| Tajuk Rencana Hidup dengan Memahami Alam Bumi sungguh karya Ilahi yang amat menggetarkan. Seukuran noktah pun Bumi tidak ada dibandingkan dengan kosmos yang terbentang mahaluas. Tetapi Bumi amat spesial. Bumilah satu-satunya planet yang sejauh
ini diketahui memiliki kehidupan berbasis karbon. Melihat lebih dekat lagi, kita akan dibuat semakin terpesona pada Bumi. Ambil contoh Bumi Nusantara, yang sering diabadikan dalam lukisan "mooij indie" sebagai tanah yang menghampar permai, dengan sawah luas di latar depan dan gunung menjulang di latar belakang. Secara sains, suasana permai dengan kesuburan yang mengiringinya ternyata juga disebabkan oleh riwayat aktivitas gunung berapi, yang saat meletus menebar pula bahan mineral yang menyuburkan tanah, meski panas lava yang dilontarkannya bisa menjadi bencana. Didorong oleh sifat ingin tahu, manusia tak puas hanya menyimak alam di permukaan. Kini pun pengetahuan "dalam Bumi" juga sudah banyak yang berhasil dihimpun oleh para ahli geologi, yang lalu mengetahui berbagai
hal tentang kerak, mantel, dan inti Bumi. Berikutnya berkembang pemahaman tentang pergerakan tektonik di kulit Bumi yang menimbulkan gempa. Para ahli juga telah banyak memetakan patahan tektonik, sesar, untuk wilayah Tanah Air Indonesia. Jadi, dari segi pengetahuan sebenarnya tidak kuranglah apa yang sejauh ini telah berhasil dihimpun. Di harian ini setiap kali terjadi bencana alam dibentangkan kembali peta wilayah Tanah Air yang rawan gempa, juga diulas gunung berapi mana saja yang aktif. Itu artinya informasi untuk menyikapi potensi bencana gempa dan gunung api telah tersedia, meskipun untuk gempa para ahli masih belum menemukan metode jitu untuk meramalkan kejadiannya. Atas dasar itu, peta gunung
api dan lempeng patahan tektonik harus ada di kantor-kantor pemerintah daerah agar setiap kali membuat perencanaan pembangunan, pejabat pemerintahan bisa memasukkan faktor-faktor potensi bencana. Sekaligus juga bisa dianggarkan program mitigasi atau upaya pengurangan dampak bencana. Hakikat hidup dengan memahami alam adalah dengan arif dan cerdas mengerti sifat-sifat alam. Mengingat dari segi kekuatan alam jauh lebih dahsyat, manusia seharusnya bersifat tunduk dan takzim terhadap alam. Tanpa itu, ia akan gagal memahami, mendapatkan kearifan, dan pada gilirannya akan selalu tersentak, dan untuk ulah yang merusak, ia akan terhukum. Bila gempa dan letusan gunung berapi murni merupakan upaya alam menemukan keseimbangan baru, banjir oleh penggundulan hutan, atau anomali cuaca yang disebabkan oleh aktivitas industri, nyata merupakan dampak
ulah manusia yang mencederai alam. Saat hujan di bulan Juni, saat Gunung Merapi aktif, saat pengungsi meratap pascagempa, inilah saatnya juga untuk merenungkan kembali hakikat hidup dengan memahami alam. |