Rekan Tan yang saya hormati;
Terima kasih tanggapan anda yang sangat detail dan penuh kedamaian.
memang topik ini sudah tidak perlu di lanjutkan lagi,karena masalahnya hanya beda persepsi atau sudut pandang.dalam kesempatan ini saya sedikit menjelaskan perbedaan itu, mungkin lebih baik saya jelaskan background atau lebih tepatnya pandangan saya terhadap agama,dari situ anda bisa tahu kenapa dan dimana perbedaan antara kita.jadi sebetulnya dalam diskusi ini MUNGKIN tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar.
Dalam ibadah sehari hari saya menganut cara2 Kong Hu Cu atau semacam tradisional,yaitu ke Klenteng dsb.
Soal ajaran saya condong ke Buddha,dalam arti lebih sreg dari pada ajaran Kong Hu Cu maupun agama lain.
Namun rasa hormat dan kekaguman saya kepada semua pendiri agama,Buddha Gautama,Sidharta,Jesus,Kong Hu Cu,Mohhammad adalah sama,sama sekali tidak
ada perbedaan,anggapan saya motivasi ,perjuangan dan pengorbanan mereka adalah sangat luar biasa,dalam mencari dan menyebarkan kebenaran.saya sangat kagum terhadap mereka,memang dalam hasilnya,yaitu setelah menjadi sebuah agama,jadinya bermacam macam dan RUWET,tapi dari kaca mata saya keruwetan itu adalah akibat banyaknya campur tangan dari penerusnya.
Dari rasa kagum saya itulah dalam kehidupan sehari hari bila ada orang yang menjelekkan salah satu dari mereka(agama dan pendirinya),saya cenderung ingin membela yang dijelekkan itu,apakah itu Buddha,Kristen atau Islam,namun pembelaan saya hanyalah sebatas kemampuan saya,yaitu dengan satu jurus>>jangan mencela mereka punya anda juga amburadul atau tidak SEMPURNA,contohnya >>agama anda juga terpecah belah,menjadi beberapa aliran/sekte,berarti dalam agama anda sendiri juga ada atau banyak yang tidak sepaham dengan induknya dan membuat aliran baru.,.
Saya punya adik sepupu
yang menjadi pendeta,pernah diskusi dengan saya panjang lebar,saya memberi semangat kepada dia juga memberi masukan diantaranya>>kalau memberikan pengampunan dosa kepada umatnya hendaknya ditekankan bahwa bila kamu menerima pengampuan dosa terus berbuat kejahatan lagi Tuhan tidak akan mengampunimu>>ini salah satu kelemahan umat bahwa dikira hutangnya sudah LUNAS setelah upacara pengampuan dosa,.
Seumur hidup saya tidak pernah mengharapakanmenyuruh umat agama lain untuk masuk ke Buddha,tapi apabila ada YANG TANYA saya akan jelaskan apa itu agama Buddha dan mengapa saya pilih Buddha? dan mengapa saya tidak masuk Islam?,tidak masuk Kristen? setelah itu terserah mereka mau masuk agama apa.
Itulah sekedar cerita tentang pandangan saya terhadap agama,mungkin agak aneh ya atau berbeda dengan anda.mohon dikoreksi,tapi topiknya udah lain.
Sekian .salam dari
Hadi
dh4rm4duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
dh4rm4duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Namo Buddhaya,
Mari kita ganti diskusinya menjadi obrolan santai saja. Pak! Maklum
besok khan libur. Tidak perlu serius-serius.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Rekan Tan yang saya hormati;
Terima kasih balasan anda,menyenangkan sekali berdiskusi dengan
anda,beberapa penjelasan anda telah menambah pengetahuan saya,namun
masih ada yang menurut saya kurang pas,mudah2an anda tidak bosan
mengoreksinya,trima kasih sebelumnya.
TAN:
Tidak ada yang perlu dikoreksi, Pak. Di dunia itu tidak ada yang
benar dan salah, tetapi pro dan kontra itu merupakan sesuatu yang
wajar, karena memang pikiran ini masih dikuasai oleh dualisme. Kalau
saya sebenarnya hendak berusaha di tengah-tengah, yakni tidak pro dan
tidak kontra, hanya saja ya itu tadi karena saya masih dikuasai
dualisme, maka mau tidak mau saya akhirnya terseret pada satu kutub.
Jadi ya sebut saja posisi saya ini "netral tetapi agak pro."
Saya "netral" dalam artian memandang bahwa buku Beyond Belief harus
disebarkan secara bijaksana dan bukan dipakai sebagai alat perang,
sedangkan "pro"-nya karena saya lihat sesungguhnya isinya tidak dapat
dikatakan "menjelek-jelekkan" dan selain itu masih banyak manfaatnya.
Setidaknya untuk menambah wawasan umat Buddha.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Selama ini bila saya jalan2 di toko2 buku,misalnya Gunung agung,saya
mesti melihat di bagian agama,nah disitu banyak sekali saya jumpai
buku sejenis Harun Yahya,tapi hampir tidak pernah melihat buku
sejenis itu yang ditulis oleh seorang Budhist dan mengupas agama lain
(dalam arti membuka kesalahan agama lain),hal ini pernah saya
pikirkan dan saya anggap sepaham, bahwa agama saya tidak seperti
agama lain yang sering ofensif dan agresif.
TAN:
Saya tidak melihat bahwa Beyond Belief itu ofensif dan agresif, lho
Pak. Kalau yang namanya ofensif dan agresif itu, misalnya Bapak
sedang jalan-jalan santai. Eh tahu...tahu nggak ada geledeg nggak ada
geludug saya pukul Bapak. Lhaaaaaaa.... itu namanya saya ofensif.
Tapi kalau misalnya Bapak hendak memukul dan saya menangkis, maka itu
tidak dapat dikatakan ofensif. Buku Beyond Belief salah satunya
membahas tuduhan pihak agama tertentu bahwa agama-agama lain memiliki
dewa yang mengerikan bagai setan. Naaaaa...... pengarang lalu
bilang: "Berdasarkan kitab suci Anda sendiri, maha dewa Anda juga
punya perangai dan penampilan yang mengerikan." Kalau begitu,
kesimpulannya khan Beyond Belief itu bukan ofensif dan agresif Pak?
Lha wong tahu-tahu diserang ya apa salahnya membalas?
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Apalagi menyebarkan agama yang door to door,tidak perduli penghuni
rumah ini beragama lain atau tidak,mereka berusaha menarik untuk
bergabung dgn mereka.
TAN:
Apakah ada umat Buddha yang membagikan Beyond Belief dari rumah ke
rumah, Pak? Perasaan tidak pernah dengar tuh.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Dari kebiasaan itulah baru pertama membaca buku BB saya menjadi
sangat kaget,yah semacam risih begitulah,mungkin apa pengaruh dari
usia saya yang sudah lebih dari setengah abad,sehingga lebih memilih
low profil atau defensif,saya tidak jelas ,tapi terus terang kalau
saya disuruh pilih tetap saja pilihan saya adalah tidak setuju dengan
penulisan BB.
TAN:
Waduh, kalau begitu jangan sering-sering baca Beyond Belief lho, Pak.
Nanti kalau sering kaget bisa jantungan. Memang Bapak boleh saja
tidak setuju, saya maklum. Khan segala sesuatu itu pasti ada pro dan
kontra. Wong Sang Buddha sendiri saja ada yang pro dan kontra,
padahal kurang baik apa Beliau itu? Hanya saja yang nggak kontra ya
hendaknya toleransi dengan yang pro, dan yang pro juga hendaknya
toleransi dengan yang kontra. Gitu lho, Pak. Bukankah Sang Buddha
mengajarkan toleransi? Termasuk toleransi pada orang-orang yang
dianggap tidak toleran. Defensif? Lha Beyond Belief itu khan
defensif! Saya pikir bahwa Beyond Belief itu sudah optimal
defensifnya. Kalau diperlemah atau diperlembut lagi defensifnya ya
kita yang benjut, Pak. Susahnya apa? Anda sudah mindset bahwa Beyond
Belief itu "menjelek-jelekkan" agama lain. Ibaratnya kalau kita sudah
punya mindset bahwa si A itu jelek, maka segenap tindakannya baik
yang netral ataupun baik ya kita anggap jelek juga. Kalau saya punya
definisi sendiri mana yang menjelek-jelekkan dan yang tidak. Kalau
semuanya ada bukti ilmiahnya ya mana bisa disebut menjelek-jelekkan
to Pak?
Ada prinsip berikut ini:
+Meskipun banyak yang pro: belum tentu hal itu BENAR
+Meskipun banyak yang kontra: belum tentu hal itu SALAH
Pro dan kontra tidak menyatakan kebenaran apapun. Setuju dan tidak
setuju tidak menyatakan kebenaran apapun.
Si A bilang tehnya enak! Si B bilang tehnya enak! Si C bilang tehnya
tidak enak! Nah apakah tehnya enak atau tidak enak? Tidak tahu! Yang
saya tahu hanyalah teh adalah teh. Ini enak dan tidak enak semuanya
adalah ilusi diskriminatif umat manusia yang kelak akan lebur juga ke
dalam dharmadatu, sedangkan tehnya akan lebur ke.... dalam mulut
hehehehhe!
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Bila seseorang memulai menulis sesuatu yang akan disebarkan atau akan
dibaca banyak orang,contohnya saya menulis email ini,saya berpedoman
bahwa MINIMAL tulisan saya ini harus menguntungkan diri saya
sendiri,yaitu akan mengasah otak saya dan menambah pengalaman,namun
dengan catatan TIDAK mengganggu/menyakiti orang lain. kalau
keikutsertaan saya dalam millis ini mengganggu/menyakiti anggouta
lain,maka saya harus out dari millis ini.perasaan semacam ini lah
yang menjadi landasan kenapa saya tidak setuju dengan BB.
TAN:
Tidak mengganggu atau menyakiti itu relatif, Pak. Menurut kita tidak
mengganggu bisa saja menurut orang lain mengganggu. Dulu waktu di
Jerman, saya ada tetangga orang Afrika yang hobbynya ngomong keras-
keras dan masang musik juga keras-keras. Dia pikir itu tidak
mengganggu orang lain. Makanya susah, kalau semuanya dianggap dari
pandangan diri sendiri. Begitu juga dalam kita menanggapi fenomena
Beyond Belief. Pasti ada pro dan kontra, tapi itu wajarlah. Tidak ada
sesuatu yang baik 100% dan tidak sesuatu yang buruk 100 %. Beyond
Belief telah menyumbangkan sesuatu bagi sejarah Buddhadharma di
Indonesia terlepas dari adanya orang yang tidak setuju dengannya.
Menurut Buddhisme dalam wawasan yang terunggul pro dan kontra adalah
semata-mata ilusi diskriminatif akibatnya adanya kesadaran ketujuh
manovijnana. Ini yang bahaya Pak! Bisa-bisa nanti orang yang seagama
malah pecah dan bentrok sendiri, antara kubu Buddhis pro BB dan kubu
Buddhis anti BB (bukan Bau Badan lho). Naaaa...dhiengg!! Kalau sudah
bentrok dan masing-masing bawa golok, siapa yang tanggung jawab coba.
Hayooooo..... Bapak mau tanggung jawab? Bukankah perpecahan ini
bukannya sesuatu yang lebih buruk daripada isi Beyond Belief yang
Bapak anggap sudah "buruk" itu? Karena itu marilah sebagai umat
Buddhis mari kita hilangkan sifat pro dan kontra, sektarian (Thera-
Maha-Vajra), antar vihara, dan lain sebagainya. Pro dan kontra itu
pasti ada, tetapi tidak ada gunanya di blow up! Orang yang kontra
bilang: "Buku Beyond Belief itu brengsek!" Orang yang pro
bilang: "Yeeeee.... Emang duit ente yang dipake buat nyetak! Enak
aja! Sadar dong duit siape nyang dipake buat nyetak!" Lha kalau
sampai gitu khan malu Pak. Makanya, menurut saya polemik pro dan
kontra yang kayak gini tidak perlu diteruskan tidak ada gunanya.
Kalau Bapak pikir Beyond Belief nggak baik ya sudah biarkan saja,
Bapak sebagai umat Buddhis hendaknya memajukan Buddhadharma menurut
cara-cara yang Bapak anggap baik. Sebaliknya orang yang pro Beyond
Belief, ya biarkan saja mereka lakukan cara-cara yang mereka anggap
baik pula. Toh tujuan atau motivasinya sama-sama memajukan
Buddhadharma. Beres khan.... tidak ada polemik.... everybody
happy.... Buddhadharma tambah maju!!!!!!
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Sedangkan kalau saya melihat ada umat Buddha yang akan pindah ke
agama lain,pasti saya juga sangat sedih,sedikit cerita tentang putri
saya yang sekarang kuliah di Vancouver,2 tahun kuliah baru dia pulang
liburan(th 2003),saat itulah dia ngomong minta izin pindah agama(ke
Protestan),saat itulah hampir 4 jam kita diskusi(saya,istri dan anak)
sangat seru dan sampai banyak air mata,saya sampai juga membedah apa
itu agama Protestan,akhirnya anak saya menyadari kesalahan pilihannya
dan kembali ke Buddha,waktu itu saya juga seperti BB membedah agama
lain,cuma bedanya saya hanya debat atau diskusi 3 orang saja,nah
cerita ini juga terpikir oleh saya saat tadi membaca posting
anda,yaitu bagaimana umat2 Buddha yang lain maksud saya para anak
muda atau remaja yang mau pindah agama? mungkin mereka tidak punya
ayah seperti saya,sehingga ayah mereka hanya melongo saja melihat
putri mereka pindah agama,saat terpikir hal itu memang saya hampir
mengatakan>wah kalau gitu bener juga yang dikatakan rekan Tan tentang
BB.
Namun terus terang saat ini saya masih belum sreg bener dengan
argumen anda,saya tidak tahu pasti apa ganjalannya,kasih saya waktu
ya, ok.
TAN:
Ah sudahlah santai saja Pak! Saya juga tidak ada misi menjadikan
Bapak sebagai pendukung militan BB yang sampai ke kamar kecil saja
masih berbekalkan buku tersebut. Saya justru seorang penjunjung
tinggi toleransi. Tidak ada maksud saya untuk mem"Beyond Belief"kan
Bapak. Bapak belum sreg juga nggak apa-apa. Memang di dunia ini tidak
ada sesuatu yang 100 % benar. Lagipun sebenarnya saya juga agak malas
diskusi semacam ini, tidak ada manfaatnya. Mendingan diskusi masalah
hukum, filsafat, atau hermeneutika Buddhis! Lebih bermanfaat dan bisa
mendatangkan wawasan baru. Atau saya baru beli buku-buku dari
Gramedia nih. Ada yang judulnya Supernatural and Mysterious Japan.
Isinya keren tentang hantu-hantu dan peristiwa mistik di Jepang.
Lhaaa..... ini yang baru asyiiik! Kalau kita ngomongin yang kayak
gini terus, ibaratnya seperti jalan muter-muter saja di tempat, Pak.
Tapi yang pasti saya sudah jelaskan beberapa misi sebenarnya buku
Beyond Belief. Nah, sekarang terserah pemirsanya, apakah mau menerima
atau tidak. Semuanya di luar kekuasaan saya. Tidak ada sedikitpun
keinginan saya untuk menjadikan seluruh umat Buddhis di Indonesia
sebagai pendukung militan Beyond Belief.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Namun ada satu contoh yang anda ceritakan,yaitu tentang jawaban
ulangan dari seorang murid yang salah,bila saya jadi gurunya pasti
akan saya salahkan dan bukan berarti saya/guru telah menjelekkan
muridnya,>contoh ini tidak pas karena penulis BB bukanlah guru dari
agama lain,jadi apakah dia(penulis BB) berhak memberi nilai kepada
murid/umat Kristen,masih menjadi satu pertanyaan,
Sekian dulu,maaf kalau ada yang salah.
Salam dari Hadi.
TAN:
Hlaaaaaa.....!!!!! Tapi khan penulis BB itu adalah mantan penganut
dan pakar agama K itu lho Pak. Lalu pula syiar agama K itu ditujukan
pada semua umat manusia. Terus kalau ada salah seorang yang kritis
gimana coba? Boleh dong menanggapi. Sebagai informasi saya juga
mantan K, lho Pak. Justru karena kita-kita ini pernah mencicipi
ajaran K, maka kita berhak komentar. Kalau orang yang nggak tahu apa-
apa tentang K terus ngoceh banyak tentang K ya jelas nggak benar itu.
Tapi kalau penulis BB khan lain. Boleh dong dia dianggep guru. Saya
dulu juga bacaan teologi K-nya banyak. Maklum, calon penginjil
hheheheh. Tapi ya sudahlah, saya pikir topik ini tidak perlu
diperpanjang lagi. Tidak akan menghasilkan apa-apa. Okeee sekian
dulu! Kepareng! Tabik! Selamat malam! Mohon maaf juga kalau ada yang
salah.
TIPS: sekedar tips, Pak! Sebelum tidur coba minum teh hangat tanpa
gula. Bangun pasti badan lebih segar. Boleh dibubuhi perasan jeruk
pecel sedikit.
Metta,
Tan
Relax. Yahoo! Mail virus scanning helps detect nasty viruses!
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
