20 Januari

   ‘Telanjang dan berpenampilan buruk engkau.’ Ini
dikatakan ketika Sang Guru sedang berdiam di Hutan
Bambu sehubungan dengan seorang peti yang dulunya ibu
dari Y.M.Sariputta Thera dalam kelahiran kelima
sebelumnya.

   Suatu hari Y.M.Sariputta, Y.M.Mahaboggallana,
Y.M.Anuruddha dan Y.M.Kappina sedang berdiam di suatu
tempat di hutan yang tidak jauh dari Rajagaha. Pada
saat itu di Benares ada seorang brahmana yang memiliki
kekayaan besar, kesejahteraan besar, timbunan emas dan
perak yang luar biasa. Dia mau memberikan makanan,
minuman, pakaian dan tempat tinggal dan sebagainya
kepada para petapa dan brahmana, fakir miskin,
gelandangan, pelancong dan pengemis, bagaikan sumur
yang memberikan air. Dia memberi kepada semua
pendatang, sesuai dengan kesempatan dan kebutuhan,
menyimpan berbagai hadiah yang terdiri dari segala
kebutuhan seperti misalnya air (untuk mencuci) kaki,
(salep) untuk merawat kaki dan sebagainya, serta
melayani para bhikkhu dengan baik lewat makanan dan
minuman dll untuk makan pagi hari. Jika pergi ke
tempat lain, dia akan berkata kepada istrinya,
‘Sayang, tolong lanjutkan dengan seksama pemberian
dana seperti yang telah saya atur. Jangan sampai
kurang.’ ‘Baiklah’, istrinya setuju. Tetapi ketika
suaminya pergi, dia tidak lagi memberikan dana yang
telah diatur untuk para bhikkhu. Kepada para pelancong
yang mencari tempat tinggal, dia akan menunjukkan
gudang tua yang telah tidak terpakai di belakang rumah
dan mengatakan, ‘Kalian bisa tinggal di sini’. Jika
para pelancong datang untuk mencari makan, minuman dan
sebagainya, di akan berkata, ‘Makan saja kotoran;
minum saja air kencing, minum saja darah; makan saja
otak ibumu!’. Dan dia mengutuk mereka dengan kata-kata
yang kotor dan menjijikan.

   Ketika tiba waktu kematiannya, dia terseret oleh
kekuatan tindakannya dan terlahir di kandungan-peta
dan menjalani kesengsaraan sesuai dengan perilaku
buruknya dan ucapan. Mengingat hubungan mereka di 
dalam kelahiran dahulu dan karena ingin menemui
Y.M.Sariputta, peti tersebut pergi ke vihara
Y.M.Sariputta, tetapi para devata (penjaga) vihara itu
tidak mengizinkannya masuk ke vihara. Dikatakan bahwa
dulunya dia adalah ibu dari Thera tersebut di dalam
kelahiran kelima sebelum ini, saya adalah ibu dari
Sariputta yang mulia; tolong izinkanlah saya masuk
melalui gerbang untuk menemui  Thera Sariputta. Ketika
mendengar hal ini, para devata tersebut memberikan
izin. Setelah masuk, dia berdiri di ujung
tempat-berjalan dan menampakkan diri kepada Thera
tersebut. Ketika Thera itu melihatnya, hatinya
tergugah oleh welas asih dan beliau bertanya dengan
syair:

   ‘Telanjang dan berpenampilan buruk engkau, kurus
kering dan dengan nadi yang menonjol. Engkau yang
kurus, dengan tulang iga yang menonjol keluar,
siapakah engkau, engkau yang berdiri di sana?’

   Ditanya oleh Thera Sariputta, peti itu menyampaikan
lima syair ini sebagai jawabannya:

   ‘Dahulu saya adalah ibumu sendiri di dalam
kelahiran-kelahiran sebelumnya, tetapi saya sekarang
terlahir di alam peta, dikuasai oleh rasa lapar dan
haus.

   Muntahan, dahak, ludah, ingus, lendir, lemak dari
makhluk yang sedang dibakar dan darah wanita yang
melahirkan,

   Dan darah dari luka dan hidung serta itu dari
kepala yang remuk – dikuasai oleh rasa lapar saya
makan apa yang melekat pada pria dan wanita.

   Saya makan nanah serta darah ternak dan manusia;
saya tidak punya tempat berteduh dan tidak punya
rumah, beristirahat di ranjang yang hitam.
        
   Berikanlah, Nak, suatu pemberian demi saya dan
setelah engkau memberikannya, tujukanlah jasa itu
kepadaku – dengan demikian saya pasti akan terbebas
dari makan nanah dan  darah.’

   Ketika mendengar hal ini, keesokan harinya
Y.M.Sariputta Thera berunding dengan tiga Thera yang
lain, di antaranya yaitu Mahamoggallana Thera. Lalu
bersama-sama mereka pergi ke Rajagaha untuk
mengumpulkan dana makanan, dan sampai di tempat
kediaman raja Bimbisara. Ketika melihat Thera
tersebut, raja memberi hormat dan menanyakan alasan
kunjungan beliau dengan mengatakan, ‘Untuk tujuan
apakah Bhante datang kemari?’ Y.M.Mahamoggallana
memberitahukan kejadian itu kepada raja. Raja berkata,
‘Saya memberikan izin, Bhante’, dan kemudian
mempersilakan para Thera untuk kembali, Raja
mengundang menteri yang bertugas mengurusi segalanya
dan memberikan perintah, ‘Buatlah empat gubuk di dekat
kota di hutan kecil yang teduh dan ada airnya.’ Dia
membagi kota bagian dalam menjadi tiga menurut
kekhususannya, menyuruh empat gubuk itu diberi atap,
dan kemudian pergi sendiri ke sana dan melakukan apa
yang harus dilakukan. Ketika gubuk itu telah selesai
di bangun, raja menyuruh semua persembahan makanan
dipersiapkan dan semua kebutuhan yang pantas seperti
misalnya makanan, minuman, pakaian dan sebagainya
disiapkan untuk Sangha para bhikkhu dengan Sang Buddha
sebagai pemimpinnya, dan kemudian menyerahkan semua
ini kepada Y.M.Sariputta Thera. Atas nama peti itu,
Sariputta Thera kemudian memberikan semua itu kepada
Sangha para bhikkhu dari empat penjuru dengan Sang
Buddha sebagai pemimpinnya. Peti itu menunjukkan
penghargaannya kepada beliau dan terlahir di devaloka,
memiliki secara melimpah semua yang diinginkannya.
Pada hari berikutnya dia mendatangi Mahamoggallana
Thera, menghormat beliau dan tetap tinggal di sana
sementara Thera tersebut bertanya kepadanya. Secara
terperinci dia menceritakan kepada Thera itu bagaimana
dia muncul sebagai peti dan sebagai devi. Untuk alasan
inilah dikatakan:

   ‘Setelah mendengar apa yang ingin dikatakan oleh
ibunya, Upatissa(nama pribadi Sariputta) – yang
memiliki belas kasihan, berunding dengan Moggallana,
Anuruddha dan Kappina.

   Dia membangun empat gubuk dan memberikan
gubuk-gubuk beserta makanan dan minuman itu kepada
Sangha dari empat penjuru dan kemudian mempersembahkan
dana itu kepada ibunya.

   Begitu dia mempersembahkan ini, hasilnya langsung
muncul, makanan, minuman dan pakaian sebagai buah dari
dana ini. Setelah itu dia menjadi murni, terbungkus
pakaian yang bersih dan segar, mengenakan pakaian yang
lebih halus daripada pakaian Kasi. Dan, dengan
berhiaskan berbagai pakaian dan perhiasan, dia
mendatangi Kolita(nama pribadi Mahamoggallana).’

   Y.M.Mahamoggallana kemudian bertanya kepada peti
tersebut:
   ‘Engkau yang berdiri dengan kecantikan yang memukau
wahai devata, menyinari segala penjuru bagaikan
Bintang Penyembuh, 

   Disebabkan oleh apakah kecantikanmu yang seperti
itu? Disebabkan oleh apakah hal ini bisa tercapai
olehmu di sini sehingga muncul kenikmatan-kenikmatan
apa pun yang menyenangkan hatimu?

  Saya bertanya kepadamu, devi nan amat agung,
tindakan-tindakan berjasa apakah yang telah engkau
lakukan ketika engkau sebagai manusia dulu? Disebabkan
oleh karena apakah keagunganmu yang bersinar
sedemikian ini dan kecantikanmu yang memancar ke
segala penjuru?’

   Dia kemudian menjawab dengan mengatakan, ’Saya
adalah ibu dari Sariputta dan seterusnya. Yang lain
sama artinya dengan yang telah disebutkan.

   Kemudian Y.M.Mahamoggallana Thera mengajukan
persoalan tersebut kepada Sang Buddha. Sang Buddha
menganggap persoalan tersebut sebagai suatu kebutuhan
yang muncul dan mengajarkan Dhamma kepada mereka yang
berkumpul di sana. Ajaran itu bermanfaat bagi
orang-orang tersebut.

(Petavatthu 2; Cerita-cerita makhluk Peta)
(II.2 Penjelasan Mengenai Cerita Peti Ibu Sariputta
Thera)
(Sariputtattheramatupetivatthuvannana)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke