Anumodana buat informasi yang sangat berharga ini.
Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha.
JL
(Sugatadasa)
Albert Kam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha ..
Kebetulan saya mendapatkan info tentang sebuah yahoo group yang
berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Mungkin kita bisa mendapatkan
dan saling berbagi info ataupun ide di sini, sebab setau saya kegiatan lapangan
Dharmajala juga berkaitan erat dengan pelestarian lingkungan.
Berikut adalah cuplikan tentang tujuan milis mereka di
http://groups.yahoo.com/group/Hutanku/
Milis ini adalah Mailing List bagi mereka yang peduli terhadap kelestarian hutan Indonesia. Di sini kita dapat berbagi informasi tentang segala yang berkaitan dengan Hutan di Indonesia, baik itu kebijakan Pemerintah, maupun kondisi hutan di lapangan itu sendiri. Selamat bergabung!
Lestarikan Hutanku!
Terdapat juga sebuah artikel dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) di milis ini
http://www.walhi.or.id/kampanye/hutan/hut_punah/
Berikut adalah cuplikan artikel nya :
Hutan Indonesia Menjelang Kepunahan
Indonesia memiliki 10% hutan tropis dunia yang masih tersisa. Hutan
Indonesia memiliki 12% dari jumlah spesies binatang menyusui/mamalia,
pemilik 16% spesies binatang reptil dan ampibi, 1.519 spesies burung
dan 25% dari spesies ikan dunia. Sebagian dianataranya adalah endemik
atau hanya dapat ditemui di daerah tersebut.
Luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat
mengkhawatirkan. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan
aslinya sebesar 72 persen [World Resource Institute, 1997].
Penebangan hutan Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan tahun
dan menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara
besar-besaran. Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6
juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8
juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu
tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di Indonesia
berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73
juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta
hektar berada dalam kawasan hutan. [Badan Planologi Dephut, 2003].
Pada abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-18, hutan alam di Jawa
diperkirakan masih sekitar 9 juta hektar. Pada akhir tahun 1980-an,
tutupan hutan alam di Jawa hanya tinggal 0,97 juta hektar atau 7
persen dari luas total Pulau Jawa. Saat ini, penutupan lahan di pulau
Jawa oleh pohon tinggal 4 %. Pulau Jawa sejak tahun 1995 telah
mengalami defisit air sebanyak 32,3 miliar meter kubik setiap tahunnya.
Dampak Kerusakan Hutan
Dengan semakin berkurangnya tutupan hutan Indonesia, maka sebagian
besar kawasan Indonesia telah menjadi kawasan yang rentan terhadap
bencana, baik bencana kekeringan, banjir maupun tanah longsor. Sejak
tahun 1998 hingga pertengahan 2003, tercatat telah terjadi 647
kejadian bencana di Indonesia dengan 2022 korban jiwa dan kerugian
milyaran rupiah, dimana 85% dari bencana tersebut merupakan bencana
banjir dan longsor yang diakibatkan kerusakan hutan [Bakornas
Penanggulangan Bencana, 2003].
Selain itu, Indonesia juga akan kehilangan beragam hewan dan tumbuhan
yang selama ini menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Sementara itu,
hutan Indonesia selama ini merupakan sumber kehidupan bagi sebagian
rakyat Indonesia. Hutan merupakan tempat penyedia makanan, penyedia
obat-obatan serta menjadi tempat hidup bagi sebagian besar rakyat
Indonesia. Dengan hilangnya hutan di Indonesia, menyebabkan mereka
kehilangan sumber makanan dan obat-obatan. Seiring dengan meningkatnya
kerusakan hutan Indonesia, menunjukkan semakin tingginya tingkat
kemiskinan rakyat Indonesia, dan sebagian masyarakat miskin di
Indonesia hidup berdampingan dengan hutan.
Apa hanya itu?
Hutan Indonesia juga merupakan paru-paru dunia, yang dapat menyerap
karbon dan menyediakan oksigen bagi kehidupan di muka bumi ini.
Fungsi hutan sebagai penyimpan air tanah juga akan terganggu akibat
terjadinya pengrusakan hutan yang terus-menerus. Hal ini akan
berdampak pada semakin seringnya terjadi kekeringan di musim kemarau
dan banjir serta tanah longsor di musim penghujan. Pada akhirnya, hal
ini akan berdampak serius terhadap kondisi perekonomian masyarakat.
Mengapa Hutan Kita Rusak?
Industri perkayuan di Indonesia memiliki kapasitas produksi sangat
tinggi dibanding ketersediaan kayu. Pengusaha kayu melakukan
penebangan tak terkendali dan merusak, pengusaha perkebunan membuka
perkebunan yang sangat luas, serta pengusaha pertambangan membuka
kawasan-kawasan hutan.
Sementara itu rakyat digusur dan dipinggirkan dalam pengelolaan hutan
yang mengakibatkan rakyat tak lagi punya akses terhadap hutan mereka.
Dan hal ini juga diperparah dengan kondisi pemerintahan yang korup,
dimana hutan dianggap sebagai sumber uang dan dapat dikuras habis
untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
Bagaimana itu terjadi?
Penebangan hutan di Indonesia yang tak terkendali telah dimulai sejak
akhir tahun 1960-an, yang dikenal dengan banjir-kap, dimana orang
melakukan penebangan kayu secara manual. Penebangan hutan skala besar
dimulai pada tahun 1970. Dan dilanjutkan dengan dikeluarkannya
ijin-ijin pengusahaan hutan tanaman industri di tahun 1990, yang
melakukan tebang habis (land clearing).
Selain itu, areal hutan juga dialihkan fungsinya menjadi kawasan
perkebunan skala besar yang juga melakukan pembabatan hutan secara
menyeluruh, menjadi kawasan transmigrasi dan juga menjadi kawasan
pengembangan perkotaan.
Di tahun 1999, setelah otonomi dimulai, pemerintah daerah
membagi-bagikan kawasan hutannya kepada pengusaha daerah dalam bentuk
hak pengusahaan skala kecil. Di saat yang sama juga terjadi
peningkatan aktivitas penebangan hutan tanpa ijin yang tak terkendali
oleh kelompok masyarakat yang dibiayai pemodal (cukong) yang
dilindungi oleh aparat pemerintah dan keamanan.
Upaya Yang Dilakukan
Pemerintah Indonesia melalui keputusan bersama Departemen Kehutanan
dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan sejak tahun 2001 telah
mengeluarkan larangan ekspor kayu bulat (log) dan bahan baku serpih.
Dan di tahun 2003, Departemen Kehutanan telah menurunkan jatah tebang
tahunan (jumlah yang boleh ditebang oleh pengusaha hutan) menjadi 6,8
juta meter kubik setahun dan akan diturunkan lagi di tahun 2004
menjadi 5,7 juta meter kubik setahun.
Pemerintah juga telah membentuk Badan Revitalisasi Industri Kehutanan
(BRIK) yang bertugas untuk melakukan penyesuaian produksi industri
kehutanan dengan ketersediaan bahan baku dari hutan.
Selain itu, Pemerintah juga telah berkomitmen untuk melakukan
pemberantasan illegal logging dan juga melakukan rehabilitasi hutan
melalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) yang
diharapkan di tahun 2008 akan dihutankan kembali areal seluas tiga
juta hektar.
Hasil Yang Diperoleh
Sayangnya Pemerintah masih menjalankan itu semua sebagai sebuah ucapan
belaka tanpa adanya sebuah realisasi di lapangan. Hingga tahun 2002
masih dilakukan ekspor kayu bulat yang menunjukkan adanya pelanggaran
dari kebijakan pemerintah sendiri. Dan pemerintah masih akan
memberikan ijin pengusahaan hutan alam dan hutan tanaman seluas 900-an
ribu hektar kepada pengusaha melalui pelelangan. Pemerintah juga belum
memiliki perencanaan menyeluruh untuk memperbaiki kerusakan hutan
melalui rehabilitasi, namun kegiatan tersebut dipaksakan untuk
dilaksanakan, yang tentunya akan mengakibatkan terjadinya salah
sasaran dan kemungkinan terjadinya kegagalan dalam pelaksanaan.
Hal yang terpenting dan belum dilakukan pemerintah saat ini adalah
menutup industri perkayuan Indonesia yang memiliki banyak utang.
Pemerintah juga belum menyesuaikan produksi industri dengan kemampuan
penyediaan bahan baku kayu bagi industri oleh hutan. Hal ini dapat
mengakibatkan kegiatan penebangan hutan tanpa ijin akan terus berlangsung.
Dan dengan hanya menurunkan jatah tebang tahunan, maka kita masih
belum bisa membedakan mana kayu yang sah dan yang tidak sah. Bila saja
pemerintah untuk sementara waktu menghentikan pemberian jatah tebang,
maka dapat dipastikan bahwa semua kayu yang keluar dari hutan adalah
kayu yang tidak sah atau illegal, sehingga penegakan hukum bisa dilakukan.
Apa yang seharusnya dilakukan?
Untuk menghentikan kerusakan hutan di Indonesia, maka pemerintah harus
mulai serius untuk tidak lagi mengeluarkan ijin-ijin baru pengusahaan
hutan, pemanfaatan kayu maupun perkebunan, serta melakukan penegakan
hukum terhadap pelaku ekspor kayu bulat dan bahan baku serpih.
Pemerintah juga harus melakukan uji menyeluruh terhadap kinerja
industri kehutanan dan melakukan penegakan hukum bagi industri yang
bermasalah. Setelah tahapan ini, perlu dilakukan penataan kembali
kawasan hutan yang rusak dan juga menangani dampak sosial akibat
penghentian penebangan hutan, misalkan dengan mempekerjakan pekerja
industri kehutanan dalam proyek penanaman pohon.
Kemudian, bila telah tertata kembali sistem pengelolaan hutan, maka
pemberian ijin penebangan kayu hanya pada hutan tanaman atau hutan
yang dikelola berbasiskan masyarakat lokal.
Selama penghentian sementara [moratorium] dijalankan,
industri-industri kayu tetap dapat jalan dengan cara mengimpor bahan
baku kayu. Untuk memudahkan pengawasan tersebut, maka jenis kayu yang
diimpor haruslah berbeda dengan jenis kayu yang ada di Indonesia.
Dan yang terpenting adalah mengembalikan kedaulatan rakyat dalam
pengelolaan hutan, karena rakyat Indonesia sejak lama telah mampu
mengelola hutan Indonesia.
Dapatkah individu membantu?
Ya, dengan melakukan lobby, menulis surat ataupun melakukan tekanan
kepada pemerintah agar serius menjaga hutan Indonesia yang tersisa.
Selain itu, lakukan pengawasan terhadap peredaran kayu di wilayah
terdekat, dan berikan laporan kepada Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
(WALHI) terdekat ataupun lembaga non pemerintah lainnya dan kepada
instansi penegak hukum, serta media massa, bila menemukan terjadinya
peredaran kayu tanpa ijin maupun kegiatan pengrusakan hutan.
Dan mulailah menanam pohon untuk kebutuhan kayu keluarga di masa
datang, memanfaatkan kayu dengan bijak dan tidak lagi membeli
kayu-kayu hasil penebangan yang merusak hutan.
--
Greater in battle
than the man who would conquer
a thousand-thousand men,
is he who would conquer
just one �
himself.
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Beyond belief | Religion and spirituality | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
