Materialisme Spiritual dan Sakramen Konsumerisme
Sebuah pandangan dari Thailand
Phra Phaisan Visalo Mahathera
Diterjemahkan oleh Nie Nie Hsu dan diedit oleh Jimmy Lominto
Perbedaan antara keyakinan beragama dan konsumerisme belakangan ini semakin tidak jelas. Meskipun ibadah keagamaan dapat melibatkan benda-benda fisik seperti rupang Buddha, namun hidup dalam disiplin moral untuk mengakarkan diri ke dalam Dharma disyaratkan oleh setiap agama. Kini keyakinan beragama sudah berubah hingga ke derajat di mana beragama berarti membeli benda-benda yang dianggap mendatangkan keberuntungan untuk disembah. Keyakinan (saddha) seseorang tidak lagi diukur dari bagaimana dia menjalani agamanya, bagaimana dia menjalani kehidupan, tapi oleh seberapa banyak benda suci atau keramat yang dimilikinya.
 

Banyak wihara di Bangkok maupun di propinsi-propinsi sudah berubah menjadi pusat perdagangan benda-benda keberuntungan. Di wihara-wihara itu, yang diperjualbelikan bukan hanya beberapa foto biasa, jimat dalam kotak, dan kain keberuntungan (yantra), tapi juga produk yang luar biasa keanekaragamannya seperti jimat pelindung yang digantung pada kaca spion mobil Anda, tatakan bergambar, patung-patung kecil, dan papan tanda dengan kalimat magis (seperti “Wisma Kekayaan”). Tidak lama lagi barangkali akan ada arloji yang secara khusus diberkati dan kalkulator yang dianggap suci untuk dijual. Tidak diragukan lagi sudah ada pembeli yang mau; ini hanya masalah siapa yang akan memulai untuk memproduksi barang-barang tersebut.
 
 
Jika kita cermati beberapa ritus keagamaan yang berkembang belakangan ini, kita bisa melihat dengan jelas betapa orang sudah tergila-gila dengan benda-benda keramat. Beberapa fenomena, meski muncul dengan cepat dan hanya bertahan sebentar saja, namun paling tidak berubah menjadi bisnis besar dalam tempo semalaman. Sebuah contoh kasus, orang-orang menjadi yakin pada kekuatan khusus bambu jenis tertentu dari sebuah desa di Thailand. Lebih dari 20 jenis obyek suci yang dibuat dari bambu ini tersedia dalam tempo beberapa hari sejak “diketemukannya” kehebatan bambu tersebut. Segera, ratusan ribu baht (Mata uang Thailand – 40 baht/1 US$) dihasilkan setiap hari di lebih dari 200 toko yang menjamur di desa kecil yang sebelumnya sepi dan damai.
 
Konsumerisme bertumpu pada prinsip yang mengatakan bahwa kebahagiaan dan kesuksesan datang melalui mengonsumsi atau membeli berbagai hal, bukan melalui diciptakan atau diwujudkan oleh diri yang bersangkutan. Kepercayaan ini menyebabkan orang memandang agama hanya sebagai aspek lain mengonsumsi, ketimbang sebagai sesuatu yang harus diterapkan dan dipraktikkan. Hasilnya adalah agama menjadi takhayul dan bentuk takhayul rendahan. (Bentuk-bentuk takhayul yang lebih tinggi, kendati juga mengandalkan benda-benda keramat maupun janji-janji khusus yang dibuat dengan harapan dapat memperoleh kebahagiaan duniawi, setidaknya masih mempertahankan beberapa moralitas dasar atau praktik moral).
 
Banyak orang yang “mencari” agama merasa terganggu oleh ingar- bingar seputar benda-benda keberuntungan itu, namun sayangnya mereka tetap terpengaruh oleh konsumerisme. Beberapa pergi ke wihara untuk mencari kedamaian pikiran, tapi dalam hal harapan, mereka lebih menyerupai turis yang sedang berada di tempat rekreasi yang ramai dikunjungi orang: “Jika kita punya uang untuk membayar jasa itu, ketenangan akan datang dengan sendirinya; kita sama sekali tidak perlu melakukan apa-apa!” Ketika mereka sadar bahwa “agar kedamaian menjadi mungkin, yang bersangkutan harus melakukan berbagai upaya ”termasuk tinggal di gubuk kecil, yang sepi, tidak berair ledeng atau listrik di tengah hutan dan jalan kaki yang jauh untuk sampai ke gubuk itu, tekad mereka pun menyurut dengan cepat, mereka lalu memutar haluan, kembali ke mobil mereka dan pulang ke rumah. Bentuk konsumerisme agama lainnya adalah nafsu untuk mengumpulkan pengalaman-pengalaman spiritual seperti melihat nimitta (tanda-tanda, gambaran-gambaran), berkunjung ke alam surga dan neraka, serta masuk ke dalam keadaan-keadaan konsentrasi meditatif yang dalam. Ini tidak beda dengan para turis yang mengunjungi semua taman nasional terkenal, tapi sudah merasa bahagia hanya dengan berputar-putar naik mobil dan melihat pemandangan dari balik kaca mobil, dan tinggal di hotel berAC, ketimbang jalan kaki di hutan, memasang tenda, dan mengalami kedamaian dan keheningan. Orang-orang seperti itu hanya mau pengalaman-pengalaman yang aneh dan baru; tidak pernah terpikir oleh mereka untuk berusaha mengenyahkan ilusi “diri”. Mereka tertarik pada agama jenis “kopi instan” yang hasilnya cepat dan segera. Mereka tidak akan memberikan komitmen pada latihan jangka panjang manapun atau bertahan pada satu guru, tapi akan melompat dari wihara yang satu ke pusat latihan yang lain, dan sering berakhir dibohongi tokoh spiritual palsu karismatik yang menjanjikan pembebasan yang cepat.
 
Perbandingan sekilas antara orang-orang jenis ini dengan mereka yang perhatian utama dalam hidupnya adalah uang—selalu berpikir tentang keuntungan, mengikuti harga saham selama hari kerja, keluar belanja di akhir pekan—mengindikasikan bahwa kedua kelompok ini saling bertolak belakang. Kelompok pertama religius dalam arti yang harfiah; kelompok kedua bersifat materialistis. Namun melihat secara lebih mendalam, kita akan melihat bahwa kedua kelompok itu adalah campuran dari agama dan konsumerisme, dan sangatlah sulit untuk memisahkan kedua hal itu. Kelompok pertama mengakui agama mereka dalam cara yang konsumeristik. Sedangkan kelompok kedua agamis terhadap konsumsi mereka; dalam kenyataan, mereka sangat religius mengenai hal itu, sehingga kita bisa menyebutnya sebagai agama baru: Agama Konsumerisme.
 
Didefinisikan secara luas, agama adalah sebuah sistim pemikiran dan kepercayaan-kepercayaan yang memenuhi kebutuhan manusia yang dalam, terutama kebutuhan akan rasa aman di hati kita. Kita bisa mencapai satu tingkat rasa aman melalui berbagai macam cara. Banyak harta benda, uang, kesehatan kita, sukses dalam bekerja, dihormati atau terkenal—semua ini adalah faktor utama (meski tidak tahan lama) untuk rasa aman kita. Setiap agama mempunyai fungsi awal memberikan harapan atau janji kepada khalayak bahwa jika mereka berbuat baik, berbuat jasa, memberikan sedekah, percaya pada Tuhan, berdoa kepada atau memohon kepada-Nya dengan cara yang tepat, maka mereka akan berumur panjang, punya kedudukan baik, kekuasaan, kesehatan yang baik dan kemakmuran. Pada tingkat yang lebih tinggi, agama-agama membantu menyediakan makna bagi kehidupan orang atau setidaknya membantu mereka mengenal siapa diri mereka, bagaimana menjalani kehidupan mereka, dan arah mana yang dituju. Dengan kata lain, agama membantu orang-orang melampaui kebingungan dan keraguan mereka. Mereka yang mempunyai keyakinan atau rasa percaya terhadap agama mereka cenderung mempunyai energi dan tekad yang kuat.
 
Konsumerisme berfungsi, hingga titik tertentu, dalam cara yang sama seperti agama, dimulai dengan menjawab kebutuhan-kebutuhan fisik. Orang masa kini terobsesi dengan mengumpulkan kekayaan dan harta benda. Dan ini bukan hanya tentang seberapa banyak yang Anda miliki; tapi apa atau jenis apa juga sama pentingnya. Banyak orang rela mengeluarkan 100,000 bath untuk sebuah jam tangan Rolex dan menginvestasikan jutaan bath pada sebuah Mercedes Benz. Ini semua adalah karena rasa ketidakamanan dasar mereka. Bagi orang-orang itu, sepuluh tas tangan kulit dari pasar kaki lima Banglampoo tidak memberikan rasa aman yang sama seperti yang disediakan satu tas “barang nyata” buatan Louis Vuitton.
     
Demikian pula, orang bahkan sanggup membeli ijazah dan gelar palsu tanpa sedikit pun merasa ada yang salah, karena kepuasan yang diperoleh dari dipanggil “Doktor” melebihi kesalahan manapun. (Tapi jika kepalsuan mereka terungkap, itu cerita lain lagi.) Konsumerisme juga memberikan hidup tujuan. Orang yang benar-benar larut dalam konsumerisme, tidak akan memiliki keraguan karena mereka sangat terfokus—terfokus dalam mencari berbagai hal untuk dikonsumsi. Lulusan baru tidak punya kebingungan; mereka tahu bahwa mereka bekerja untuk mendapatkan sebuah mobil dalam kurun waktu dua hingga empat tahun. Sedangkan pengusaha, pandangannya tertuju mantap pada rumah senilai milyaran bath. Ada segala hal yang mengobsesi orang, sampai pada titik di mana mereka bekerja begitu keras hingga tidur mereka lebih sedikit daripada para biku meditasi yang ketat sekalipun. Saat konsumerisme sudah sampai sejauh itu, tepat bagi kita untuk menyebutnya sebagai agama. Kita mau sebut apa lagi keyakinan yang demikian kuat ini jika bukan disebut agama. Ada suatu masa ketika komunisme melakukan fungsi ini bagi banyak orang yang memperlakukan Partai [Komunis] seperti Tuhan, sehingga mengikatkan hidup mereka padanya. Oleh karena itu, tidak mengherankan saat ideal-ideal komunisme dihancurkan, mereka kehilangan arah dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan hidup mereka. Bagi banyak orang, kebingungan itu berkurang secara cepat dengan memeluk konsumerisme. Energi dan vitalitas yang sebelumnya mereka berikan pada partai kini diarahkan ke pasar modal dan angka-angka dalam buku-buku akuntansi. Hidup kembali berarti.
 
Kita patut memahami bahwa bukan nafsu semata yang mendorong perilaku konsumeristik. Kepercayaan atau pandangan dunia yang dimiliki orang juga merupakan faktor yang penting sekali. Satu alasan mengapa konsumerisme memiliki kekuatan adalah karena sekumpulan ide (yang tampaknya rasional) yang mengatakan bahwa kebahagiaan berasal dari mengonsumsi dan bahwa semakin banyak seseorang mengonsumsi, akan semakin banyak pula kebahagiaan. Pada saat yang sama, sekumpulan ide ini berpendapat bahwa semua masalah ada solusi materialnya. Kota menghadapi masalah lalu lintas? Tinggal beli komputer untuk merancang sistim lalu lintas. Timbangan Anda naik? Belilah pil diet. Bentuk badan Anda mulai kendur di sana sini? Tinggal operasi plastik saja. Ingin lebih populer dan dihargai? Mobil Mercedes Benzlah barang yang Anda perlukan. Kekuatan keramat teknologi bukan hanya terletak pada kemampuannya untuk memberikan dukungan rasional bagi materialisme dan konsumerisme, sehingga membuat keduanya “sainstifik”; tapi juga mengubah teknologi itu sendiri menjadi salah satu komponen yang digunakan dalam ritual konsumerisme.
 
Selain rasa aman dalam pikiran mereka, manusia mempunyai kebutuhan yang lebih dalam dan itu adalah untuk berubah menjadi     “insan baruAgama konsumerisme memiliki aneka ritual dan praktik yang menghasilkan transformasi ini. Dulu, pemuda-pemuda Thai yang telah menjalani kebikuan dikenal sebagai Kohn Sook, secara literal berarti “orang yang telah matang” (dengan konotasi telah siap atau terpoles). Beberapa agama malah mencoba membangun karakter baru dengan memberi orang tersebut sebutan baru. Namun untuk perubahan yang lebih mendalam, orang yang bersangkutan harus mengikuti prinsip-prinsip keagamaan, latihan meditasi misalnya.  Konsumerisme melangkah jauh dalam menjawab kebutuhan yang lebih dalam ini. Banyak sekali orang yang menggunakan konsumerisme sebagai suatu cara untuk membangun ego baru atau menjadi insan baru dengan membeli produk-produk yang mendukung citra diri mereka. Rasa bukanlah satu-satunya hal yang menarik kaum muda untuk membeli minuman ringan, melainkan juga hasrat konsumen-konsumen muda itu untuk menjadi salah satu dari “Generasi Baru” atau memiliki kepribadian seperti bintang pop dalam iklan tersebut. Iklan-iklan belakangan ini tidak berusaha menjual kualitas produk, tapi menjual kualitas dari bintang atau model yang dibayar untuk pekerjaan itu. Sebuah citra telah dijajakan kepada konsumen, sebuah citra yang dapat diperoleh dengan menggunakan produk tertentu.
  
Sebagaimana iklan-iklan tidak benar-benar sedang menjual produk, produsen pun tidak benar-benar sedang menciptakan produk. Mereka menciptakan nama merek, yang jauh lebih menarik bagi konsumen dibandingkan manfaat dan kualitas produk tersebut. Jika tidak ada citra yang elegan atau bergaya yang diasosiasikan dengan produk itu, maka merek itu menjadi tidak bernilai. Untuk alasan inilah mengapa beberapa perusahaan dapat meraup keuntungan yang tidak masuk akal dengan menjual hak untuk menempelkan nama mereka pada produk-produk tertentu, sementara mereka sama sekali tidak ada kaitan apapun dalam memproduksi barang-barang itu. Sebagai contoh, perusahaan baju Pierre Cardin meraup jumlah uang yang luar biasa banyak dengan menjual hak untuk menggunakan namanya pada lebih dari 800 macam produk, dari parfum hingga kacamata penahan sinar matahari. Dan untuk alasan citra inilah, Nike mengumumkan secara publik bahwa Nike bukanlah “perusahaan sepatu”; melainkan “perusahaan olah raga.” Sepatu tidak mempunyai daya tarik bagi konsumen seperti yang dimiliki olah raga. Orang bukan hanya menginginkan sepasang sepatu, mereka ingin menjadi atlet seperti Michael Jordan. Maka orang pun membeli sepatu dengan merek yang akan menghubungkan rasa akan diri mereka dengan yang dimiliki bintang favorit mereka. Ditinjau dari sisi efeknya dalam pikiran orang, membeli sepasang sepatu sebenarnya tidak beda jauh dengan membeli sebuah jimat Luang Paw Goon. Luang Paw Goon adalah salah seorang dari biku-biku yang lebih populer di Thailand akhir-akhir ini, terkenal akan posisi jongkoknya, kecenderungan untuk merokok, dan keterampilannya yang begitu luar biasa dalam mencari dana. Banyak yang percaya bahwa kekayaan, kesehatan dan manfaat-manfaat non-duniawi lainnya pasti akan diperoleh mereka yang mengenakan jimat yang ada gambar Luang Paw Goon.
 
Jadi konsumerisme mempunyai lebih dari sekadar aspek material; rasa percaya, kepercayaan, dan pandangan orang juga memainkan peranan yang sangat penting. Ketika Anda kaji konsumerisme sehubungan dengan fungsi-fungsi yang dilakukannya serta perilaku dan pemahaman orang-orang yang ada di bawah pengaruhnya, ia tidak beda jauh dengan agama-agama lain. Tapi pada analisis terakhir, Agama konsumerisme benar-benar tidak bisa menjawab kebutuhan-kebutuhan umat manusia yang lebih dalam. Ia tidak akan pernah membuat para penganutnya benar-benar merasa puas. Orang yang tidak pernah merasa ia sudah punya cukup, tidak akan pernah mampu untuk berhenti mencapai dan bergumul, dan tidak akan pernah menemukan kedamaian sejati. Bahkan yang lebih parah lagi, manakala orang menyerahkan dirinya pada doktrin konsumerisme, sangatlah sulit untuk menyadari fakta bahwa kedamaian merupakan aspirasi terdalam serta kebutuhan untuk hidup. Hasrat akan barang-barang materi menutupi serta mengaburkan harapan yang paling dalam dan paling baik itu, sehingga membuat yang bersangkutan tidak tahu-menahu tentang kebutuhan-kebutuhan hidup yang sesungguhnya.
 
Agama Konsumerisme hanya menyediakan pemenuhan sementara, memberikan hidup makna jangka pendek saja. Tidak peduli seberapa banyak barang yang Anda miliki, pada akhirnya semua itu akan terasa rada hampa dan tidak bermakna, karena pemenuhan dalam kehidupan tidak bisa terjadi manakala yang bersangkutan terjerat oleh dan terlalu banyak menggunakan barang-barang materi. Arti kehidupan terungkap bukan melalui pembangunan ego baru, melainkan melalui penggalian yang dalam hingga melihat bahwa “diri” hanyalah ilusi belaka. Konsumerisme tidak menawarkan pelindungan bagi kehidupan kita, sebab bahkan agama konsumsi itu sendiri pun tidak bisa memuaskan harapan terdalam kita.
 

Diterbitkan sebelumnya di Seeds of Peace Vol. 14, No. 3 (Sept – Dec), 1998 (2541)
 
Phra Phaisan Visalo adalah Kepala wihara Wat Pa Sukhato dan Wat Pa Mahawan di Chaiyaphum, Thailand dan ada dalam Komite Eksekutif Phra Sekhiyadhamma, sebuah jaringan nasional biku-biku yang peduli masalah kemasyarakatan.
 
 
 


Why keep checking for Mail? The all-new Yahoo! Mail Beta shows you when there are new messages. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke