|
Pertanyaan di atas biasanya akan memunculkan
jawaban yang pro dan kontra. Ada sebagian setuju bahwa kita perlu mempelajari
dan ada pula yang tidak setuju. Apalagi dalam berdebat. Sebagian pasti menolak dengan alasan akan mengotori pikirannya. Juga
menolak karena alasan Tugu Asoka yang terkenal. Bahwa barang siapa yang
merendahkan ajaran lain, maka ia seperti merendahkan ajarannya sendiri. Namun
ada juga yang setuju dengan alasan kita perlu melakukan itu, karena untuk
meningkatkan Saddha (Keyakinan) kita. Dengan diskusi2 seperti itu, kita makin
yakin dan BANGGA bahwa Buddhism adalah yang terbaik.
Bagaimana Sang Buddha Gotama sendiri?
Dalam pencarian kebuddhaannya, Pangeran Siddharta
berguru ke banyak orang terkenal. Baik itu Alara Kalama, Udakka Ramaputra dll.
Karena kejeniusannya, Ia telah tahu dan mengingat isi TRI WEDA (kita suci
brahmaisme jaman dahulu). Namun karena ketidakpuasannya, ia mencari dan mencari
lagi sampai akhirnya menemukan sang Jalan.
Dalam penyebarannya selama 45 tahun, Beliau banyak
menemukan 'lawan-lawan' tangguh dalam kitab suci weda tersebut. Tidak hanya
teori, tetapi kesaktian juga. Tentu saja, dengan kepiawaian berkotbah dan
berdebat serta tindak tanduknya yang lurus dan pengetahuan yang sangat2 luar
biasa, Beliau dengan mudah menundukan para "guru-guru" saat itu sehingga mereka
tertarik untuk menjadi pengikut Beliau. Mulai dari 5 orang pertapa, Kassapa
bersaudara, Migara (Mertua Visakha), Anak paling bandel dari Anatapindikha,
Angulimala, Yakka Alawaka, Dewa Brahma Baka, Brahmana Ambatha, Malunkyaputa
dll.
Itulah Buddha yang sudah tahu ajaran lain saat itu.
Bagaimana dengan kita, apakah perlu mempelajari dan
BELAJAR berdiskusi dengan ajaran lain?
peace
Giri
__._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
- [Dharmajala] Apakah perlu mempelajari ajaran lain? Giri
