Tentang Borobudur, adakah yang merayakan peresmian Borobudur saat ini?

To: "PMVBB \(E-mail\)" <[EMAIL PROTECTED]>
From: "Hudaya Kandahjaya" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, 26 May 2006 11:41:32 -0700
Subject: [pmvbb] Borobudur Memetakan Perdamaian dan Keselarasan

Saudara sekalian,
Hari ini tanggal 26 Mei 2006 saya kembali ingat akan tanggal peresmian Borobudur, yang menurut prasasti Kayumwungan terjadi persis hari ini 1182 tahun yang lalu.

Untuk memperingatinya, seperti biasa saya ingin berbagi bersama anda sekalian sedikit hasil penyelidikan lanjutan terhadap Borobudur, seperti berikut. Selamat menikmati, dan semoga bermanfaat.

Wasalam,
Hudaya




Borobudur Memetakan Perdamaian dan Keselarasan

Salah satu pertanyaan yang mengusik ketika saya mulai mempelajari Borobudur berkaitan dengan kenyataan bahwa selesainya pembangunan candi Borobudur hanya terpaut beberapa dekade dari candi Prambanan. Dengan kata lain, hampir bersamaan dengan rampungnya pembangunan candi Borobudur, perencanaan atau bahkan pembangunan Prambanan mestinya sudah dimulai. Fenomena ini menarik perhatian bila kita ingat bahwa, pertama, keduanya boleh dibilang candi-candi termegah di Indonesia, kalau bukan di dunia, dan kedua, mereka bercirikan agama yang berbeda. Borobudur bernafaskan agama Buda, sedangkan Prambanan berciri agama Hindu. Perbedaan ciri ini bukan masalah bila kedua candi ini didirikan pada masa kerajaan Singasari atau setelahnya, karena pada masa belakangan ada agama yang dikenal sebagai Siwa-Buda ternyata dari berbagai artefak maupun naskah-naskah yang terlestarikan. Yang terakhir membuat kebanyakan ahli sepakat bahwa agama Siwa-Buda mulai berkembang di zaman Singasari. Tetapi, untuk menerangkan keadaan Borobudur-Prambanan, lalu banyak yang condong ke hipotesis peralihan atau persaingan agama. Secara demikian, hipotesis ini menerangkan pembenaran keluarnya dana yang begitu besar dari keluarga kerajaan yang berlomba mengayomi pembangunan candi masing-masing.

Hipotesis peralihan atau persaingan agama di zaman Mataram purba pada umumnya masih bertahan hingga sekarang, meskipun ada juga yang mencoba mengajukan hipotesis alternatif. Pembangunan dua candi itu katanya didukung oleh keluarga kerajaan yang sama, tetapi motifnya adalah untuk mempertahankan stabilitas kekuasaan. Dus, bukan keyakinan atas agama, melainkan politik agamalah yang menjadi alasan bagi keluarga kerajaan membangun dua candi berciri agama berbeda agar para pemeluk agama yang berlainan semuanya terpuaskan. Implikasi selanjutnya, pandangan ini cenderung mendukung sanggahan terhadap sinkretisme Siwa-Buda. Lalu, secara langsung ataupun tak langsung masing-masing hipotesis di atas memanfaatkan pernyataan prasasti Siwagraha yang menyebut raja mempunyai permaisuri berlainan agama, yakni beragama Buda. Namun, kelihatannya kita masih memerlukan lebih banyak bukti tambahan untuk memastikan hipotesis mana lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Menghadapi persoalan ini pernah saya tunjukkan bahwa kehadiran Mahadewa di relief Gandawyuha di Borobudur perlu kita simak secara seksama. Keunikannya terletak pada tafsiran pemahat Borobudur yang menampilkan Mahadewa lengkap berikut beragam atribut kepunyaan Siwa. Gambaran ini sangat berbeda dibanding lukisan serupa yang dibuat di Cina atau Tibet yang tidak mencerminkan konotasi Hindu. Walaupun begitu, tetap saja ada cendekiawan yang memandang pahatan umat Buda Jawa pada waktu itu sebagai upaya mengunggulkan agama Buda. Dengan kata lain, pandangannya masih bertumpu pada hipotesis persaingan antara agama Buda dan Hindu, seperti disebut di depan. Saya membantah pandangan demikian karena Mahadewa di dalam Sutra Gandawyuha berkedudukan sebagai salah satu kalyanamitra, seperti halnya Awalokiteswara, atau Maitreya., yang juga berlaku sebagai kalyanamitra di dalam sutra tersebut.

Penelitian lebih lanjut terhadap Sutra Gandawyuha mengungkapkan bahwa sutra ini bukan hanya mengangkat derajat Mahadewa, melainkan juga anggota masyarakat makhluk lain yang berasal dari berbagai kalangan ikut menjadi kalyanamitra. Kalau kita hitung dengan cermat, komponen kelompok kalyanamitra yang berasal dari lingkungan agama Buda bahkan hanya menyumbang 25 persen dari keseluruhan kalyanamitra yang disebut di Sutra Gandawyuha. Hampir 25 persen lainnya adalah makhluk halus, termasuk Mahadewa yang disebut barusan. Lalu, 50 persen sisanya berasal dari kalangan lain, termasuk kaum Brahmana, cendekiawan, profesional, politikus, dan perumahtangga. Kaum perumahtangga, termasuk bocah lelaki maupun perempuan, hampir mencapai 25 persen dari total kalyanamitra.

Dilihat dari komposisi kalyanamitra ini kita mendapat kesan bahwa Sutra Gandawyuha seolah-olah ingin menunjukkan bahwa ajaran agama Buda, yang berupaya mencapai pencerahan sempurna, sesungguhnya bisa diperoleh dari banyak sumber, tidak mesti berasal dari kalangan agama Buda per se. Dari sudut ini, kita lalu bisa memahami mengapa para pemahat Borobudur merasa benar menggambar Mahadewa sebagai Siwa. Seterusnya, bila umat Buda Borobudur menghayati dan mengamalkan pesan Gandawyuha tersebut, maka kita pun bisa memahami mengapa mereka, boleh jadi secara bergotong-royong, juga turut membantu membangun candi Prambanan. Dengan kata lain, pembangunan berturutan dua candi termegah di Indonesia ini sama sekali bukan didasarkan oleh peralihan, persaingan, atau politik agama, melainkan atas dasar keyakinan bahwa ajaran kebenaran itu tunggal adanya meskipun manifestasi sumber perolehannya boleh beraneka. Pemahatan relief Gandawyuha di Borobudur dengan demikian memastikan peta perdamaian dan keselarasan hidup dan kehidupan beragama.


YAHOO! GROUPS LINKS






Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke