Phra Khru Supajarawat:
Menemukan Jalan Tengah antara yang Modern dan yang Tradisional
Sherry Yano
Diterjemahkan oleh Jimmy Lominto

(Bag 8)
Visi Komunitas Mengenai Masa Depan
Budaya Setempat
Hampir setiap orang yang diwawancarai ingin melihat keluarga bersatu kembali, sehingga komunitas bisa menyeluruh lagi. Warga merasa bahwa tinggal bersama akan membawa kebahagiaan.
Maa Lapang berkata,
“Saya tidak ingin kaya, tapi saya ingin kumpul bersama dan berbahagia. Andai pun kami hidup susah, tapi kami punya anak-anak yang baik, desa yang baik, dan dapat menikmati hidup dan berbahagia.”
Thongjan Bongket menjelaskan lebih lanjut,
“Saya harap di kota-kota kecil, orang bisa membangun hubungan yang baik. Saya tidak mau orang-orang di daerah ini pindah. Mereka seharusnya menumbuhkembangkan sammakee [keharmonisan, persatuan] di sini dan berusaha untuk bekerja sama…, Sammakee dan pembangunan harus tumbuh bersama di sini.”
Seorang biku muda menambahkan,
“Saya ingin melihat warga bersatu dan saling tolong-menolong. Bekerja bersama menghemat  tenaga dan membuat hidup lebih menyenangkan.”
Gotong royong, saling berbagi, dan kebajikan bukan saja membuat hidup lebih mudah, tapi juga lebih menyenangkan. Perasaan-perasan seperti ini berulang kali digemakan warga desa, tua maupun muda. Sammakee merupakan landasan berdirinya kehidupan desa. Karena sulit diukur, maka mudah sekali untuk melewatkannya dalam evaluasi strategi pembangunan. Bagi komunitas seperti Ban Tha Laad, penting kiranya untuk secara eksplisit menimbang apakah proses pembangunan akan menguatkan ikatan komunitas atau malah melemahkannya melalui promosi kompetisi atau eksploitasi. Tapi benar juga kehidupan tradisional memang menumbuhkembangkan sammakee dan jika tradisi dibiarkan tumbuh subur dan dibuat relevan dalam masyarakat kontemporer, maka, aktivitas pembangunan yang muncul mungkin akan secara lebih alami berdasarkan pada sammakee, sehingga menguatkan ikatan-ikatan komunal. Hanya warga desa sendirilah yang dapat melestarikan tradisi mereka dan membuat tradisi tersebut relevan terhadap kehidupan modern. Akan menarik sekali untuk melihat apakah desa ini akan mampu atau tidak menumbuhkan rasa kekomunitasan yang kuat (yang sedemikian dihargai),  meskipun ikatan-ikatan ini secara langsung semakin tidak diperlukan dalam pergerakan menuju ekonomi uang tunai berorientasi pasar yang disertai dengan meningkatnya pelayanan pemerintah.
Saat ditanya apakah warga akan semakin mirip dengan orang kota jika komunitasnya bertambah modern, jawaban warga secara imbang jatuh ke dalam dua kategori. Kelompok pertama mencemaskan hilangnya budaya serta sammakee dan berharap komunitas akan mampu mengambil langkah-langkah konkrit untuk menguatkan dan mempertahankan ikatan-ikatan komunal sementara pembangunan berlangsung. Kelompok kedua merasa hilangnya budaya dan keharmonisan tidak akan terjadi dan tidak terbayangkan. Sesuatu yang telah melalui proses penyempurnaan bergenerasi-generasi lamanya, tidak akan hilang begitu saja. Menggarisbawahi pentingnya budaya tradisional hari ini, seorang petani menyatakan visinya tentang masa depan yang ideal,
“Idealnya,  saya ingin melihat desa yang berbasis Buddhis dengan warga yang swadaya, bahagia dengan hidup yang bersahaja, dan puas dengan apa yang sudah dimiliki…Dan desa itu seharusnya mampu mempertahankan keunikannya, budayanya, identitas diri, dan tradisinya. Saya ingin kami hidup bersahaja, berbudi pekerti luhur dan murah hati, dan mempunyai suka cita-suka cita yang sederhana. Ada hal-hal yang perlu diadaptasikan dengan jaman modern, tapi prioritas di desa seharusnya adalah mempertahankan budaya dan tradisinya.”
Phra Khru Supajarawat mencatat kerisauan yang bisa perlahan-lahan merasuki kejiwaan warga saat mereka mulai lebih tergantung pada benda-benda materi untuk memberikan mereka kepuasan. Kata dia,
“Saya hendak menghidupkan kembali budaya yang lebih berwelas asih, murah hati, dan  bercinta kasih…Jika moralitas, integritas, dan kasih sayang balik kembali, tidak perlu lagi berjuang begitu keras untuk kekayaan.”
Dia yakin konsumerisme telah berdampak fatal sekali bagi komunitas. Jika warga bahagia dan bangga dengan budaya dan komunitas mereka, dia rasa mereka akan lebih puas dengan apa yang telah mereka miliki dan dorongan untuk kekayaan pun akan lebih mudah ditengahi.
Warga juga meyakini bahwa budaya setempat dan agama Buddha membantu mereka menjadi manusia yang lebih baik. Menjadi orang baik, kata mereka, membawa kebahagiaan. Seorang ayah berkomentar,
“Saya mencemaskan anak-anak muda. Segala sesuatu berubah. Budaya berubah dan saya bertanya-tanya mereka akan jadi orang baik atau tidak dan melakukan hal-hal yang baik sehingga akan bahagia di masa mendatang.”
Warga paham apa yang secara tradisional dianggap sebagai perilaku “baik.” Seiring dengan berubahnya kehidupan di desa, semakin sulit untuk mengikuti ideal tradisional. Pria yang dikutip tadi mengatakan bahwa jadi orang baik dan melakukan hal-hal yang baik membuat orang bahagia. Dia bertanya-tanya akankah anak muda  jaman sekarang mampu merasa demikian tentang diri mereka sendiri. Seiring dengan semakin melebarnya jarak antara perilaku aktual dan perilaku ideal, konsep diri orang kemungkinan besar berubah (Klausner). Beberapa warga melaporkan bahwa kejujuran dan integritas komunitas sekarang lebih ditekankan daripada sebelumnya. Berdasarkan gagasan Klausner tadi, sementara warga ditarik menjauhi ideal kultural mereka,  kemungkinan akan timbul ketegangan yang lebih besar seputar kejujuran dan integritas—dua sifat yang sekarang sangat dihargai. Banyak mekanisme desa dibangun di atas persepsi setempat mengenai kejujuran dan integritas. Cara tata kelola, keadilan, dan perencanaan pembangunan tradisional lebih didasarkan pada pengolahan sifat-sifat ini oleh masing-masing individu daripada mekanisme auditing (atau checks and balances) yang lebih umum dalam sistim administratif modern. Dalam cara yang sama, perawatan kesehatan tradisional lebih terfokus pada pengobatan preventif ketimbang yang kuratif, demikian pula cara pengorganisasian komunitas secara tradisional lebih terfokus pada metode preventif dibanding yang kuratif.  Contohnya, ketika tingkat korupsi yang sangat rendah ditemukan dalam sebuah toko koperasi, warga lebih memilih mendiskusikan cara untuk memengaruhi orang-orang yang bertanggung jawab atas pelanggaran itu daripada menggunakan metode auditing dan penghukuman. Diharapkan semoga orang-orang itu memahami sifat dasar dan konsekuensi tindakan mereka dan mengubah perilaku mereka. Semoga saja mereka tidak akan melakukannya lagi dan korupsi pun terhindar tanpa terjadi penghukuman atau pengecaman secara terbuka—sehingga hubungan komunal tetap terpelihara.
Warga merasa budaya setempat sangat penting. Tapi kebanyakan warga tidak minta melestarikan cara-cara tradisional ini dengan cara membekukannya ke dalam waktu. Yang terjadi justru adalah banyak warga menimba dari cara-cara budaya mereka untuk memetakan tujuan dan proses pembangunan. Cara-cara tradisional ini,  klaim warga, tidak ketinggalan jaman. Cara-cara ini harus dimanfaatkan dan diadaptasikan agar memungkinkan komunitas menyetir masa depannya.  (Bersambung)


Open multiple messages at once with the all new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke