Bro Erik,

Sebelum lanjut, dalam memutuskan atau mencari sebuah solusi yang harus disadari adalah bagaimana bentuk2x perasaan terhadap objek tersebut. Apakah netral, marah, tidak senang atau suka ? Karena semua itu bisa berpengaruh pada pengambilan keputusan.

Kalau ditinjau dari sudut Kamma, setiap orang adalah pewaris kamma nya sendiri. Nanti kamma nya akan berbuah sendiri.

Kalau ditinjau dari sudut hukum, karena kita tinggal dibawah negara hukum artinya kita semua secara tidak langsung telah setuju dengan hukum tsb. Kalau memang orang tsb melanggar hukum bisa saja dijerat hukum. Tapi apakah itu semua benar tuduhan kepadanya ? Kalau bukan, kita yang fitnah bukan ?

Yang jadi pertanyaan dengan niat kita apakah orang itu akan dijerat ? Dengan niat tidak senang/benci kepadanya ?

Kalau seperti yg sudah dituliskan bro erik, dia sekarang sudah maju dalam sila, membawa kebaikan kepada kita semua, secara personal sih saya tidak ambil pusing, biarlah dia membawa kemajuan untuk semua. Saya tidak menyanjung ataupun tidak merendahkannya. Kalau dia memang seorang ketua kelompok tertentu, saya akan menghormatinya sebagai ketua kelompok itu.

with Metta

Sumedho Benny




"Erik" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected]

06/06/2006 11:27 AM

Please respond to
[email protected]

To
[email protected]
cc
Subject
[Dharmajala] Re: Kasus ?






Bravo Bro Benny!

Saya sependapat dengan Anda! Sekarang kita ambil contoh konkret yang ada
dalam masyarakat Buddhis kita.

Bagaimana kita menilai seorang konglomerat papan atas (mengaku) beragama
Buddha, yang berhasil menempatkan diri di posisi tertinggi dalam lembaga
keagamaan kita dengan cara dan praktek-praktek curang, namun akhirnya
dia berhasil membawa lembaga agama Buddha yang dia pimpin itu ke posisi
yang sangat terhormat dalam jajaran lembaga-lembaga keagamaan yang ada
di Indonesia?

Niat awal si konglomerat itu adalah kepentingan pribadi dan kepentingan
bisnisnya. Dengan praktek-praktek curang dan kasar ia berhasil
menggusur para ulama dan tokoh Buddhis dari posisi pucuk pimpinan
lembaga tertinggi agama Buddha, lalu dia ambil alih jabatan ketua umum
di lembaga itu. Kini dia adalah tokoh nasional yang harum namanya di
mana-mana, demikian pula lembaga agama Buddha yang ia pimpin, selalu
maju paling depan dalam merespon masalah-masalah nasional seperti
bencana alam, kemelut politik dll.

Harus dihormati dan disanjungkah tokoh agama konglomerat yang satu ini?
Atau tetap diusut kecurangan-kecurangannya di masa lalu?

Salam,

Erik

----------------------------------------------------------\
-------------------------------------------

In
[email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:

Bro Erik,
Saya coba menyampaikan pendapat saya tentang 2 kasus ekstrim yg bro
berikan.

Utk kasus 1,
Anak itu berbuat baik, hanya saja kamma buruk orang tua nya sedang
berbuah sehingga piringnya pecah. Akan jadi sebuah tindakan yg tidak
bijaksana jika orang tuanya menyalahkan anaknya.

Utk kasus 2,
Yg mendorong berbuat kamma buruk (mendorong yg pasti didasari oleh
kebencian)
yg mendorong berbuah kamma baiknya sehingga selamat. yg terdorong
berbuat kamma buruk karena berkelahi (pikiran didasari oleh kebencian).
Yg terdorong, sedang beruntung atau kamma baiknya berbuah sehingga
selamat.
Jika karena berkelahi (mendorong) lalu tanpa sengaja menyelamatkan
lawannya, berkelahi itu jadi sah dan dibenarkan? Kedua belah pihak itu
bersalah karena berkelahi.

with Metta
Sumedho Benny
----------------------------------------------------------\
--------------------------------------------
> "Erik" [EMAIL PROTECTED]
> Sent by:
[email protected]
> 06/05/2006 12:00 PM
> Please respond to
>
[email protected]

Setuju sekali saya pada pandangan Bro Mulyadi dalam konsistensi menjaga
sila baik dalam niat maupun tindakan konkret.
Betul, dengan menerima sumbangan, donasi atau dana bentuk apapun yang
diperolah dari hasil mencuri, merampok berarti kita ikut mendukung
tindakan mencuri atau merampok itu.
Niat dan tindakan harus konsisten, demikian kira-kira yang ingin
diungkapkan Bro Mulyadi, kalau saya tidak salah mencerna.

Tidak akan ada tindakan, tanpa terlebih dahulu ada niat.
Niat baik diikuti oleh tindakan baik, niat buruk diikuti oleh tindakan
buruk, itu pasti.
Tapi, bagaimana dengan hasilnya? Apakah niat baik yang diikuti tindakan
baik selalu berakibat pada hasil yang baik? Dan sebaliknya, apa selalu
niat buruk dengan tindakan buruk pasti berujung pada hasil buruk pula?

Di bawah ini, dua contoh ekstrim (sekedar sebagai wacana), mudah-mudahan
bisa membawa kita pada diskusi yang bermanfaat :
1. Seorang anak kecil (katakanlah begitu), ingin membantu ibunya yang
sedang sibuk di dapur, yang ia lakukan adalah membantu mencuci piring
kotor. Tetapi, karena memang masih anak-anak yang belum berpengalaman,
akhirnya piring kotor bukan menjadi bersih, tetapi malah jadi pecah.
Niat si anak baik, tindakannya pun baik. Tapi hasilnya buruk!
Bagaimana kita menilai si anak ini? Menyalahinya??

2. Dua orang musuh bebuyutan berpapasan di jalan. Timbul niat buruk
dalam hati salah seorang untuk mencelakai lawannya. Didorongnya sekuat
tenaga musuh bebuyutannya itu hingga terpental ke tepi jalan. Pada saat
yang bersamaan, datang mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi, maka
terhindarlah mereka berdua dari kecelakaan tertabrak mobil.

Niat si musuh yang mendorong buruk, tindakan mendorongnya pun buruk.
Tapi hasilnya justru baik, membuat mereka sama-sama terhindar dari
kecelakaan tertabrak mobil.
Bagaimana kita menilainya? Membenarkannya??

Salam,
>
> Erik


__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Attachment: gif6dZ7SGD1D1.gif
Description: GIF image

Attachment: gif13soa2z8z4.gif
Description: GIF image

Kirim email ke