| Selamat Datang di Kota Polusi Bernama Jakarta Gubernur Sutiyoso terlihat kaget saat mendengar enam billboard bertuliskan "Selamat Datang di Kota Polusi" akan dipasang di enam tempat di lima wilayah di Jakarta. Apalagi ketika ia mengetahui yang memasang baliho-baliho itu justru Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI
yang tak lain adalah bagian dari Pemerintah Provinsi DKI. "BPLHD? Saya belum tahu itu," ujar Sutiyoso menanggapi pertanyaan wartawan di Balai Kota DKI, Senin (5/6). Baliho "Selamat Datang di Kota Polusi" bergambar patung selamat datang (terdiri dari satu pria dan satu wanita) yang masing-masing tangan kiri menutup hidung. Sementara tangan kanan diangkat ke atas. Pada sisi kanan sudut baliho (tepat di atas gambar patung wanita) tertulis "Selamat datang di kota polusi. Rawat dan uji emisi kendaraan Anda secara teratur. Keenam baliho "Selamat Datang di Kota Polusi" itu memang dipasang oleh BPLHD DKI. Bahkan peluncurannya dilakukan oleh Kepala BPLHD DKI Kosasih Wirahadikusumah dan disaksikan sejumlah
pejabat terkait di lingkungan Pemprov DKI bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup, Senin kemarin. Pemasangan baliho secara simbolis dilakukan Kosasih di Kantor BPLHD DKI di Jalan Casablanca Kav 1 Kuningan, Jakarta Selatan. Selain di Kuningan, baliho-baliho itu akan dipasang di Senen (Jakpus), Pluit (Jakut), Kedoya (Jakbar), Bungur atau di Jalan Iskandardinata (Jaksel), dan Kalimalang (Jaktim). Pemasangan baliho itu dilakukan atas kerja sama antara BPLHD DKI, Institut Studi Transportasi (Instran), Generasi Peduli Udara Bersih (GPBU), dan Bajing-Swisscontact (Bajaj Initiative for Natural Gas). Pencemaran tinggi Pemasangan baliho itu untuk mengingatkan semua pihak bahwa kualitas udara
Jakarta tidak sehat. Tahun 2004, misalnya, kualitas udara di Jakarta menunjukkan indikasi makin buruk. Dari 365 hari dalam setahun, hanya 51 hari atau 16 persen yang menunjukkan kategori baik. Selebihnya termasuk kategori sedang dan tidak sehat. Kondisi kualitas udara itu menunjukkan kualitas lebih buruk dibandingkan tahun 2000. Bahan pencemar diperkirakan paling besar dari kendaraan bermotor yang menghasilkan emisi nitrogen dioksida (NO2) sebanyak 43.170,98 ton per tahun; hidrokarbon (HC) 33.875,98 ton per tahun; karbon monoksida (CO) 706.123,10 ton per tahun; dan karbon dioksida (CO2) sebesar 11.770,960 ton per tahun. Campaign Program Officer Clean Air Project dari Swisscontact Damantoro mengatakan, karena kondisi udara Jakarta masih jauh dari memadai perlu dilakukan pendekatan baru dalam upaya pengendalian polusi.
Kepala BPLHD DKI Kosasih Wirahadikusumah berharap, pemasangan baliho itu bisa memunculkan kesadaran kolektif untuk bahu-membahu mewujudkan udara bersih di Jakarta. Karena itu, Sutiyoso tak perlu risau bahwa Jakarta memang kota terpolusi sehingga harus disadari untuk diperbaiki. (PINgkan e dundu) |