Beberapa bulan lalu beredar kabar melalui beberapa milis buddhis bahwa telah terbit sebuah buku yang menceriterakan sejarah pudarnya agama Buddha yang bersamaan dengan jatuhnya kerajaan Majapahit. Buku tersebut berjudul: Tokoh Antagonis Darmo Gandhul, Tragedi Sosial Historis dan Keagamaan di Penghujung Kekuasaaan Mapahit. Ditulis oleh Nurul Huda. Diterbitkna oleh Pura Pustaka, Yogyakarta.

 

Tidak semua toko buku menjual buku tersebut. Dibutuhkan perjuangan untuk mendapatkan buku tersebut. Saya pertama kali mendapatkan buku tersebut di Gramedia Bogor, kemudian di Gramedia Puri Indah, Gramedia Mall Taman Anggrek, dan terakhir di Gramedia Karawaci Mall. Jumlah yang tersedia sangat terbatas.

 

Pekan silam beredar buku dengan judul “Ramalan Ghaib Sabdo Palon Noyo Genggong. Ditulis oleh Dr. Sigit Hardiyanto, MA. Diterbitkan oleh Kuntul Press, Perum Jongke C-12 Karanganyar-Solo.

 

Setelah diteliti lebih jauh, kedua buku tersebut tidak ada bedanya. Penggalan kalimat, kata, bahkan sampai tanda baca yang tercantum sama saja. Perbedaan hanya terletak pada kata pengantar. Perbedaan yang lain: pada buku yang terakhir terdapat dua sub judul di Bab IX (Syekh Lemah Abang dan Manunggaling Kawula Gusti) yang tidak dicantumkan. Selebihnya, hingga Daftar Pustaka di bagian akhir, sama saja.

 

Buat anda yang belum mendapatkan buku pertama namun ingin mengetahui masalah jatuhnya Majapahit dan berdirinya Demak serta lenyapnya agama Buddha dapat membaca buku yang kedua.

 

Demikian  sedikit info yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat.

 

DP

 

__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke