Kompas, Rabu, 19 April 2006
Sekolah
Sebuah Keajaiban dari Desa Sarimukti
Sebuah Keajaiban dari Desa Sarimukti
P Bambang Wisudo
Keajaiban
dalam pendidikan tidak selalu datang dari sekolah-sekolah mahal yang bergelimangan fasilitas. Di Sarimukti, desa di kaki bukit yang berada pada ketinggian 1.500 meter dari permukaan lautpersisnya di kaki Gunung Papandayan, sekitar 18 kilometer dari Garut, Jawa Barat keajaiban itu pun terjadi.
Madrasah Tsanawiyah Sururon dengan bangunan sekolah yang bersahaja, fasilitas yang serba terbatas, dan sebagian besar gurunya dianggap tidak layak mengajar, justru mampu melakukan perubahan. Dalam segala kesederhanaannya, Madrasah Sururon tumbuh menjadi sekolah yang dicintai oleh murid-murinya.
"Saya ingin selalu berdekatan dan tak dipisahkan dari Sururon," kata Siti Halimah (16), murid kelas III Madrasah Sururon.
Halimah bersama 31 kawan
sekelasnya sebulan lagi akan menempuh ujian nasional. Itu berarti beberapa bulan lagi ia harus berpisah dengan sekolahnya. Ia ingin melanjutkan sekolah. Telah sepuluh kali ia bertanya kepada bapaknya, tetapi belum juga ada jawaban.
Ia berharap dapat melanjutkan di Sururon. Bila Sururon tahun depan tidak membuka jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ia akan putus sekolah. Mungkin ia akan ke kota mencari nafkah, atau menjadi buruh tani di kebun-kebun sayur yang dikuasai petani pemilik tanah, atau sebentar lagi dikawinkan.
Ia berharap kelak menjadi sarjana hukum. Ia ingin mengembangkan dan membantu para petani di desanya. Ia juga ingin mengembangkan sekolahnya. Ia mau membuktikan bahwa Sururon bukan sekolah main-main. Petani, kata Halimah, tidak boleh dipinggirkan. Anak- anak petani, sekalipun miskin, harus maju dan bersekolah.
"Kalau saya jadi sarjana hukum, saya mau membela petani sekuat mungkin," kata Halimah. Suaranya berapi-api. Ayahnya pernah dikejar-kejar aparat keamanan ketika operasi Wanalaga Lodaya I digelar. Ayahnya dituduh menggerakkan petani menjarah tanah yang diklaim sebagai areal hutan lindung.
Apa yang dinyatakan oleh Halimah mewakili kerinduan kawan-kawan sekelasnya. Mereka ingin melanjutkan sekolah. Lulus sekolah, mereka ingin kembali menjadi petani dan mengembangkan sekolah. Iip Nurzaman (17) bahkan bermimpi mendirikan perguruan tinggi di desanya. Kata Iip, walau tinggal di desa anak-anak petani tak boleh kalah dengan mereka yang di kota. Iip bercita-cita menjadi guru, sekaligus menjadi petani.
Tidak meninggalkan akar
Di depan halaman sekolah terdapat lahan sekitar 2.000 meter persegi yang
dipergunakan siswa kelas I dan II untuk menanam sayur. Saat ini mereka menanam bawang merah. Panenan yang lalu, lahan itu menghasilkan dua kuintal bawang merah dengan harga Rp 1.300 per kilogram. Hasilnya tidak seberapa, tetapi tugas sekolah di kebun akan selalu mengingatkan mereka kepada akarnya sebagai anak petani.
Murid-murid Madrasah Sururon adalah anak-anak yang percaya diri. Sekalipun sekolahnya di desa miskin yang terpencil, mereka menguasai bagaimana berkomunikasi. Di sekolah mereka bebas mengkritik guru. Di Madrasah Sururon, guru adalah teman belajar. Mereka sadar bahwa orangtua mereka adalah para petani miskin, tetapi anak-anak itu tidak rendah diri dan mau maju. Madrasah Sururon berhasil menjadikan dirinya sebagai sumber inspirasi bagi murid-muridnya.
Madrasah Sururon mengadopsi kurikulum sekolah formal yang berlaku secara nasional. Perbedaan yang menonjol dibandingkan sekolah formal adalah interaksi di dalam kelas. Guru-guru yang tidak memiliki kualifikasi formal untuk mengajar justru menjadi berkah karena jarak antara guru dan murid menjadi tipis. Tidak hanya murid yang harus belajar, tetapi juga guru. Guru dan murid sama-sama menjadi teman belajar. Guru tidak menjadi satu-satunya sumber belajar.
"Kami menyelenggarakan proses belajar yang sesuai dengan konteks. Ilustrasi jangan sampai tak relevan dengan yang dihadapi
anak-anak. Teks tidak ada artinya tanpa konteks," kata Boy Fedro, salah satu perintis dan guru Madrasah Sururon.
Salah satu agenda besar di balik pendirian Madrasah Sururon adalah mencetak kader-kader perubahan sosial di kalangan petani. Namun, tidak ada pelajaran khusus tentang ini. Ada topik- topik bahasan tentang keorganisasian menyangkut keberadaan dan perjuangan Serikat Petani Pasundan. Siswa juga diajak ikut serta dalam pertemuan-pertemuan organisasi, dalam dialog antara petani dan pemerintah atau anggota DPRD, bahkan diajak bergabung dalam aksi demonstrasi.
Menurut Boy, keikutsertaan siswa dalam aksi demonstrasi tidak bisa diartikan sebagai
politisasi kegiatan belajar-mengajar. Anak justru dihadapkan pada pemahaman bahwa demonstrasi merupakan salah satu cara yang ditempuh orangtua mereka dalam memperjuangkan hak-hak petani.
Kesetaraan dan kelanjutan
Meski tidak ada topik-topik khusus tentang toleransi dan pluralisme, Madrasah Sururon mencoba menanamkan prinsip-prinsip toleransi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap orang yang berbeda warna kulit dan agama. Dalam tradisi pesantren, kata Boy, kultur patriarki cenderung sangat kuat.
Karena itu, dalam sekolah, kultur tersebut tidak digugat secara langsung, tapi dipraktikkan. Dalam pembagian kelompok, misalnya, perempuan digabung dengan laki-laki. Ketika ada acara-acara di sekolah, perempuan tidak hanya diberikan tanggung jawab urusan konsumsi, tetapi juga mengurus hal-hal yang berhubungan dengan publik. Sebaliknya laki-laki juga diberi tugas mengurus konsumsi.
Boy bersama tiga rekan seperjuangannya, Ridwan Saefudin (34), Aang Muhsan Fauzi (34), dan Muhammad Nuh (27) harus berpikir keras bagaimana memenuhi desakan murid-murid kelas III agar Sururon membuka jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tanpa itu, 32 muridnya yang ingin melanjutkan sekolah, akan putus di tengah jalan.
Gambaran pendidikan lanjutan itu sudah ada di benak pengelola Madrasah Sururon. Mereka akan membuat sekolah yang dikaitkan dengan usaha produksi. Ada peluang untuk mengembangkan produksi pertanian, peternakan, atau perbengkelan untuk melayani kebutuhan lokal.
Akan tetapi, di balik semua keberhasilan dan harapan itu, kelangsungan hidup Madrasah Sururon masih menjadi tanda tanya. Belum satu pun guru memperoleh honorarium, apalagi gaji tetap. Biaya operasional sekolah selama ini hanya mengandalkan bantuan dari donatur dan organisasi. Kelangsungan itu baru terjamin tersedia lahan sekurangnya dua hektar untuk dikelola sekolah. Keajaiban itulah yang sampai kini belum mereka dapatkan.
Blab-away for as little as 1¢/min. Make PC-to-Phone Calls using Yahoo! Messenger with Voice.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
