In [email protected], Jeritan Bisu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kompas, Rabu, 18 Januari 2006 > Demi Rp 54.800, Badan Rela Babak Belur > > Agnes Swetta Pandia > Tuntutan buruh sebenarnya sangat sederhana. Mereka cuma meminta upah yang wajar dari keringat yang diperas seharian. Maklum, upah minimum kota/kabupaten yang ditetapkan gubernur sangat minim. > Bayangkan saja, di zaman seperti sekarang ini buruh berikut keluarganya harus bisa hidup dengan upah Rp 400.000 sebulan. Di Kota Blitar, misalnya, upah minimum kota/kabupaten (UMK) ditetapkan Gubernur Jawa Timur (Jatim) sebesar Rp 390.000 per bulan. Di Kabupaten Ponorogo dan Madiun Rp 400.000 sebulan. > "Dihemat seperti apa pun, upah itu tidak cukup untuk hidup sekeluarga," kata seorang buruh yang berunjuk rasa di Kantor Gubernur Jawa Timur hari Senin (16/1) lalu. > Tak muluk-muluk > Unjuk rasa bisa jadi satu-satunya pilihan yang bisa dilakukan para buruh dalam rangka memperbaiki nasib mereka. Tuntutannya pun tidak muluk- muluk, hanya minta kenaikan upah tak lebih dari Rp 70.000 sebulan! > Buruh dari Kabupaten Gresik, misalnya, cuma menuntut kenaikan UMK Rp 54.800 sebulan, dari yang asalnya Rp 655.200 menjadi Rp 710.000 per bulan. > Begitu pula buruh di Kota Surabaya, cuma menuntut kenaikan UMK sebesar Rp 60.500 sebulan, yakni dari Rp 655.500 menjadi Rp 716.000 per bulan. > Untuk memperjuangkan nasib tersebut, sekitar 12.000 buruh yang berasal dari sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Timur, Senin lalu, rela berdemonstrasi ke Kantor Gubernur Jatim di Surabaya. Mereka menggunakan kendaraan seadanya, mulai dari berboncengan dengan sepeda motor hingga berdesak-desakan di atas truk terbuka untuk perjalanan puluhan kilometer. > Namun, apa yang didapat? Bukan rasa simpati yang mereka terima, justru para pejabat saling lempar tanggung jawab. Sejumlah buruh pun babak belur dipukuli petugas. Bahkan, enam buruh di antaranya ditangkap aparat dengan tuduhan menghasut. Dua buruh di antaranya, yakni Eddi Kuncoro Prayitno (32) dan Suprasiono (30), hingga kemarin masih ditahan di Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Surabaya dengan tuduhan penghasutan dan perusakan. "Ancaman hukumannya di atas lima tahun penjara," kata Kepala Polwiltabes Surabaya Komisaris Besar Anang Sukandar kemarin. > Sudah tak punya pinggang > Jika pemerintah menganjurkan hidup hemat dan "mengencangkan ikat pinggang", tanpa disuruh pun buruh sudah mengencangkan ikat pinggang. "Bahkan, kini buruh sudah tak punya pinggang," kelakar Sutrisno (38), buruh di Kawasan Industri Rungkut, Surabaya, sambil tertawa getir. > Muji Astuti (31) yang indekos di kawasan Kletek, Sidoarjo, misalnya, harus bersiasat dengan gajinya yang tak sampai Rp 600.000 per bulan meski memiliki masa kerja sembilan tahun. > Untuk makan sehari-hari terpaksa dia dan keluarganya membeli beras pecah. "Harganya lebih murah, sekitar Rp 3.400 per kg dibandingkan beras utuh yang harganya Rp 4.000 per kg," katanya menceritakan. > Harga minyak tanah yang digunakannya untuk memasak juga membuat kepalanya pening. "Sebelum harganya naik, setiap bulan kami hanya membeli minyak tanah Rp 18.000. Sekarang setiap bulan kami harus mengeluarkan Rp 50.000 untuk membeli minyak tanah. Karena itu, kini kami membeli air minum isi ulang. Kalau merebus air sendiri, jatuhnya lebih mahal," katanya. > Selain mengganti kualitas barang yang dibeli, Muji mengencangkan ikat pinggang sang suami. "Uang jatah suami saya kurangi, dari Rp 50. 000 menjadi Rp 20.000 sebulan. Ia sekarang tidak merokok lagi," katanya tertawa. > Muji bukan satu-satunya buruh yang pening tujuh keliling melihat kebutuhan pokok yang harganya melejit. Seorang buruh pabrik mebel kayu di Sidoarjo, Gunawan (27), juga kelabakan menghadapi kenaikan harga berbagai bahan kebutuhan pokok sehingga harus berhemat dengan mengurangi konsumsi beras, sayuran, sabun, gula, hingga rokok. Jika tidak, penghasilannya Rp 680.000 per bulan tidak akan cukup untuk menghidupi istri dan seorang anaknya. > "Dulu istri saya setiap hari memasak satu kilogram beras. Sekarang terpaksa dikurangi. Kenyang tidak kenyang memang begitu kondisinya," kata Gunawan yang kini juga jarang menikmati sayur atau telur sajian istrinya. > Meski demikian, dia merasa sedikit bersyukur karena induk semangnya belum menaikkan harga sewa indekos seharga Rp 100.000 per bulan. Begitu pula tentang tarif listrik untuk tempat indekosnya masih dikenakan biaya Rp 7.500 per bulan. > Tak bisa bantu orangtua > Seorang buruh lain, Hadi (21), yang bekerja di Jalan Industri Buduran, Kabupaten Sidoarjo, menyatakan, kini dia tidak bisa lagi menyisihkan sebagian kecil penghasilannya untuk membantu kedua orangtuanya. Ia berharap bisa kembali mengirim bantuan kepada orangtuanya jika UMK naik. Namun, ternyata harapan itu hampa karena UMK 2006 tak jauh beranjak dari tahun sebelumnya. > "Kalaupun buruh menggugat ke pengadilan, prosesnya lama dan belum tentu akan menang," kata Ketua Dewan Pengurus Cabang Sarekat Buruh Muslim Indonesia Sidoarjo Sya'roni A. (Aryo Wisanggeni) > > > > --------------------------------- > Yahoo! Photos > Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays, whatever. >
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
