Dear all,
anak merupakan suatu individu yang terpisah satu sama
lain.Dia adalah manusia yang terlahir sesuai dengan
karmanya dikehidupan yang lalu.
Aku sendiri heran mengapa pemahaman keyakinan lain
yang mengatakan bahwa anak adalah titipan dari yang
kuasa adalah awalnya.Pemahaman itu menimbulkan jawaban
balik "kl titipan dan tidak pernah diambil2 oleh
pemiliknya, itu berarti sudah menjadi milik kita
sepenuhnya...".

  Kelahiran seorang anak manusia melalui rahim ibunya
merupakan suatu keadaan biologis dan bukan "karunia"
yang sering terdengar oleh keyakinan lain.Melahirkan
seorang anak bukan berarti anak telah berhutang jasa
terhadap orangtuanya dan yang menjadikan orangtua
menjadi besar jasanya karna dia merawat serta
mendidiknya menjadi orang yang baik dalam pengertian
secara harafiah.

Dear all,
Pernikahan dini dan pernikahan karna sudah pantas
menikah menjadikan keadaan ini menjadi lebih
terpuruk.Kesadaran untuk menikah bukan berdasarkan dua
hal tersebut diatas.Bukan berarti saya menyetujui hub
seks bebas tetapi dipertimbangkan dengan matang apa
artinya bagi kita sendiri untuk menikah atau memiliki
seorang anak.

Semoga bermanfaat,
Terimakasih,
Steeve



--- Jeritan Bisu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>  Selasa, 24 Januari 2006   
>   Kekerasan Terhadap Anak
> 
>   Maafkan Aku Mama... 
>   
>   Evy Rachmawati dan RieN Kuntari
>   ”Mama, maafkan aku, tidak seharusnya aku berbuat
> jahat pada Mama dan Papa. Mama adalah Mamaku, dan
> Papa kan Papaku, tidak seharusnya aku nge-(maaf:
> seks) dengan Mama dan Papa.”
>   Surat bernada pilu itu ditulis Embun, sebut saja
> begitu, yang kini menginjak remaja. Bocah perempuan
> kelahiran 31 Oktober 1991 itu kini harus berjuang
> mengendalikan dorongan kuat dirinya untuk
> berhubungan badan.
>   Embun belum lama bisa menulis surat itu. Kemampuan
> itu diperolehnya setelah mendapat bimbingan intensif
> dari lembaga yang ditunjuk Komisi Nasional (Komnas)
> Perlindungan Anak.
>   Ia terpaksa berakhir di lembaga pemulihan karena
> sejak usia delapan tahun telah mengalami kekerasan
> seksual. Luka batinnya tak tersembuhkan karena
> justru dilakukan orang terdekat: ibu kandung dan
> kakek.
>   Peristiwa memilukan itu baru terungkap setelah
> sang ”mama” yang waktu itu masih menjadi pengasuhnya
> menemukan bercak putih di pakaian dalam Embun.
>   Tanpa ragu, pengasuh yang memang sangat dekat
> dengan Embun itu membawanya ke ginekolog. Betapa
> terkejutnya ia ketika dokter mengatakan Embun
> terkena herpes.
>   Dokter menemukan bocah yang terlihat begitu polos
> itu telah kehilangan kehormatannya.
>   Perlahan, penderitaan Embun mulai terungkap. Ia
> mengaku sejak kecil sering diajak ibu kandungnya
> bersama-sama menonton film biru. Begitu juga dua
> adik lelaki Embun, sebut saja Raga (12) dan Adam
> (10).
>   Bedanya, Embun kemudian diajak mempraktikkan apa
> yang dilihat di film oleh si ibu. Bocah itu tidak
> bisa menolak ketika si ibu mengatakan, semua itu
> dilakukan karena rasa kasih sayang. Tindakan itu
> juga melibatkan si kakek sehingga ia bisa dengan
> lancar menceritakan cara permainan ”berkelompok”.
>   Meski terjadi enam tahun lalu, peristiwa itu
> membawa trauma mendalam dan gangguan psikologis bagi
> Embun dan si bungsu Adam. Embun sulit mengendalikan
> hasrat seksualnya, sedangkan Adam merasa dirinya
> korban yang ditabrak truk sehingga sering berbalut
> perban.
>   Ketika hasratnya bergejolak, Embun yang belum
> paham cara mengendalikannya sering memaksa siapa
> saja, termasuk ayah kandung, mama barunya, pembantu
> perempuan maupun lelaki, untuk melayani. Kesalahan
> penanaman nilai keluarga membuatnya menyalahartikan
> hubungan intim sebagai bagian dari wujud kasih
> sayang.
>   Setelah tahu, ia sering merasa jijik pada diri
> sendiri—terutama saat tahu tindakan ibu kandung dan
> kakeknya merupakan perbuatan terlarang.
>   Ia pernah mencoba bunuh diri dengan meminum cairan
> pembersih lantai. Ia juga suka melukai diri sendiri
> untuk memperoleh perhatian.
>   Pada Adam, orang menyebutnya terkena sindrom
> Munchausen.
>   Ini adalah upaya menarik perhatian berlebihan
> dengan berpura-pura menderita sakit parah. Perban
> dari kepala hingga kakinya dipenuhi obat merah.
>   Menyadari kenyataan itu, keluarga mengirim Embun
> ke sanatorium Dharmawangsa. Baru tahun 2004 mereka
> menyerahkan persoalan Embun ke Komnas Perlindungan
> Anak, yang lalu mengirim Embun ke shelter atau rumah
> aman yang sesuai.
>   Saat ini Embun tak lagi melukai diri. Ia pun
> tampak lebih ceria.”Sekarang saya sadar, semua itu
> salah. Saya sekarang ingin menjadi orang sukses,
> tetapi kadang masih sulit menghilangkan
> pikiran-pikiran jahat itu,” kata Embun ketika
> ditemui di rumah ”barunya” di pinggiran Jakarta.
>   Embun hanyalah satu dari sekian ratus korban
> kekerasan kepada anak yang cenderung meningkat.
> Komnas Perlindungan Anak menyebutkan, kekerasan
> kepada anak termasuk kekerasan fisik, psikis, dan
> seksual.
>   Jika tahun 2004 hanya tercatat 544 kasus, tahun
> 2005 menjadi 736 kasus. Dan di bulan Januari 2006
> setidaknya telah terjadi 69 kasus.
>   Kasus-kasus ini tertutup dari perhatian umum
> karena orang sering beranggapan masalah anak adalah
> masalah keluarga.
>   Banyak tetangga yang memilih diam dan menutup
> kuping ketika mendengar jerit tangis anak-anak di
> rumah sebelahnya. Padahal berbagai peraturan kini
> sudah tersedia. Apakah nasib sebagian anak Indonesia
> akan begitu selamanya?
> 
> 
>               
> ---------------------------------
>  Yahoo! Autos. Looking for a sweet ride? Get
> pricing, reviews, & more on new and used cars.


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke