Cahaya Penerang Jalur Menuju Pencerahan
Bab 1: Pendahuluan
bagian 2
Atisha (982-1054)
dan
Undangan ke Tibet : Sebuah Catatan Kuno
Kita bisa mendapatkan suatu pelajaran, bahwa dalam hal berat situasi yang pelik sekalipun, para rombongan bersama Atisha tetap mempertahankan tampak luarnya, jaman sekarang para biksu banyak yang harus bekerja di luar biara dan mereka bahkan mengganti jubahnya dengan pakaian biasa. Sebagian orang mengklaim bahwa kematangan spiritual secara internal yang paling penting,
sedangkan tampak luar tidaklah penting. Sikap seperti ini sangatlah memandang rendah ajaran Buddha, dimanakah rasa hormat bisa tumbuh dalam diri kita ketika para praktisi juga melakukan hal seperti ini tanpa mengoreksi tindak tanduknya.
Setelah menginjakkan kaki di Suvarnadvipa, Atisha bersama pengikutnya melihat beberapa murid senior Suvarnadvipi sedang berlatih meditasi di tepian pantai. Atisha tinggal di sana selama empat belas hari dan mencari tahu lebih banyak tentang kehidupan calon gurunya. Bagi kita, dalam ketidaksabaran mungkin kita akan segera pergi menemui sang guru, cara Atisha mengingatkan kita betapa penting untuk menimbang dan membuat suatu
keputusan dan komitmen dengan bijaksana, berhubungan relasi antar guru spiritual dan murid merupakan relasi khusus dan sangat penting dan jangan pernah sekali-kali menganggap itu hal mudah dan bisa jadi tergesa-gesa bagaikan seekor anjing menelan sepotong daging tanpa mengunyahnya terlebih dahulu.
Setelah Guru Dharmakirti mengetahui kedatangan Atisha berserta rombongannya, muridnya pergi melaporkan kepada gurunya, bahwa Dia yang tak terkalahkan, dia yang tersohor dari India telah mengarungi laut selama tiga belas bulan beserta rombongannya datang untuk menerima ajaran khusus tentang makna terselubung dari sutra penyempurnaan kebijaksanaan[20] dan pelajaran bodhicitta. Suvarnadvipi gembira dan mengatakan karena ini adalah
sebuah kehormatan, mereka akan menyambut kedatangan Atisha dan rombongan secara formal. Sang Guru bersama sramanera dan sejumlah 500 orang biksu dengan mengenakan jubah terbaik, membawa pot berisi air dan tongkat. Berbaris rapi untuk menyambut Atisha. Melihat kejadian ini dari jauh Atisha sangat bermudita, hal inilah membuat ia sangat takjub dan ingat akan kisah Buddha berkelana dari satu tempat ke tempat lain dengan ditemani oleh para Arahat.
Atisha bersama segenap rombongannya berbaris untuk berprosesi, mereka mengenakan tiga lapis jubah dan setiap orang membawa patta besi berisikan air, tongkat dan kipas yang terbuat dari ekor yak untuk mengeyampingkan serangga, sesuai dengan tradisi Mahasamgika. Patta tidak boleh
terbuat dari bahan mewah.
Suasana yang penuh berkah ketika dua orang guru besar saling bertemu. Kekuatan kebajikan mereka telah menyebabkan hujan bunga. Semua orang sangat takjub dan muncul keyakinan penuh. Atisha mempersembahkan sebuah vas kristal yang berisi emas, perak, permata, beryl, karang warna-warni, beserta berbagai persembahan. Semua persembahan memenuhi vas itu pertanda bahwa Atisha berharap untuk menerima semua ajaran dari guru.
Guru Suvarnadvipi mengundang Atisha memasuki
Istana Payung Perak untuk membangun sebuah relasi spiritual saling percaya dan saling respek, hari berikutnya ia mengajarkan Maitreya's Ornament for Clear Realization[21] sebanyak 15 kali yang mana terdapat penjelasan makna terselubung dari Sutra penyempurnaan kebijaksanaan.
Selama 12 hari, Atisha masih tetap bersama Guru Suvarnadvipi, mendengarkan, merenung dan meditasikan berbagai aspek ajaran yang diturunkan oleh Buddha kepada Maitreya[22] dan Asangha[23] dan ajaran tentang Bodhicitta yang diturunkan Buddha kepada Manjushri[24] dan Shantideva[25]. Guru dari tanah emas (Suvarnadipi) tidak hanya memilih aspek penting, bahkan mengajar sampai mendetail semua aspek-aspek itu. Selama 12 tahun bantal mereka saling
bersentuhan ketika tidur, hubungan guru dan murid sangat dekat. Akhirnya semua pelajaran sudah diturunkan kepada Atisha, dan ia juga telah mencapai realisasi yang ia inginkan.
Guru kemudian berpesan kepada Atisha, bahwa ini saatnya ia kembali dan meramalkan bahwa ia akan pergi ke tanah berselimut salju di bagian utara. Atisha kembali ke India , tepatnya kembali ke Vikramashila. Di Bodhgaya dia telah meluruskan banyak pandangan salah, membawa pengertian murni kepada mereka yang salah kaprah dalam belajar, ia mengalahkan semua orang yang mendiskreditkan ajaran Buddha dalam perdebatan. Karena Atisha ditahbiskan dengan tradisi Mahasamgika dari
Sekolah Vaibhashika[26] kepintarannya, tingkat lakunya tidak bias membuat ia menjadi sangat dikagumi dan dihormati di seluruh penjuru.
Sementara itu di penyebaran ajaran buddha di Tibet mulai menurun dan penyebaran selanjutnya mulai lagi[27] namun banyak terjadi kebinggungan bagaimana sesungguhnya ajaran Buddha bisa dipraktikkan. Praktik tantra tidak otentik beralih dari orientasi pencerahan, para praktisi sutra saling menjatuhkan praktisi tantra. Leluhur dari Lha Lama Yeshe Wo[28], Raja dari Ngari telah berbuat banyak untuk membangun kembali ajaran Buddha di Tibet, namun kejayaan ini tidak bisa bertahan lama karena konflik internal dan
keragu-raguan yang tidak terselesaikan.
Setelah mengalami hal demikian, Yeshe Wo memilih 20 orang terpelajar dengan memberi kompensasi kepada keluarganya dan mengirim mereka ke India untuk belajar. Dari sekian banyak, hanya 2 orang yang kembali, sisanya meninggal akibat panas dan cuaca yang tidak bersahabat beserta kondisi kehidupan yang tidak cocok. Lochen Rinchen Zangpo[29] dan Lochung Ngo Lekpay Sherap[30], dua orang yang kembali ke Tibet , mereka melaporkan bahwa tidak terdapat kontradiksi antara sutra dan tantra. Seluruh cendekiawan berpendapat bahwa
Atisha adalah orang paling tepat untuk diundang ke Tibet untuk meredakan konflik yang terjadi.
Raja kemudian memutuskan untuk mengirim 100 pemuda yang di pimpin oleh Gya Tsondru Sengay untuk mengundang Atisha. Mereka membawa emas demi tujuan itu. Ketika mereka tiba di Vikramashila, pemuda ini tetap belajar dan tidak berhasil mengundang Atisha ke Tibet . Lha Lama Yeshe Wo kembali mengumpulkan emas untuk mengirim pemuda lagi ke sana untuk mengundang Atisha, namun Raja tertangkap oleh Raja Garlog[31]
raja yang membahayakan ajaran Buddha. Raja Garlog memaksa Raja Yeshe Wo untuk meninggallkan keyakinannya beserta membatalkan niat untuk mengundang Atisha, karena kayakinan besar Raja Yeshe Wo, ia menolak semua permintaan Raja Garlog, sehingga Raja Yeshe Wo di sekap. Jangchup Wo mendengar kabar ini bertekad untuk menyelamatkan pamannya dari Raja Garlog. Raja Garlog kembali menyatakan bahwa ia akan membebaskan Raja Yeshe Wo apabila ia membatalkan semua rencananya untuk mengundang Atisha ke Tibet, jika tidak, maka sejumlah berat emas setara dengan berat Raja Yeshe Wo harus dibayarkan.
Raja Janchup Wo dengan bersusah payah mengumpulkan emas, namun Raja Yeshe Wo menolak dengan mengatakan bahwa ia rela mati daripada meninggalkan
ajaran Buddha; sebetulnya ia bisa perang dengan Raja Garlog, namun perang akan mengakibatkan banyak korban dan menyebabkan banyak orang mengalamai kelahiran kembali yang tidak baik. Jangchup Wo menasihati Raja Yeshe Wo untuk tetap semangat, berlindung dan berpaling kepada Triratna, dan selalu memiliki hati yang baik untuk menciptakan banyak kebajikan.
Raja Yeshe Wo mendengar kata-kata yang begitu indah itu, kemudian ia membalas Saya kira anda adalah seorang pangeran yang sangat di manja, sudah terbiasa dengan kemewahan, hidup senang, memiliki semua serba bagus dan sempurna. Saya sama sekali tidak terpikir bahwa anda begitu kuat dan saya akan tetap hidup hingga ajaran Buddha kembali bersinar di tanah Tibet, sekarang saya
bisa dengan tenang mempercayakan kepada anda untuk melanjutkan tugas ini, saya sudah tua, umur saya paling lama tinggal sepuluh tahun lagi, saya telah mengorbankan hidup saya di kehidupan lampau demi ajaran Buddha, jangan sia-siakan emas itu demi membebaskan saya, namun gunakanlah emas itu untuk mengundang Atisha ke Tibet. Beritahu beliau bahwa aku menyerahkannya nyawaku kepada Raja Garlog demi membawa Dia ke Tibet . Harapan terakhir saya adalah semoga ia sudi ke Tibet dan memberi manfaat kepada semua makhluk. Mohon beliau untuk memberkati saya dan semoga saya bisa bertemu beliau di kehidupan yang akan datang, dan sekarang lakukanlah apa yang harus engkau lakukan.
Raja Jangchup Wo sangat terharu oleh kata-kata pamanya, dan sangat berat hati untuk pergi dari penjara itu, ia membulatkan tekad dan pergi menunaikan tugas yang diberikan oleh pamanya. Setelah melalui berbagai ramalan astrologi, Naktso Lowsawa[32] terpilih untuk pergi ke India untuk mengundang Atisha.
Naktso di undang dari Guntang tempat di mana dia tinggal, Raja Janchup Wo menyambutnya dengan mengundangnya duduk di tahta, Raja memberikan persembahan dan menyanjung atas pengetahuan, tindak tanduk, dan
kebaikan hati beliau. Raja kemudian menceritakan semua hal yang telah terjadi. Walaupun Naktso telah mengatahui semuanya. Sambil berkisah, Jangchup Wo jatuh dan menangis. Setelah melihat semua ini, Naktso sampai tidak tega melihatnya, pada awalnya Naktso sama sekali tidak berniat untuk melakukan perjalanan ke India karena ini perjalanan berbahaya, namun akhirnya ia setuju semua permohonan Raja Janchup Wo.
source: Atisha's Lamp for the path to enlightenment; Geshe Sonam Rinchen
J u n a i d y A n w a
r
Dept. of Information Technology
PT. Tiara Gaya Arga Kencana
Paint, Road Marking, Epoxy Manufacturer
Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, West Java - Indonesia
Phone.: +62 22 665 1515 [ hunting ]
Fax.: +62 22 665 6555
Mobile.: +62 856 219 8835 / +62 22 911 80 855 / +62 22 707 87 555
----------------------------------------------------------
May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need---Bodhisattvacharyavatara ~ Shantideva
----------------------------------------------------------
Dept. of Information Technology
PT. Tiara Gaya Arga Kencana
Paint, Road Marking, Epoxy Manufacturer
Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, West Java - Indonesia
Phone.: +62 22 665 1515 [ hunting ]
Fax.: +62 22 665 6555
Mobile.: +62 856 219 8835 / +62 22 911 80 855 / +62 22 707 87 555
----------------------------------------------------------
May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need---Bodhisattvacharyavatara ~ Shantideva
----------------------------------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
