Dari: "ito_wang" <[EMAIL PROTECTED]>

--- Hudoyo Hupudio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> [Seorang ibu peserta MMD Akhir Pekan di Ciloto baru-baru ini mengirim
> SMS kepada saya:]
>
> "Selamat sore, Pak. Saya mau tanya, kenapa saya susah sekali
> bermeditasi? Tidak seperti di Ciloto, di rumah pikiran saya terus
> bermain ke mana-mana. Konsentrasi saya paling-paling hanya semenit.
Ibu X"
>
> Tanggapan yang baik dan tepat dari rekan-rekan di milis ini akan saya
> forward kepada ibu ini.
>
> Salam,
> Hudoyo
>
-------------------------------------------------------------------
mumpung ada waktu saya ikutan nimbrung

1. Saat ibu "tahu" kalau pikiran ibu terus bermain-main maka kesadaran
ibu saat itu sedang baik . Hanya saja karena pengertian ibu mengatakan
bahwa kalau tidak bisa tenang maka belum bisa konsentrasi atau belum
meditasi.Pengertian yang benar dalam melakukan sesuatu merupakan salah
satu syarat agar kita bisa berpikir dan berbuat secara benar. Dalam hal
ini ibu bisa saja sering bertanya kepada bapak Hudoyo sebagai guru atau
mendengarkan pengalaman orang lain yang pernah mengalami hal yang sama.

2. Ketika ibu bertanya kenapa saya susah bermeditasi ? maka saat ini
niat ibu melakukan meditasi sudah cukup kuat tetapi membutuhkan
penetapan sesaat sebelum meditasi . Buatlah semacam perjanjian dengan
diri sendiri dan rubahlah niat ibu menjadi sebuah tekad yang kuat .

3. Kesalahan paling utama seorang pemeditasi adalah tidak adanya "
kepercayaan " bahwa dirinya bisa melakukan konsentrasi atau meditasi.
Sehingga saat mengalami kesulitan niat dikalahkan dengan keragu-raguan .

4. Kalau ibu sudah piawai konsentrasi maka untuk apa lagi latihan ?
Jadi karena hal inilah maka kita perlu latihan. Meditasi adalah juga
mermerupakan sebuah sarana latihan batin . Apa yang belum kita kuasai
harus kita latih sedikit demi sedikit. Dalam hal ini kemauan kita untuk
menjadi bisa akan mendukung niat dan tekad .

5. Kenapa tidak seperti di Ciloto ? Kesalahan ini hampir dilakukan oleh
semua pemeditasi dalam tingkatan manapun . Sebuah kemelekatan akan
sebuah kondisi ( sensasi ) . Dalam kasus ibu mungkin ketenangan itu
sendiri . Sesaat ketika kita telah terikat oleh ketenangan maka
keserakahan kita akan memerintahkan kita mengejar ketenangan itu. Maka
muncullah keinginan untuk tenang . Padahal sesaat ketika kita ingin
tenang , maka saat itu pula kita tidak akan  bisa tenang karena kita
akan sibuk mencari ketenangan dan bukan melakukan latihan secara
benar . Misalnya saat melatih memperhatikan nafas ,seharusnya kita
harus terus mengarahkan perhatian kita ke obyek nafas secara kontinu
sehingga menciptakan konsentrasi yang kuat . Tetapi karena menginginkan
ketenangan dari awalnya, yang kita lakukan adalah menunggu ketenangan
hadir dan bukan konsentrasi ke nafas . Apalagi saat pikiran terlihat
berkeliaran maka keinginan ini menjadi semakin gelisah dan membuat kita
semakin tidak tenang.
Jadi memulai sebuah latihan meditasi jangan pernah membawa pengalaman
meditasi kita terdahulu kedalam latihan kita selanjutnya . Karena
pengalaman meditasi yang terekam oleh persepsi kita ini sebenarnya
tidaklah nyata hanya sebuah persepsi belaka.
Yang nyata adalah apabila kita latihan konsentrasi maka hasilnya adalah
kekuatan konsentrasi kita semakin baik terhadap segala hal dalam
kehidupan ini . ( bukan sensasi seperti ketenangan , gambaran , rasa
nikmat , dll )
kalau kita melatih perhatian kita maka hasilnya adalah kesadaran kita
akan semakin jernih terhadap apa yang kita amati dalam kehidupan ini.
Kalau kita melatih pengendalian diri maka hasilnya adalah kemampuan
mengendalikan diri dalam menjalani kehidupan.
Jadi sebelum melakukan latihan cobalah merenungkan kembali apa yang
sedang ibu lakukan ? Latihan jenis apa yang akan ibu lakukan ?

sekian dahulu semoga niat baik ibu berbuah manfaat
semoga berbahagia

salam damai
ito





** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke