Dear All,
Sekuntum teratai untuk Anda semua, para calon Buddha.

Berikut ada sebuah cerita Zen yang menarik..Silakan baca dan silakan jika ada yang mau menanggapi..:)

=========================================================
Berdialog untuk Menginap
Bhikshu siapa saja yang dapat menang berdebat mengenai ajaran Buddha dengan mereka yang tinggal di kuil Zen, diperbolehkan tinggal di kuil tersebut. Jika kalah, ia harus pergi.

Di sebuah kuil di bagian utara Jepang, dua bhikshu kakak beradik tinggal bersama. Bhikshu yang lebih tua sangat terpelajar, tetapi bhikshu yang lebih muda, sangat bodoh dan hanya punya satu mata.

Seorang bhikshu pengelana singgah dan minta diperbolehkan tinggal di sana, dengan santun ia lalu menantang mereka berdebat mengenai ajaran mulia. Karena bhikshu yang tua hari itu sedang kelelahan karena banyak belajar, ia menyuruh bhikshu yang muda untuk menggantikannya. "Pergilah dan lakukan dialog tanpa suara,"suruhnya.

Maka bhikshu muda dan bhikshu asing itu pergi menuju altar dan duduk bersama.

Tak lama kemudian sang pengelana berdiri dan masuk menemui kakak bhikshu itu lalu berkata: "Adik Anda benar-benar luar biasa. Ia mengalahkan saya."

"Ceritakan dialog kalian," kata bhikshu tua itu.

"Begini," jelas pengelana itu, "pertama, kuacungkan satu jari, yang maksudnya Buddha, Yang Tercerahkan. Lalu ia mengacungkan dua jari yang maksudnya Buddha dan Dharma. Lalu kuacungkan tiga jari yang maksudnya Buddha, Dharma, dan Sangha, yang hidup dalam harmoni. Kemudian ia melayangkan tinjunya tepat ke wajahku., yang menunjukkan bahwa ketiganya bermula dari satu realisasi. Jadi ia menang, dan dengan demikian saya tak berhak untuk tinggal di sini." Bhikshu pengelana itu pun segera berlalu.

"Pergi ke mana dia?" tanya bhikshu yang muda, sambil terburu-buru menemui kakaknya.

"Aku dengar kamu sudah mengalahkannya."

"Belum, aku justru mau mengalahkannya."

"Ceritakan," pinta sang kakak.

"Ingin tahu kenapa, waktu dia melihatku, dia mengacungkan satu jari, dia menghinaku karena aku hanya punya satu mata. Karena dia itu tamu, aku masih bisa sopan, jadi aku mengacungkan dua jari maksudnya ikut bersyukur dia punya dua mata. Kemudian orang tak sopan itu malah mengacungkan tiga jarinya maksudnya di antara kami hanya ada tiga mata, Jadi aku marah sekali dan meninjunya, tapi dia malah kabur dan dialognya bubar."


Dikutip dari "101 Koan Zen".
==================================================

- Setelah teman-teman membacanya, ada suatu pendapat ga mengenai keseluruhan acara ini?
- Adakah suatu pelajaran yang dapat kita petik?
- Jika kita ingin menghubungkan cerita Zen ini dengan teori dalam ajaran Buddha, kira-kira bagian mana?
- apakah ada sesuatu yang bisa kita terapkan dalam hidup kita sehubungan dengan cerita Zen ini?

Kalau ada,silakan share bersama.
Disini kita belajar, berlatih dan berbagi hidup berkesadaran..  :)

Terimakasih sebelumnya..

metta,
Julie



Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke