Bulan yang Iri Hati 

Oleh Renny Yaniar 

 

(Erabaru.or.id) Langit ditaburi bintang dan bulan yang bersinar indah. 
Senang sekali rasanya melihat keindahan malam dari ketinggian. Alam di 
bawah tampak sunyi. Hampir di setiap beranda rumah, tampak orang 
duduk-duduk. Mereka memandang ke langit. 

Bulan merasa senang, lalu katanya kepada bintang-bintang,"Lihat, 
teman-teman. Mereka mengagumiku." "Mengagumimu? Belum tentu. Mungkin 
mereka mengagumi kami," kata sebuah bintang. "Tapi dari bawah, aku 
kelihatan lebih besar dan indah!" sahut Bulan. "Huh, sombong!" sungut 
sebuah bintang pada teman-temannya. 

"Dia boleh saja sombong. Tapi, dia tak kan dapat mengalahkan Matahari,
" kata bintang yang lain. "Apa?" sahut Bulan terkejut. "Ya, kau tak 
bisa mengalahkan Matahari. Karena Matahari lebih banyak penggemarnya. 
Pagi hari, saat Matahari terbit, orang-orang ingin menyaksikannya. 
Waktu Matahari naik, orang-orang berjemur untuk kesehatan. Selain 
disukai, Matahari pun disegani. Walaupun ia bersinar terik, orang-
orang tidak mengumpat. Mereka hanya mencari tempat yang teduh. 
Matahari mempunyai jasa yang besar, mengeringkan jutaan pakaian yang 
dicuci orang. Terus terang, kami pun lebih menyukai Matahari karena ia 
hebat," kata sebuah bintang. "Tidak sombong lagi!" sahut bintang yang 
lain. 

Bulan diam. Ia sangat kesal. Betulkah Matahari sehebat itu? Sepanjang 
malam ia tak bisa tenang. Ia terus berpikir bagaimana mengalahkan 
Matahari. Akhirnya Bulan mendapat akal. 

Pagi datang. Matahari segera menghampiri bulan. 

"Selamat pagi, Bulan. Sudah saatnya aku bekerja. Sekarang kau boleh 
beristirahat." "Tidak!" "Lo, kenapa?" tanya Matahari heran. "Aku pun 
ingin bekerja pada siang hari," sahut Bulan. "Bulan, siang hari akulah 
yang bertugas. Kau harus beristirahat supaya bisa tampil segara nanti 
malam," kata Matahari. "Tidak! Sebenarnya aku ingin bertarung 
denganmu," kata Bulan. "Bertarung? Bertarung bagaimana?" Matahari 
makin bingung. "Bintang-bintang mengatakan kau lebih hebat dariku. Aku 
ingin lihat, apa benar kau lebih hebat?" "Bagaimana caranya?" tanya 
Matahari. 

"Aku akan tetap tinggal di sini bersamamu. Lalu kita lihat, siapa yang 
lebih disukai orang-orang," kata Bulan. "Ha ha ha," Matahari tertawa 
geli. "Bulan, di pagi hari kau tak kan terlihat. Sinarku lebih kuat 
dari sinarmu. Jadi apa gunanya?" 

Bulan tidak perduli. Ia ingin tetap tinggal bersama Matahari. Tetapi, 
kemudian ia kecewa. Sepanjang hari ia di sana, tak seorang pun 
menyapanya. Mereka hanya menyapa Matahari. "Hu hu, tak seorang pun 
menyukaiku. Bintang-bintang benar, Matahari lebih hebat dariku," Bulan 
menangis sedih. 

"Benar 'kan Matahari lebih hebat," kata bintang-bintang yang 
mengelilinginya. "Sekarang beristirahatlah, Bulan. Malam segera tiba." 
"Tidak, aku tidak mau! Tak seorang pun menyukaiku. Apa gunanya aku ada 
di sana?" sahut Bulan sedih. "Bulan, dengarlah! Matahari itu tak 
sehebat yang kau kira. Tapi, kami senang pada Matahari. Karena ia 
tidak sombong. Kami pun senang padamu, asalkan kau tak sombong. 
Sebenarnya kau dan Matahari tak bisa dibandingkan. Masing-masing punya 
kelebihan. Sudahlah, jangan menangis lagi," hibur sebuah Bintang pada 
Bulan. 

Bulan berhenti menangis. Benar apa yang dikatakan Bintang. Ia tak 
boleh sombong. "Bulan, coba lihat!" kata sebuah bintang. Di bawah, 
sekelompok anak melambai-lambaikan tangan. "Ya, mereka menginginkan 
kau menerangi tempat itu. "Tapi uaaaah...." Bulan menguap. "Bulan 
mengantuk karena sepanjang siang tidak tidur. Biarlah untuk malam ini 
ia istirahat," kata bintang-bintang. 

Malam itu Bulan tidak bekerja. Ia tertidur dengan nyenyak. Biarlah 
malam itu langit tak dihiasi Bulan. Yang penting, Bulan telah 
menyadari kesalahannya. Ia tak lagi sombong dan tetap ha





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke