Kompas, Selasa, 20 Juni 2006
Minat Baca (1)
Semakin Jauh dari Membudaya...
Di tengah revolusi mahahebat pertengahan tahun 1960-an, Presiden (ketika itu) Soekarno menyerukan agar masyarakat suka membaca tanpa sekali-kali bersikap prasangka. Saat itu Soekarno menandaskan bahwa bagi manusia yang benar-benar mau menjadi manusia berharga, membaca sangatlah penting.
Bercermin pada kisah hidup Bung Karno yang dituliskan Cindy Adams, melalui buku pendiri bangsa itu berdialog dengan tokoh-tokoh dunia seperti Mahatma Gandhi, Sun Yat Sen, Karl Marx, Frederic Engels, Lenin sampai Jose Rizal.
Para pemimpin bangsa setelahnya pun tak mau kalah dalam mencanangkan berbagai gerakan memasyarakatkan membaca. Mantan Presiden Soeharto mencanangkan Hari Aksara, Hari Kunjung Perpustakaan, serta Bulan Membaca pada 14 September 1995. Megawati Soekarnoputri menyerukan Gerakan Membaca Nasional pada 12 November 2003. Terakhir, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Gerakan Pemberdayaan Perpustakaan di Masyarakat pada 17 Mei 2006. Namun, kenyataannya hingga kini budaya membaca masih menjadi persoalan bagi bangsa ini.
Ada yang kemudian pahit mengatakan gerakan tersebut hanya berawal dan berakhir di bibir saja alias sekadar slogan. Faktanya, di negeri berpenduduk sekitar 250 juta ini, judul buku yang terbit setiap tahun—berdasarkan catatan Ikatan Penerbit Indonesia—hanya 10.000 judul buku dengan tiras 20 juta eksemplar. Kasarnya, satu buku masih dibaca 10 orang.
Jangankan membaca sebagai sebuah budaya, melek huruf masih menjadi hantu yang menggentayangi masa depan bangsa. Berdasarkan Education for All Global Monitoring Report tahun 2005, Indonesia merupakan negara ke-8 dengan populasi buta huruf terbesar di dunia, yakni sekitar 18,4 juta orang buta huruf di Indonesia.
Akan tetapi, benarkah minat baca masyarakat Indonesia rendah? Benarkah anak Indonesia sedemikian alergi dengan buku dan bacaan?
Memang tak mudah menjawab pertanyaan yang cukup sederhana itu. Namun, jika melihat aktivitas Oki Adelina (40) bersama suami dan dua anaknya, ada secercah harapan. Siang di akhir pekan itu, Oki dan keluarga asyik di antara tumpukan buku di pameran bertajuk "50 % Books Event" yang berlokasi di Departemen Pendidikan Nasional. Dua anaknya pun asyik sendiri dengan bacaan pilihannya.
"Kami sekeluarga ke pameran ini. Kebetulan sedang ada diskon jadi harga bukunya jauh lebih murah. Kalau beli di toko buku bisa bangkrut," ujar perempuan yang sengaja membawa anaknya ke pameran buku ketimbang ke area bermain. Saking senangnya ada tempat membeli buku murah, Oki sudah untuk ketiga kalinya datang ke tempat itu.
Di pojok lain, Hanung (25) mengamini perkataan Oki. Hanung adalah karyawan bidang teknologi informasi sebuah perusahaan swasta. Sekalipun tidak maniak alias kutu buku, dia mengaku masih suka meluangkan waktu untuk membaca buku, terutama buku-buku terkait pekerjaannya. Dia menyadari membaca buku bermanfaat bagi pengembangan kariernya.
Antusias
Dalam pameran itu, gerai penerbit yang menawarkan harga murah dan buku terbilang cukup baru paling ramai dikunjungi. Ketua Komunitas Pekerja Buku Indonesia Aris Suwartono mengungkapkan, selama sembilan hari pameran "50 % Book Event" diselenggarakan, nilai transaksi sekitar Rp 1 miliar. Sebanyak 65 penerbit tercatat sebagai peserta pameran tersebut.
Pada akhir pekan yang sama, toko-toko buku yang menyewa tempat di mal-mal besar juga padat dikunjungi, sekalipun tidak semua melakukan transaksi pembelian buku.
Pimpinan Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) Dr Murti Bunanta tidak sepenuhnya setuju dengan pandangan bahwa minat baca masyarakat rendah. Dalam berbagai kegiatan mempromosikan bacaan, termasuk ke berbagai daerah, kelompok pimpinannya merekam antusiasme masyarakat pada bacaan. Terlebih lagi terhadap buku anak-anak karyanya yang didesain sesuai tingkat perkembangan pengetahuan anak.
Pandangan senada diutarakan Kepala Perpustakaan Nasional Dady P Rachmananta. Sejauh ini dia melihat minat membaca sesungguhnya telah ada, hanya saja terhadang berbagai kendala.
Kendala itu antara lain akses terhadap buku lantaran harga yang mahal, minimnya tempat membaca seperti perpustakaan yang layak dan memadai, serta kurangnya motivasi membaca baik dalam keluarga maupun di sekolah. "Jalan masih panjang untuk membangun budaya membaca," ujarnya.
Di negeri yang pemenuhan sandang pangan warganya masih menjadi persoalan hidup sehari- hari, keinginan membaca menjadi beban mengingat mahalnya harga buku. Aris Suwartono yang juga adalah Manager Pemasaran di Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) mengatakan, "Harga buku kita jauh lebih mahal daripada India. Di sana sudah tidak ada pajak kertas dan pertambahan nilai untuk penerbitan buku. Itu saja sudah menekan biaya produksi buku sekitar 20 persen."
New York Times dalam sebuah artikelnya berjudul Getting Text Books Cheaper From India melaporkan, kini semakin banyak buku teks Amerika yang diterbitkan di India. Pajak yang lebih rendah, tenaga kerja yang lebih murah, dan mencetak buku hitam putih membuat buku dapat dijual lebih murah. Pihak penerbit dari Amerika atau Inggris juga menjalin kerja sama khusus dengan Pemerintah India terkait hak cipta buku.
Alhasil, buku-buku keluaran penerbit Amerika dijual hanya sepersepuluh harga di negara aslinya. Hanya saja, terdapat peraturan bahwa buku tersebut hanya dijual di sekitar India dan sekitarnya. Hal terpenting, isi buku dapat diakses murah oleh masyarakat India.
Sayangnya, Pemerintah Indonesia baru beraksi sebatas gerakan, belum menyentuh persoalan nyata. Sayangnya lagi, di tengah tingginya harga buku, di Tanah Air masih kurang fasilitas alternatif untuk membaca.
Tak perlu jauh-jauh. Perpustakaan Nasional di pusat Kota Jakarta sejauh ini bersifat perpustakaan tertutup sehingga penggunaannya untuk masyarakat luas terbatas. Pengunjung tidak bisa mendapatkan akses langsung dengan buku, melainkan hanya melihat katalog dan memesan buku dimaksud. Sistem tersebut diterapkan demi keamanan koleksi buku-buku di Perpustakaan Nasional.
Kondisi perpustakaan daerah juga tidak sepenuhnya memadai. Kepala Perpustakaan Nasional Dady P Rachmananta menjelang gerakan pemberdayaan perpustakaan beberapa waktu lalu mengatakan, dana pembinaan perpustakaan daerah dari pemerintah pusat masih terbatas.
Tahun 2006 pemerintah hanya memberikan bantuan kepada 30 provinsi untuk buku, sarana, dan pembinaan. Ironisnya, tidak semua kepala daerah menyadari arti penting perpustakaan sebagai sumber belajar. Dengan harga buku yang mahal dan ketiadaan dana, koleksi di perpustakaan pemerintah tertinggal jauh dan tidak menarik.
Beberapa perpustakaan daerah seperti di Jakarta Selatan berupaya lebih menata diri dan tidak bergantung pada anggaran pemerintah pusat. Namun, perpustakaan yang keluar sebagai juara satu dalam kompetisi perpustakaan seluruh Indonesia itu juga masih bergulat dalam meningkatkan kualitas.
"Untuk anggaran saja kami harus melobi habis-habisan," ujar Kepala Perpustakaan Jakarta Selatan Abdullah HM.
Tahun 2005, perpustakaan itu hanya mendapatkan Rp 1,2 miliar dan yang dialokasikan untuk pengadaan buku baru sekitar 20 persen. Setelah menjadi juara, respons terhadap perpustakaan lebih baik. Tahun ini pihaknya mendapatkan Rp 2,7 miliar. Hanya saja, secara fisik perpustakaan itu masih jauh tertinggal daripada daerah lain. Ketika mengunjungi perpustakaan tersebut, terlihat sebagian atapnya yang jebol di antara rak-rak buku yang dikunjungi pembaca masih disanggah kayu-kayu.
Setiap hari perpustakaan yang mempunyai koleksi 75.000 buku itu dikunjungi 375 orang. Separuhnya ialah pelajar SD-SMA yang ada di sekitar lokasi itu. Untuk menarik minat membaca diadakan berbagai program. Perpustakaan juga buka hingga pukul delapan malam. Namun, kemajuan itu lebih karena peran sebuah perusahaan minuman ringan yang memberi banyak bantuan. Dia mengatakan, jika perpustakaan ingin maju maka peran pemerintah harus lebih konsisten. "Terutama dari segi penganggaran," kata Abdullah.
Lantas, bagaimana pembudayaan membaca di sekolah tempat anak menghabiskan sebagian waktunya? Di sekolah kondisi pembudayaan membaca jauh lebih tertinggal.
Sejauh ini tercatat hanya segelintir SD yang mempunyai perpustakaan. Itu pun tidak semua bisa dikatakan layak. Dari sekitar 180.000 SD/MI hanya sekitar 5.000 sekolah inti yang mempunyai perpustakaan layak. Artinya, sebagian besar belum memiliki perpustakaan. Terkadang yang disebut perpustakaan hanyalah sebuah lemari berisi buku paket pelajaran dan diletakkan di ruang guru atau kepala sekolah.
Para murid diajar dan dididik oleh para guru yang sebelumnya juga tidak ditanamkan kebiasaan membaca. Sebagai contoh, di sekolah (baca: SD) guru hanya mengajarkan merangkai kata dan huruf tetapi belum menanamkan arti pentingnya membaca. Di rumah, orangtua yang mendidik anak-anak mereka sebagian merupakan keluaran dari lingkungan yang jauh dari budaya membaca.
Alhasil, yang terjadi ialah lingkaran setan budaya miskin membaca.


Sneak preview the all-new Yahoo.com. It's not radically different. Just radically better. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke